Misi SMILE Diluncurkan untuk Selidiki Cara Bumi Bertahan dari Badai Matahari

May 21, 2026

3 menit teks

Wahana antariksa hasil kerja sama Eropa dan Tiongkok siap diluncurkan hari Selasa untuk mengungkap misteri: apa sih yang sebenarnya terjadi kalau angin super kencang dan ledakan plasma raksasa dari Matahari membentur perisai magnetik Bumi kita?

Badai Matahari yang super ganas nggak cuma bisa melumpuhkan satelit dan mengancam keselamatan astronot, tapi juga bisa menciptakan aurora yang cantik berwarna-warni di langit wilayah utara dan selatan.

Buat makin paham soal “cuaca antariksa” yang masih jadi teka-teki ini, wahana antariksa seukuran mobil van bernama SMILE punya misi khusus: melakukan pengamatan medan magnetik Bumi lewat sinar-X untuk pertama kalinya!

Wahana ini dijadwalkan meluncur pakai roket Vega-C pada pukul 03:52 GMT hari Selasa dari bandar antariksa Eropa di Kourou, Guyana Prancis (pantai timur laut Amerika Selatan).

Rencananya, peluncuran ini mau dilakukan pada 9 April, tapi ditunda karena ada masalah teknis.

SMILE (singkatan dari Solar Wind Magnetosphere Ionosphere Link Explorer) adalah misi gabungan antara Badan Antariksa Eropa (ESA) dan Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok.

“Yang pengen kita pelajari lewat SMILE itu hubungan antara Bumi dan Matahari,” jelas Philippe Escoubet, salah satu ilmuwan ESA di proyek ini, seperti dikutip dari laporan resmi.

Roket Vega-C yang akan meluncurkan SMILE ke luar angkasa. (Badan Antariksa Eropa)

Inilah Sang Matahari

Angin Matahari itu sebenarnya aliran partikel bermuatan yang disemburkan Matahari. Terkadang, angin ini berubah jadi badai raksasa akibat ledakan plasma masif yang disebut coronal mass ejections (CME).

Melesat dengan kecepatan sekitar dua juta kilometer per jam, ledakan kuat ini cuma butuh waktu satu atau dua hari buat nyampe ke Bumi.

Saat nyampe, medan magnetik Bumi otomatis jadi perisai pelindung yang membelokkan sebagian besar partikel bermuatan itu.

Tapi, saat kejadian yang super intens, beberapa partikel bisa tembus ke atmosfer kita dan berpotensi merusak jaringan listrik atau jaringan komunikasi.

Sisi baiknya, partikel ini juga menciptakan aurora yang memukau, yang sering kita sebut sebagai cahaya utara atau selatan.

Aurora hijau yang memukau di atas lautan
Aurora yang terlihat di Norwegia. (Johannes Groll/Unsplash)

Catatan sejarah menunjukkan, badai geomagnetik paling mengerikan terjadi di tahun 1859. Waktu itu, aurora yang cerah bahkan terlihat hingga ke selatan Panama—dan operator telegraf di seluruh dunia sempat kena setrum!

Di era modern ini, angin Matahari juga jadi ancaman serius buat satelit yang mengorbit Bumi, serta astronot yang bertugas di stasiun antariksa.

Makanya, ilmuwan pengen banget makin dalam belajar soal cuaca antariksa, biar kita semua bisa memprediksi dan bersiap-siap menghadapi badai besar di masa depan.

Buat mewujudkan hal ini, misi SMILE akan mendeteksi sinar-X yang dipancarkan saat partikel bermuatan dari Matahari berinteraksi dengan partikel netral di atmosfer atas Bumi.

Bedanya di Kutub

Wahana antariksa ini akan ngamatin fenomena tersebut dari beberapa titik penting, salah satunya magnetopause—yaitu area di mana perisai magnetik membelokkan partikel dari Matahari.

Wahana ini juga akan terbang di atas kutub Bumi, tempat di mana foton sinar-X bisa terlihat. Ini dijelaskan oleh Dimitra Koutroumpa dari institut CNRS Prancis yang ikut bekerja di misi ini.

Nanti hari Selasa, wahana ini akan ditempatkan di ketinggian 700 kilometer dari Bumi sebelum akhirnya meluncur ke orbit yang bentuknya sangat elips.

Berlangganan buletin gratis dan tersertifikasi dari ScienceAlert

Saat terbang di atas Kutub Selatan, SMILE akan berada di ketinggian 5.000 kilometer. Dari situ, ia akan mengirim data ke stasiun riset di Antartika yang bernama Bernardo O’Higgins.

Tapi, saat melintasi Kutub Utara, wahana ini akan mengorbit di ketinggian 121.000 kilometer dari Bumi. Jarak sejauh ini sengaja diambil biar bisa punya pandangan yang lebih luas selama periode waktu yang lebih lama.

Hal ini bakal memungkinkan misi SMILE buat “mengamati aurora utara secara non-stop selama 45 jam berturut-turut untuk pertama kalinya”, kata ESA.

Komik ESA yang menunjukkan persiapan peluncuran Inspector SMILE
Bab 3 dari komik ‘Inspector Smile’ menunjukkan misi gabungan Eropa-Tiongkok ini tiba di Bandar Antariksa Eropa di Guyana Prancis setelah dua minggu berlayar. (Badan Antariksa Eropa)

Wahana ini dilengkapi dengan empat instrumen ilmiah: pemindai sinar-X buatan Inggris, serta pemindai UV, penganalisis ion, dan magnetometer yang semuanya dibuat oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok.

Terkait: Astronom Baru Saja Pecahkan Rekor Mengamati Wilayah Paling Ekstrem di Matahari

SMILE diprediksi bakal mulai kumpul data cuma satu jam setelah berhasil masuk ke orbitnya.

Misi ini dirancang untuk berjalan selama tiga tahun, tapi bisa aja diperpanjang kalau semuanya berjalan lancar.

© Agence France-Presse

(KoranPost)

Sumber: www.sciencealert.com
https://www.sciencealert.com/watch-a-spacecraft-is-launching-to-study-how-earth-survives-solar-storms

Share this post

May 21, 2026

Copy Title and Content
Content has been copied.

Teruskan membaca

Berikutnya

KoranPost

Administrator WhatsApp

Salam 👋 Apakah ada yang bisa kami bantu?