Temuan Teleskop JWST: Ilmuwan Temukan Lubang Hitam Purba yang Melawan Hukum Astrofisika

May 29, 2026

2 menit teks

Di masa depan, para ilmuwan terus berlomba untuk memahami rahasia di balik lubang hitam supermasif (SMBH). Meskipun kita belum tahu pasti kapan garis finisnya atau apa hasil akhirnya, para astrofisikawan terus maju dengan optimis bahwa setiap penemuan baru membawa kita semakin dekat ke jawaban.

Berkat bantuan teleskop luar angkasa JWST, peneliti baru saja menemukan lubang hitam supermasif dengan massa 50 juta kali massa Matahari yang sepertinya sudah ada bahkan sebelum galaksi induknya terbentuk. Penemuan ini benar-benar menantang semua teori yang selama ini kita yakini tentang lubang hitam.

Gambar JWST NIRCam ini menunjukkan Abell2744-QSO1, sebuah objek “Little Red Dot” (LRD) yang ditemukan oleh JWST. Objek ini diperbesar dan terlihat tiga kali lipat karena efek lensa gravitasi dari gugus galaksi Abell 2744.

Sebelumnya, para ahli mengira pertumbuhan lubang hitam supermasif itu polanya sederhana: sebuah bintang raksasa di dalam galaksi meledak dan runtuh menjadi lubang hitam di akhir hidupnya. Lubang hitam ini kemudian tumbuh dengan cara menyerap material di sekitarnya dan bergabung dengan lubang hitam lain. Seiring berjalannya waktu, galaksi pun ikut bergabung, membuat lubang hitam di dalamnya menjadi semakin besar hingga mencapai miliaran massa matahari.

Dulu, kita merasa cukup paham dengan alur ini. Tapi sekarang, JWST menemukan lubang hitam yang “lahir” lebih dulu daripada galaksinya sendiri. Hal ini memunculkan banyak pertanyaan baru yang harus segera dijawab.

“Ini temuan yang luar biasa. Ini adalah perubahan paradigma, sebuah evaluasi total terhadap skenario klasik tentang bagaimana lubang hitam terbentuk dan tumbuh,” ujar Roberto Maiolino dari Kavli Institute.

Penemuan ini dipublikasikan dalam dua jurnal ilmiah. Pertama di jurnal Nature oleh tim yang dipimpin Ignas Juodžbalis, dan kedua di Monthly Notices of the Royal Astronomical Society oleh tim yang dipimpin Roberto Maiolino. Keduanya berasal dari Kavli Institute for Cosmology, Universitas Cambridge.

Temuan ini berasal dari pengamatan terhadap Abell2744-QSO1, sebuah objek yang disebut “Little Red Dot” (LRD) yang muncul hanya 700 juta tahun setelah peristiwa Big Bang. Meskipun ukurannya kecil, hanya sekitar 1.300 tahun cahaya, objek ini bisa diamati dengan detail karena efek lensa gravitasi dari gugus galaksi Abell 2744 (dikenal juga sebagai Pandora’s Cluster) yang memperbesar tampilannya.

Sebelumnya, pengukuran massa lubang hitam di alam semesta awal selalu bersifat tidak langsung, alias hanya berdasarkan asumsi dari apa yang kita lihat di galaksi sekitar kita. “Kami tidak tahu apakah asumsi itu benar-benar berlaku untuk alam semesta yang jauh,” jelas Francesco D’Eugenio, salah satu peneliti dari tim Cambridge.

Setelah menggunakan instrumen canggih pada JWST, peneliti menemukan bahwa lubang hitam tersebut memiliki massa 50 juta kali massa Matahari—jauh lebih besar dari perkiraan awal. Yang lebih mengejutkan, lubang hitam ini memakan porsi yang sangat besar dari total massa galaksinya. Ini adalah kondisi yang tidak lazim jika dibandingkan dengan galaksi-galaksi yang ada di dekat kita saat ini.

Singkatnya, penemuan ini membuktikan bahwa lubang hitam tidak tumbuh dengan cara yang rapi dan teratur seperti yang dulu dibayangkan para astrofisikawan. Alam semesta ternyata jauh lebih misterius dari yang kita duga.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh Universe Today. Baca artikel aslinya di sini.

(KoranPost)

Sumber: www.sciencealert.com
https://www.sciencealert.com/scientists-found-a-black-hole-that-breaks-the-rules-of-astrophysics

Share this post

May 29, 2026

Copy Title and Content
Content has been copied.

Teruskan membaca

Berikutnya

KoranPost

Administrator WhatsApp

Salam 👋 Apakah ada yang bisa kami bantu?