Tanda Fisik Tersembunyi Demensia pada Anjing: Langkah Kaki Depan yang Memendek Menurut Studi Terbaru

June 25, 2026

3 menit teks

Demensia nggak cuma dialami manusia, anjing juga bisa kena. Meski istilahnya berbeda, dampaknya sama menyayat hati buat pemilik yang sayang sama hewan peliharaannya.

Kondisi ini dikenal sebagai cognitive dysfunction syndrome atau disfungsi kognitif anjing. Diperkirakan sekitar 60 persen anjing berusia di atas 11 tahun mengalaminya.

Membedakan disfungsi kognitif anjing (CDS) dari penuaan normal memang nggak mudah. Tandanya bisa berupa perubahan pola tidur, perilaku sosial, kebingungan, atau bahkan tersesat di tempat yang seharusnya sudah akrab.

Nah, sebuah studi baru yang dipimpin oleh peneliti dari North Carolina State University menemukan satu tanda fisik spesifik yang bisa jadi penanda demensia pada anjing: perubahan panjang langkah kaki depan (kaki toraks).

Tapi ingat, studi ini bukan berarti panjang langkah kaki bisa langsung mendiagnosis demensia anjing. Ada faktor lain yang juga memengaruhi cara berjalan, misalnya nyeri kronis.

Meski begitu, temuan ini menunjukkan bahwa panjang langkah kaki depan bisa jadi alat ukur objektif yang berguna untuk memantau anjing yang menua, melengkapi kuesioner kognitif dan pemeriksaan dokter hewan.

YouTube URL: https://www.youtube.com/watch?v=CcNZE_ZutJI

“Di sini kami tunjukkan bahwa panjang langkah kaki depan anjing berkurang seiring usia, tapi yang lebih penting, langkahnya juga memendek saat anjing mengalami penurunan kognitif,” kata Natasha Olby, dokter saraf hewan dari North Carolina State University.

“Bahkan, kami menemukan bahwa efek penurunan kognitif ini lebih besar dibandingkan efek usia itu sendiri.”

Studi ini menganalisis 88 ekor anjing senior, mencakup jantan dan betina, ras murni maupun campuran.

Untuk bisa ikut serta, anjing harus sudah mencapai setidaknya 75 persen dari harapan hidup mereka, berdasarkan ukuran dan rasnya.

Penelitian tentang demensia anjing makin berkembang, termasuk uji coba di Colorado State University yang terpisah dari studi ini. (Colorado State University)

Banyak variabel yang dianalisis. Anjing-anjing ini menjalani tes fisik, saraf, fisiologis, dan ortopedi untuk menilai berbagai hal, mulai dari penglihatan, pendengaran, mobilitas, hingga kekuatan fisik.

Untuk bagian eksperimen berjalan yang dilakukan setiap enam bulan selama beberapa tahun, anjing-anjing ini diminta berjalan di lintasan sepanjang 5 meter dengan kecepatan alami mereka—tanpa dorongan verbal atau iming-iming camilan.

Hasilnya, langkah yang lebih pendek berkaitan dengan skor tes kognitif yang lebih rendah, bahkan setelah memperhitungkan faktor usia dan kondisi kronis. Tapi, ini hanya berlaku untuk kaki depan.

“Menarik sekali melihat bahwa penurunan kognitif memengaruhi kaki depan dan kaki belakang secara berbeda,” kata Olby.

“Pada anjing, kaki belakang berperan penting untuk mendorong tubuh maju, sementara kaki depan juga bertugas mengubah arah dan mengerem.”

Berlangganan newsletter ScienceAlert yang gratis dan sudah terverifikasi fakta

Berjalan mulus ternyata bukan cuma soal otot dan sendi. Proses ini juga bergantung pada kemampuan otak mengintegrasikan informasi sensorik, merencanakan gerakan, dan mengoordinasikan tubuh.

Korteks serebral mengintegrasikan lebih banyak informasi sensorik ke dalam sirkuit saraf yang menghasilkan langkah di kaki depan, sehingga hilangnya integrasi sensorimotor tingkat tinggi memengaruhinya secara berbeda,” jelas Olby.

Mengamati perubahan pola jalan anjing di antara kunjungan ke dokter hewan—atau bahkan dari hari ke hari di rumah—bisa jadi indikator yang berguna untuk mendeteksi demensia anjing.

Ini nggak butuh alat khusus, cukup mata yang jeli. Meski memendeknya langkah kaki depan bukan jaminan pasti bahwa anjingmu mengalami demensia, ini bisa jadi tanda yang layak diperiksakan ke profesional.

“Temuan ini mendukung penggunaan panjang langkah kaki toraks sebagai ukuran mobilitas fungsional yang objektif dan skalabel, yang mencerminkan perubahan terkait penurunan kognitif, dan bisa menjadi alat yang berguna untuk riset serta pemantauan klinis penuaan pada anjing,” tulis para peneliti di makalah yang sudah terbit.

Bukan nggak mungkin, wawasan baru tentang CDS ini juga bisa membantu penelitian demensia pada manusia.

Studi menunjukkan bahwa orang dengan Alzheimer yang lebih lanjut cenderung berjalan lebih lambat dan punya langkah lebih pendek dibandingkan mereka yang gangguan kognitifnya lebih ringan.

Terkait: Satu Tahap Tidur Ini Tampaknya Krusial untuk Menurunkan Risiko Demensia

Untuk anjing, para peneliti ingin menguji pengukuran dan kesimpulan ini pada kelompok anjing yang lebih besar, dengan rentang usia yang lebih luas, dan dengan kondisi kesehatan yang lebih beragam.

“Kalau pemilik melihat langkah kaki depan anjingnya makin pendek, sebaiknya segera ke dokter hewan, karena ada kemungkinan penyebab lain seperti nyeri artritis atau masalah leher yang sebenarnya bisa diobati,” kata Olby.

“Kalau diagnosis penurunan kognitif sudah ditegakkan, ada beberapa intervensi gaya hidup yang bisa dilakukan, meskipun saat ini belum ada obatnya.”

Penelitian ini sudah dipublikasikan di Frontiers in Veterinary Science.

(KoranPost)

Sumber: www.sciencealert.com
https://www.sciencealert.com/the-subtle-physical-clue-that-could-indicate-your-dog-has-dementia

Share this post

June 25, 2026

Copy Title and Content
Content has been copied.

Teruskan membaca

Berikutnya

KoranPost

Administrator WhatsApp

Salam 👋 Apakah ada yang bisa kami bantu?