Pencairan Es Antartika Picu Kebocoran Merkuri Beracun yang Ancam Ekosistem Laut Global

August 11, 2026

3 menit teks

Selama 200 tahun terakhir, Antartika ternyata diam-diam menyerap segudang polusi merkuri, meskipun manusia sudah berusaha menjaga benua beku ini tetap murni dan tak tersentuh.

Sebenarnya, merkuri bisa lepas ke alam secara alami lewat letusan gunung berapi dan pelapukan batuan. Tapi sejak manusia mulai gencar membakar bahan bakar fosil dan menambang besar-besaran, kadar merkuri di lingkungan langsung melonjak drastis.

Selama ini, Antartika berperan sebagai semacam ‘spons raksasa’ penyerap merkuri—menyimpan polusi dalam jumlah besar di lapisan esnya.

Itu mungkin ikut membantu mengurangi jumlah merkuri yang masuk ke rantai makanan laut (dan ke hidangan seafood kita).

Sayangnya, industri-industri berat yang melepaskan merkuri ke lingkungan juga memuntahkan gas rumah kaca ke atmosfer yang bikin es di Antartika mencair.

Dan seiring mencairnya Antartika, ia mulai ‘membocorkan’ semua merkuri warisan masa lalu itu ke lautan.

Sebuah tim yang dipimpin oleh ilmuwan lingkungan Chengzhen Zhou dari Peking University, China, baru saja menerbitkan studi di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences yang menggambarkan situasi ini.

Dengan memakai sampel inti sedimen yang dikumpulkan di sekitar Semenanjung Antartika (wilayah benua itu yang esnya paling cepat mencair), para peneliti menemukan sebuah pola yang cukup mengkhawatirkan.

Meski terasa sangat jauh dari sumber emisi merkuri industri, landas kontinen Semenanjung Antartika mengakumulasi merkuri dengan laju dua kali lipat dari rata-rata global.

Tingkat akumulasi merkuri di Semenanjung Antartika telah melonjak 160 persen sejak era industrialisasi dimulai pada pertengahan 1800-an.

Salah satu rute utama merkuri mencapai Antartika dari tempat yang jauh adalah lewat atmosfer, lalu diserap oleh air laut, dan bisa terlepas kembali ke atmosfer. Proses ini dikenal sebagai ‘loop atmosfer-lautan.’

Tapi riset menunjukkan bahwa percepatan merkuri di Antartika juga datang dari dalam benua itu sendiri. Pencairan es dan erosi mengaktifkan apa yang oleh para peneliti disebut sebagai ‘loop atmosfer-gletser-darat-lautan’—bisa kamu lihat sendiri di bagan di bawah ini.

Loop inilah yang memobilisasi kembali merkuri yang selama ini terkurung dalam es.

“Gabungan kedua loop ini telah meningkatkan pelepasan merkuri daratan yang didorong oleh pencairan es hingga 550 persen, dan pertukaran udara–laut sebesar 350 persen,” tulis Zhou dan timnya dalam makalah mereka.

“Jadi, pemanasan iklim tengah mengubah reservoir merkuri historis yang besar di Antartika menjadi sumber polusi sekunder yang aktif, memperkuat risiko polusi merkuri di kutub.”

Fluks utama merkuri (Hg) untuk periode pra-industri (1800-an, Mg y−1) dan periode modern (2000-an, Mg y−1), mencakup deposisi atmosfer, pertukaran udara-laut, masukan kriosfer dan daratan, proses sedimen laut, serta ekspor arus laut. (Zhou et al., PNAS, 2026)

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kini menggolongkan merkuri sebagai salah satu dari 10 bahan kimia paling berisiko bagi kesehatan publik, sebab bahkan pada kadar rendah pun zat ini sudah beracun.

Sebuah studi sebelumnya berdasarkan data dari 2012 menemukan bakteri di es laut Antartika mampu mengubah merkuri menjadi metilmerkuri—sejenis racun saraf kuat yang bisa terakumulasi dalam tubuh makhluk laut.

Bentuk merkuri inilah yang membuat temuan baru ini sangat mengkhawatirkan.

“Penyuburan dan siklus merkuri yang semakin cepat di Antartika bisa meningkatkan risiko bagi ekosistem di sana,” tulis Zhou dan tim dalam laporan mereka.

“Rantai makanan di Samudra Selatan—dari diatom, krill, ikan, hingga predator puncak—sangat sensitif terhadap metilmerkuri. Pengamatan terkini menunjukkan kadar merkuri pada spesies Antartika seperti ikan toothfish Antartika, marlin, dan hiu sering kali melampaui rekor sebelumnya dan juga batas keamanan pangan.”

Dan bukan cuma perairan Antartika yang bisa kena dampaknya.


Subscribe ScienceAlert newsletter

Ekspor merkuri dari Semenanjung Antartika menuju laut lepas melalui arus telah melonjak sampai 400 persen, menandakan kontaminasi merkuri ini bisa menyebar lebih luas lagi.

“Jika laut-laut marginal lainnya di Samudra Selatan telah mengalami pengayaan merkuri pasca-industri yang sebanding dengan yang teramati di landas kontinen Semenanjung Antartika, maka ancaman potensial kontaminasi merkuri terhadap ekosistem dan perikanan bisa semakin berlipat ganda,” tambah para penulis dalam risetnya.

Terkait: Ilmuwan Ungkap Wujud Antartika Jika Seluruh Esnya Hilang

Memang suram kelihatannya. Tapi karena masalah ini jelas punya kaitan dengan aktivitas manusia, sebetulnya kita masih punya kesempatan untuk bertindak.

Yang perlu kita lakukan hanyalah berhenti membakar bahan bakar fosil. Simpel, kan?

Penelitian ini diterbitkan di PNAS.

Artikel ini sudah melalui pengecekan fakta oleh Michael Irving dan disunting oleh Michael Irving. Walau kami bangga dengan proses kerja kami, kami tetap manusia biasa. Jika kamu menemukan kesalahan, tolong beri tahu kami.

(KoranPost)

Sumber: www.sciencealert.com
https://www.sciencealert.com/as-ice-melts-antarctica-is-leaking-mercury-into-the-ocean

Share this post

August 11, 2026

Copy Title and Content
Content has been copied.

Teruskan membaca

Berikutnya

KoranPost

Administrator WhatsApp

Salam 👋 Apakah ada yang bisa kami bantu?