Jakarta, NU Online
“Guru kembar”, begitu masyarakat menyebutnya. Mereka adalah sosok pendidik yang meski sudah tua tetap menyediakan tempat belajar untuk anak-anak dari keluarga miskin. Di bawah Tol Ancol Timur, Jakarta Utara, ada sebuah bangunan sederhana di atas tanah pinjaman PT KAI yang menjadi bukti nyata usaha mereka memberikan akses pendidikan yang layak.
Di tengah hiruk pikuk Jakarta, anak-anak berseragam biru-putih menjalani hari-hari mereka belajar. Ada yang duduk rapi membaca buku, ada yang mengobrol, dan ada juga yang menunggu makan siang sambil memegang wadah. Suasana sederhana ini dikelilingi oleh aliran selokan yang mengalir pelan saat hujan turun.
Di sisi tembok, terpasang spanduk merah yang sudah tua bertuliskan “Sekolah Darurat Kartini, Ibu Guru Kembar, Gratis”. Spanduk ini menandakan bahwa pendidikan tidak selalu datang dari gedung yang sempurna, melainkan dari tekad yang kuat dan tidak mudah patah.
Sebutan “guru kembar” merujuk pada Sri Rossyati dan Sri Irianingsih. Mereka berdua mengabdi dengan semangat seperti R.A. Kartini, bukan lewat menulis surat, tapi lewat kapur tulis, kesabaran, dan ruang belajar yang sederhana.
Di tempat itu, harapan terus dirawat. Anak-anak datang dengan berbagai keterbatasan, memakai sepatu yang sudah rusak, kaki berdebu, dan hidup dalam kesulitan. Namun, mereka tetap duduk rapi dan belajar mengeja masa depan mereka.
Bagi Rossy dan Rian, mengajar bukan hanya sekadar kegiatan, melainkan panggilan hidup. Mereka bertahan ketika tempat belajar digusur dan tetap membuka kelas meski tidak selalu ada atap pelindung.
Rossy adalah lulusan Psikologi Universitas Airlangga di Surabaya, sedangkan Rian lulusan Fakultas Bahasa IKIP Semarang yang kini bernama Universitas Negeri Semarang (Unnes).
Semuanya bermula dari kejadian tak terduga di kawasan Pluit. Saat terjadi tawuran, mobil yang mereka kendarai berbelok ke area bawah tol. Di sana, mereka melihat banyak anak yang tidak bersekolah.
“Awalnya saya hanya bilang, ‘besok sekolah ya’. Ternyata besoknya sudah ada sekitar 150 anak,” kenang Rossy.
Pada saat itu, fasilitas hampir tidak ada. Mereka hanya membawa papan tulis, spidol, buku, pensil, serta roti dan susu untuk anak-anak. “Kami tidak punya bangku. Tapi mereka tetap datang,” ujarnya.
Sekolah Darurat Kartini yang didirikan sejak 1990 kini sudah berusia 36 tahun. Sekolah ini memiliki jenjang dari PAUD hingga SMA, meski ruangannya terbatas dan dipakai untuk banyak kebutuhan, seperti kelas, dapur, hingga ruang makan.

Bagi mereka, alasan mendirikan sekolah ini sangat sederhana: yaitu memberi kesempatan bagi anak-anak yang tidak mampu. “Kami memberi makan, pakaian, sepatu, alat tulis, tas, hingga rekreasi. Semua kami tanggung,” katanya.
Perjalanan sekolah ini tidaklah mudah. Mereka sudah lima kali digusur dan harus pindah dari satu tempat kosong ke tempat lain demi mempertahankan pendidikan di tengah keterbatasan.
Hingga akhirnya, pada tahun 2013, bantuan datang. Sekolah ini diresmikan oleh Kapolda Metro Jaya saat itu, Irjen Pol. Putut Eko Bayuseno, bersama Direktur Utama PT KAI Ignasius Jonan, yang memberikan lahan untuk dijadikan sekolah.
Kini, seiring adanya berbagai program pemerintah seperti bantuan pendidikan, peran sekolah ini terus menyesuaikan diri. Guru kembar membuat konsep maternal love academy, yaitu pendidikan yang tidak hanya fokus pada anak, tetapi juga memberdayakan keluarga, terutama para ibu.

Di sekolah ini, anak-anak tidak hanya belajar pelajaran sekolah, tetapi juga keterampilan hidup seperti memasak, menjahit, dan keterampilan kerja lainnya.
Namun, ada satu hal yang tidak mereka lakukan, yaitu menjadikan anak-anak sebagai pekerja. “Kami membekali ilmu, bukan menjual keterampilan. Pendidikan harus disertai nilai moral,” tegasnya.
Usaha mereka mendapat perhatian dari dunia internasional. Sekolah Darurat Kartini sudah dikunjungi dan diapresiasi oleh berbagai pihak dari lebih 27 negara, termasuk Jepang, Amerika, dan lembaga internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Meskipun begitu, tantangan masih ada. Banyak anak yang belum memiliki akta kelahiran, sehingga secara administrasi mereka hampir “tidak terlihat”. “Baru sekarang ada pendataan untuk akta kelahiran,” ujarnya.
Bagi orang tua seperti Dewi Atika (41), sekolah ini sangat membantu. Ia menaruh ketiga anaknya untuk belajar di tempat ini. “Di sini banyak kegiatan, anak jadi mengerti banyak hal. Semuanya juga gratis,” katanya.
Salah satu anaknya, Muhammad Fathan, kini menjadi lebih mandiri, dari membantu pekerjaan rumah hingga belajar tanpa disuruh. Hal yang sama dirasakan oleh Nur Hasanah (15), seorang siswa yang rela menempuh perjalanan jauh demi belajar. “Kadang saya harus menunggu lama, bahkan pernah jalan kaki sampai dua jam,” ujarnya.
Namun, semangatnya tidak pernah padam. Ia belajar menari, memasak, sampai menjahit. “Harus tetap semangat meraih cita-cita,” katanya.
Di balik segala keterbatasan, Sekolah Darurat Kartini bukan hanya sekadar tempat belajar, melainkan ruang bagi harapan. Tempat di mana anak-anak dari pinggiran kota tetap punya kesempatan untuk bermimpi dan memperjuangkan mimpinya.
Kontributor: Nisfatul Laila
(KoranPost)
Sumber: www.nu.or.id
https://www.nu.or.id/nasional/teladan-dan-perjuangan-guru-kembar-merawat-mimpi-anak-anak-pinggiran-yW5X0















