Jakarta, NU Online
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menerima kunjungan dari Sayap Perempuan People’s Action Party (PAP) Singapura di Kantor PBNU, Jakarta, pada hari Senin (18/5/2026). Pertemuan ini membahas tentang peran perempuan, isu keluarga, hingga tantangan sosial yang dihadapi oleh Indonesia dan Singapura.
Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), menilai bahwa perempuan memiliki posisi yang sangat strategis dalam kehidupan masyarakat. Menurut Gus Yahya, meskipun kepemimpinan komunitas sering terlihat didominasi oleh laki-laki, urusan kehidupan sehari-hari justru banyak yang dijalankan oleh perempuan.
“Pengelolaan kehidupan masyarakat sehari-hari sebenarnya lebih banyak menjadi tanggung jawab perempuan,” ujar Gus Yahya.
Ia menjelaskan bahwa keterlibatan perempuan di lingkungan NU sudah berkembang sejak lama. Hal ini dimulai dari adanya forum khusus perempuan hingga akhirnya melahirkan Muslimat NU sebagai organisasi perempuan Nahdlatul Ulama.
Sementara itu, Ketua Sayap Perempuan PAP yang juga menjabat sebagai Menteri Negara Singapura, Sim Ann, menyebutkan bahwa kunjungan ke PBNU merupakan bagian dari rangkaian perjalanan studi rutin ke negara-negara tetangga. Tujuannya adalah untuk belajar dari berbagai organisasi politik maupun gerakan sosial.
“Pertama-tama saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena telah menemui kami pagi-pagi sekali,” ujarnya dalam bahasa Inggris.
Ia menjelaskan bahwa Sayap Perempuan PAP berfokus pada peningkatan partisipasi perempuan dalam politik dan isu-isu sosial. Menurutnya, keterwakilan perempuan di parlemen Singapura terus meningkat dan kini mendekati angka 30 persen tanpa harus menerapkan sistem kuota khusus.
“Jadi, Liga Perempuan di PAP didirikan pada tahun 1989, dan hal ini membuat keterwakilan anggota parlemen perempuan dari PAP di Thailand mencapai hampir 30 persen dari total kursi,” terangnya.
Menurutnya, hal ini merupakan sebuah perjalanan yang panjang bagi gerakan perempuan.
“Ini mencerminkan proses untuk mendorong lebih banyak perempuan masuk ke dunia politik. Perjalanan itu panjang dan lambat, tetapi kami telah mengalami kemajuan,” katanya.
Di sisi lain, Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Bidang Pendidikan, Kesehatan, dan Lingkungan, Sidrotun Naim, mengatakan bahwa isu keluarga menjadi salah satu perhatian bersama dalam pertemuan tersebut. Meskipun Indonesia dan Singapura memiliki konteks yang berbeda, namun keduanya menghadapi tantangan yang serupa terkait masalah keluarga dan peran perempuan.
“Ternyata soal keluarga, baik di Indonesia maupun Singapura, sama-sama menjadi tantangan saat ini. Bedanya mungkin di level dan detailnya, tapi substansinya sama,” kata Sidrotun.
Ia mengatakan bahwa kedua pihak memiliki peluang untuk saling belajar. PBNU dapat mengambil pelajaran dari beberapa praktik yang telah dilakukan oleh Singapura, sementara pengalaman NU dalam pemberdayaan masyarakat hingga ke tingkat akar rumput juga dinilai dapat menjadi rujukan.
Sidrotun juga menyinggung berbagai persoalan sosial yang saat ini banyak mendapat perhatian publik, termasuk kasus kekerasan yang muncul di lingkungan pesantren. Menurutnya, masalah tersebut perlu diselesaikan bersama-sama dan NU harus mengambil peran sebagai bagian dari solusi.
“Kalau tantangan ini ada di dunia pesantren, maka yang bisa menyelesaikan juga kalangan pesantren, termasuk Nahdlatul Ulama. Kita tidak berlepas diri, justru menjadi bagian dari solusi,” ujarnya.
Ia berharap pertemuan ini dapat memperkuat peran perempuan dalam membangun organisasi, masyarakat, dan Indonesia di masa mendatang.
Kontributor: Nisfatul Laila
(KoranPost)
Sumber: www.nu.or.id
https://www.nu.or.id/nasional/pbnu-dan-pap-women-s-wing-singapura-bahas-peran-perempuan-dan-tantangan-sosial-6kMGE















