Mobile Crisis Rescue: Solusi Respons Cepat Tanggap Kedaruratan Haji di Mina

May 29, 2026

3 menit teks

Jakarta, NU Online

Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) meningkatkan layanan perlindungan bagi jamaah haji Indonesia selama di Mina dengan menyiagakan Mobile Crisis Rescue (MCR) di kawasan Jamarat. Tim ini bertugas memberikan pertolongan pertama, melakukan evakuasi darurat, serta membantu mengurai kepadatan jamaah saat melontar jumrah di hari Tasyrik.

Juru Bicara Kemenhaj, Maria Assegaff, menyatakan bahwa MCR menjadi instrumen penting untuk memperkuat layanan di titik-titik krusial pergerakan jamaah.

“MCR atau Mobile Crisis Rescue adalah tim khusus dan posko dari Petugas Penyelenggara Ibadah Haji yang disiagakan di kawasan Jamarat, Mina. Tim ini bertugas memberikan pertolongan pertama, melakukan evakuasi darurat, dan membantu mengurai kepadatan jamaah selama puncak ibadah haji,” ujar Maria di Jakarta, Kamis (28/5/2026).

Maria menjelaskan, posko MCR ditempatkan di lokasi strategis di area Jamarat dan jalur lintasan jamaah agar petugas dapat memantau situasi secara langsung, merespons keadaan darurat dengan cepat, serta membantu jamaah yang membutuhkan penanganan segera.

“MCR dibentuk khusus untuk merespons kondisi darurat, termasuk memberikan penanganan bagi jamaah yang pingsan, tersesat, mengalami kelelahan ekstrem, hingga melakukan evakuasi bagi jamaah lanjut usia dan penyandang disabilitas,” jelasnya.

Menurut Maria, keberadaan MCR adalah upaya Kemenhaj untuk memastikan setiap situasi di lapangan ditangani dengan cepat, tepat, dan terkoordinasi. Hal ini sejalan dengan komitmen pemerintah dalam mewujudkan penyelenggaraan haji yang aman, tertib, serta ramah terhadap lansia, disabilitas, dan perempuan.

“Pelindungan jamaah adalah prioritas. Karena itu, petugas tidak hanya berada di tenda-tenda jamaah, tetapi juga disiagakan di jalur pergerakan, pos pantau, dan titik-titik yang berpotensi terjadi kepadatan. Setiap jamaah yang membutuhkan bantuan harus bisa segera ditangani,” tegas Maria.

Pada 11 Dzulhijjah 1447 H, jamaah haji Indonesia mulai melaksanakan lontar tiga jamarat, yaitu Ula, Wustha, dan Aqabah. Kemenhaj mengimbau seluruh jamaah untuk mengikuti jadwal lontar yang telah ditetapkan bagi setiap kloter dan tidak melaksanakannya di luar jadwal resmi.

Pelaksanaan lontar jumrah pada 11 Dzulhijjah dibagi menjadi dua sesi: sesi pertama pukul 17.00 hingga 24.00 waktu Arab Saudi, dan sesi kedua pada 12 Dzulhijjah pukul 00.00 hingga 04.00 waktu Arab Saudi. Waktu larangan melontar pada 11 Dzulhijjah berlaku pukul 11.00 hingga 18.00 waktu Arab Saudi.

Pada 12 Dzulhijjah, jadwal lontar jumrah dibagi menjadi dua sesi, yakni pukul 05.00 hingga 10.30 waktu Arab Saudi dan pukul 18.00 hingga 24.00 waktu Arab Saudi. Waktu larangan melontar pada 12 Dzulhijjah berlaku pukul 11.00 hingga 14.00 waktu Arab Saudi.

Sementara itu, pada 13 Dzulhijjah, lontar jumrah dijadwalkan pukul 05.00 hingga 12.00 waktu Arab Saudi, tanpa ada waktu larangan khusus dalam jadwal resmi.

Maria mengingatkan agar jamaah tidak memaksakan diri dan tidak berangkat sendirian menuju Jamarat. Seluruh pergerakan harus dilakukan secara berkelompok, didampingi petugas, serta mengikuti arahan ketua kloter, ketua rombongan, ketua regu, sektor, dan pembimbing ibadah.

“Kami mengimbau jamaah untuk tidak terburu-buru dan tidak memaksakan diri. Ikuti jadwal, gunakan jalur resmi, dan jangan memisahkan diri dari rombongan. Keselamatan jamaah harus menjadi perhatian bersama,” kata Maria.

Kemenhaj juga meminta jamaah memperhatikan waktu larangan melontar untuk menghindari cuaca panas dan kepadatan di kawasan Jamarat. Pada waktu larangan tersebut, jamaah diminta tetap berada di tenda, menjaga kondisi fisik, rutin minum air putih, dan menunggu arahan petugas.

Untuk memperkuat layanan selama fase di Mina, Kemenhaj menyiagakan 1.356 Petugas Satgas Mina di berbagai titik pantau, jalur pergerakan, pos rute Jamarat, pos MCR, serta pos koordinator tanazul.

Pos pantau Satgas Mina tersebar di titik strategis seperti Jalan 616, Jalan 533, depan Mina Al-Wadi Hospital, Jalan 627, bawah Jalan Abdullah bin Abdul Aziz, gawang Terowongan Muaisim Turki, depan syarikah, serta pos pengarah menuju Jamarat dan pos pemantauan arus kepulangan jamaah.

Pos-pos tersebut bertugas mengarahkan pejalan kaki, membantu pengaturan arus, mengantisipasi kepadatan, serta memastikan jamaah yang kembali dari Jamarat tetap berada di jalur yang aman tanpa menggunakan jalan pintas yang berisiko.

Maria menambahkan, karena cuaca di Mina cukup panas, jamaah diminta menjaga kesehatan, makan secara teratur, memakai pelindung kepala di luar tenda, dan membatasi aktivitas fisik yang tidak perlu.

“Kami meminta ketua kloter, ketua rombongan, ketua regu, dan sesama jamaah untuk memberikan perhatian lebih kepada jamaah lansia, disabilitas, perempuan, dan jamaah dengan risiko kesehatan tinggi. Jika ada jamaah yang terlihat kelelahan, kebingungan, terpisah dari rombongan, atau sakit, segera laporkan kepada petugas terdekat,” ujar Maria.

Kemenhaj memastikan seluruh layanan selama fase Mina—mulai dari transportasi, akomodasi, konsumsi, kesehatan, bimbingan ibadah, hingga perlindungan jamaah—terus ditingkatkan hingga seluruh rangkaian Armuzna selesai.

“Kami mengajak seluruh jamaah untuk menjaga kekompakan, saling membantu, saling mengingatkan, dan saling menjaga. Semangat gotong royong dan ukhuwah menjadi bagian penting dalam mewujudkan ibadah haji yang aman, tertib, nyaman, dan penuh keberkahan,” tutup Maria.

(KoranPost)

Sumber: www.nu.or.id
https://www.nu.or.id/nasional/mobile-crisis-rescue-respons-cepat-tanggap-kedaruratan-kemenhaj-di-mina-q8BuA

Share this post

May 29, 2026

Copy Title and Content
Content has been copied.

Teruskan membaca

Berikutnya

KoranPost

Administrator WhatsApp

Salam 👋 Apakah ada yang bisa kami bantu?