Asal Usul Echidna Terungkap: Dari Hewan Air Jadi Penggali Darat?

May 7, 2025

3 menit teks

Analisis terbaru terhadap fosil berusia 100 juta tahun yang ditemukan di sebuah teluk berbatu di Australia menunjukkan bahwa echidna mungkin berevolusi dari nenek moyang yang hidup di air.

Ini sesuatu yang jarang terjadi! Biasanya, kita banyak menemukan mamalia darat yang berevolusi menjadi lebih suka hidup di air. Ternyata, echidna justru sebaliknya, mereka malah ‘pensiun’ dari kehidupan air.

Sejak ditemukan di awal tahun 90-an, para paleontolog sibuk memperdebatkan hewan jenis apa yang meninggalkan fosil tulang lengan ini. Mereka tahu fosil ini milik anggota ordo monotremata, yaitu mamalia yang bertelur, bukan melahirkan.

Berdasarkan bentuk luar tulangnya, ada yang berpendapat fosil ini milik nenek moyang echidna modern yang hidup di darat. Tapi ada juga yang bilang ini mungkin milik monotremata perenang yang hidup sebelum echidna dan platipus.

Ilustrasi seniman tentang Kryoryctes. (Peter Schouten)

Analisis baru pada tulang humerus kecil ini, yang dulunya milik spesies prasejarah Kryoryctes cadburyi, mendukung cerita asal-usul dari air.

“Struktur luar tulang memang bisa kamu bandingkan langsung dengan hewan serupa untuk mencari tahu hubungannya. Tapi struktur internalnya cenderung memberikan petunjuk tentang gaya hidup dan ekologinya,” ujar paleontolog Suzanne Hand dari University of New South Wales, yang memimpin penelitian ini.

“Struktur internal belum tentu memberimu informasi tentang hewan itu sendiri, tapi bisa memberitahumu tentang lingkungannya dan bagaimana dia hidup.”

Dengan menggunakan pemindai mikro-CT untuk melihat bagian dalam fosil, Hand dan timnya menemukan bahwa tulang ini memiliki dinding yang tebal dan berat, serta rongga medula yang sangat kecil (ruang kosong di dalam tulang tempat sel darah merah dan putih terbentuk).

Fossil Study Suggests Echidnas Originated From Swimming Monotremes
Tulang fosil tempat penelitian dilakukan. (Museums Victoria)

Tulang seperti ini biasa ditemukan pada mamalia semi-akuatik atau akuatik sepenuhnya, seperti berang-berang laut, duyung, dan platipus. Mirip sabuk pemberat yang dipakai penyelam untuk tetap di bawah air, ciri-ciri ini mengurangi daya apung hewan agar bisa tetap di bawah air tanpa banyak usaha.

“Mikrostruktur humerus fosil Kryoryctes lebih mirip struktur tulang internal pada platipus, di mana tulang berat mereka berfungsi seperti pemberat yang memungkinkan mereka menyelam mudah untuk mencari makan,” kata Hand.

Di darat, tulang yang padat dan berat seperti itu justru merugikan. Selain butuh lebih banyak energi untuk membawanya, tulang ini juga lebih rentan patah. Itulah kenapa ciri-ciri ini tidak ditemukan pada echidna, yang punya dinding tulang sangat tipis.

Tim juga melakukan analisis filogenetik, mencoba menempatkan posisi K. cadburyi dalam pohon keluarga mamalia dan monotremata. Hasilnya menunjukkan spesies ini memang monotremata awal, berbagi nenek moyang yang sama dengan platipus dan echidna.

Ini berita yang sangat aneh soal evolusi echidna. Ini menunjukkan nenek moyang mereka adalah monotremata perenang dan penggali yang akhirnya ‘pensiun’ dari air untuk hidup di darat. Ada beberapa petunjuk lain yang mendukung kemungkinan ini.

“Paruh platipus terkenal punya banyak reseptor yang sangat sensitif yang mendeteksi arus listrik kecil yang dihasilkan mangsa,” kata Hand.

“Dan meskipun paruh echidna punya lebih sedikit reseptor, orang menduga reseptor ini adalah sisa peninggalan nenek moyang platipus, sama seperti sisa-sisa paruh platipus yang bisa ditemukan pada embrio echidna.”

black and white illusrtations of echidna embryos, which look very much like platypus.
Gambar bersejarah embriologi echidna. (Semon, Proc. of the Med. & Nat. Sci. Soc. in Jena, 1894)

Kaki belakang echidna juga menghadap ke belakang, yang membantu mereka menggali, sama seperti platipus menggunakan kaki belakang mereka sebagai kemudi untuk mendorong diri di air. Mungkin ini sebabnya echidna kadang “lompat pulau”. Orientasi kaki ini tidak terlihat pada mamalia lain.

Mungkin echidna tidak ditinggalkan di darat oleh platipus petualang yang suka air. Mungkin echidna-lah yang memutuskan untuk menjelajah ke daratan yang tidak dikenal.

“Kita bicara tentang mamalia semi-akuatik yang meninggalkan air untuk hidup di darat. Meskipun ini kejadian yang sangat langka, kami pikir itulah yang terjadi pada echidna,” kata Hand.

Penelitian ini diterbitkan di PNAS.

(KoranPost)

Sumber: www.sciencealert.com
https://www.sciencealert.com/scientists-reveal-a-surprising-new-theory-on-where-echidnas-came-from

Share this post

May 7, 2025

Copy Title and Content
Content has been copied.

Teruskan membaca

Berikutnya

KoranPost

Administrator WhatsApp

Salam 👋 Apakah ada yang bisa kami bantu?