Asteroid 1998 SH2 yang Dilacak 27 Tahun Terungkap sebagai Komet Gelap, Ini Dampaknya bagi Bumi

August 7, 2026

4 menit teks

Tata Surya kita ini penuh dengan sisa-sisa kelahiran yang penuh kekerasan, lho.

Puing-puing kuno ini mencakup batu-batuan kecil menyedihkan yang gagal menyatu jadi benda besar, plus isi perut berbatu dari objek planet purba yang hancur lebur oleh tabrakan dahsyat yang ternyata cukup umum terjadi lebih dari 4 miliar tahun lalu.

Sampai baru-baru ini, batuan luar angkasa yang berbatu, es, atau campuran keduanya dianggap cuma punya dua tipe utama: asteroid dan komet, yang berbeda dari komposisi, orbit, kenampakan, dan aktivitasnya.

Ilustrasi fase awal Tata Surya yang kacau dan penuh tabrakan. (ETH Zurich)

Tapi sekarang, para astronom makin sering menemukan keluarga aneh hibrida asteroid-komet yang disebut ‘komet gelap,’ yang ternyata mungkin cukup umum – termasuk, dan ini agak bikin was-was, di sekitar Bumi.

Komet-komet gelap ini mungkin kelihatannya kayak asteroid, tanpa ekor yang bersinar terang.

Tapi mereka juga menunjukkan gangguan non-gravitasi, mirip komet, yang artinya ada sumber tersembunyi—kayak gas yang keluar—yang bikin mereka berakselerasi atau berubah arah.

Dalam studi baru, para astronom mengungkap bahwa asteroid dekat Bumi yang ditemukan tahun 1998 ternyata adalah komet gelap, dengan implikasi penting buat masa lalu dan masa depan Bumi.

Asteroid Dekat Bumi Ternyata Sebenarnya Komet, Menghadirkan Implikasi Besar untuk Pertahanan Planet
Ilustrasi potensi ‘komet gelap’ bernama 2016 WF9, melintas melewati Jupiter di bagian orbitnya yang menghadap Matahari. (NASA/JPL-Caltech)

Para astronom melacak orbit dari benda yang diasumsikan asteroid 1998 SH2 dari tahun 1998 sampai 2016, tapi mereka nggak mengamatinya saat dia menjalani dua orbit 4,5 tahunan berikutnya mengelilingi Matahari.

Saat dia melintas cuma berjarak 3 juta kilometer (2 juta mil) dari Bumi pada tahun 2025 di ayunan baliknya menuju Matahari – dalam jarak yang bikin merinding, 0,02 satuan astronomi – dia nggak ngambil jalur yang sudah dihitung astronom berdasarkan pengamatan mereka sebelumnya.

Jadi para astronom mempelajari pergerakannya dalam cahaya optik pakai banyak observatorium, termasuk Asteroid Terrestrial-impact Last Alert System (ATLAS) global, Teleskop Kanada-Prancis-Hawai’i (CFHT) di Hawai’i, dan dua fasilitas European Southern Observatory (ESO) di Chili.

Pengamatan ini mengungkap bahwa 1998 SH2 memang menunjukkan fitur khas komet. Ini termasuk koma redup, atau halo gas di sekitar tubuhnya, plus ekor lemah dan sempit, yang menunjukkan bahwa saat “aktivitas komet lemah, pelepasan gas bisa nggak terdeteksi selama puluhan tahun.”

Berdasarkan simulasi, para astronom menyimpulkan bahwa pergerakan non-gravitasi 1998 SH2 disebabkan oleh es yang menyublim di bawah permukaannya, bukan karena tabrakan kecil atau material yang terlempar akibat putarannya.

Penelitian ini jadi tonggak penting, karena “1998 SH2 adalah objek pertama yang aktivitas kometnya awalnya diprediksi berdasarkan gangguan non-gravitasi pada pergerakannya dan kemudian dikonfirmasi oleh data pengamatan yang ditargetkan,” jelas para peneliti menjelaskan.

Asteroid Dekat Bumi Ternyata Sebenarnya Komet, Menghadirkan Implikasi Besar untuk Pertahanan Planet
Distribusi ‘komet gelap’ yang sudah ditemukan dan jaraknya dari Matahari. (Farnocchia et al., Nat. Astron., 2026)

Secara keseluruhan, kalau komet gelap seperti ini ternyata lebih umum dari yang diperkirakan, bisa jadi mereka punya andil dalam mengirim air ke Bumi purba.

Mekanisme non-gravitasi mereka juga bisa membantu menjelaskan akselerasi aneh yang teramati pada pengunjung antarbintang ‘Oumuamua, menawarkan penjelasan yang lebih praktis (walaupun kurang seru) daripada hipotesis wahana alien.

Jadi, kayak membetulkan album foto yang isinya mungkin foto-foto yang salah label, sekarang mungkin perlu menganalisis ulang data astrometri dan mengidentifikasi asteroid-asteroid bertingkah aneh lainnya yang sebenarnya mungkin komet.

Subscribe to ScienceAlert's free fact-checked newsletter

“Studi ini menunjukkan pentingnya terus melacak objek-objek dekat Bumi,” kata Davide Farnocchia, insinyur navigasi di Pusat Studi Objek Dekat Bumi NASA di Jet Propulsion Laboratory (JPL) dan penulis utama studi ini.

Karena, kalau salah labelin sepupu yang kurang dikenal di foto reuni keluarga mungkin nggak masalah, salah labelin asteroid bisa jadi masalah besar.

Batuan luar angkasa yang bergerak nggak terduga itu cukup menyebalkan buat program pertahanan planet, yang mengandalkan prediksi pergerakan batuan luar angkasa dan menentukan komposisinya secara akurat.

Asteroid Dekat Bumi Ternyata Sebenarnya Komet, Menghadirkan Implikasi Besar untuk Pertahanan Planet
Ilustrasi skenario pertahanan planet yang semoga nggak perlu terjadi: menghalau batuan luar angkasa menuju Bumi pakai perangkat nuklir. (Sciepro/Science Photo Library/Getty Images)

“Karena pelepasan gas, pergerakan komet itu jauh lebih terganggu dibanding asteroid,” Farnocchia nambahin, jadi siapa yang bisa nebak kapan si komet yang kentut-kentut gas ini tiba-tiba nyenggol planet biru-dan-hijau kita.

Biar kebayang, meteor yang meledak di atas Chelyabinsk, Rusia tahun 2013 dengan energi setara lebih dari 30 bom atom ukurannya hampir 18 meter (60 kaki) diameternya, sementara 1998 SH2 lebarnya sekitar 380 meter, menurut estimasi baru tim ini.

Untungnya, peluang dia nabrak Bumi masih nol, meskipun setahu kita bisa aja berubah tiba-tiba. Dan objek lain yang kita anggap asteroid mungkin ternyata komet juga.

Terkait: Tabrakan Bulan 3,5 Miliar Tahun Lalu Mengisyaratkan Era Tersembunyi Tata Surya

Para astronom sudah mendeteksi lebih dari 280 asteroid yang berpotensi bahaya yang setidaknya berukuran sekitar 140 meter dan melesat dalam jarak 0,05 satuan astronomi atau 7,5 juta kilometer (4,6 juta mil) dari Bumi.

“Mendeteksi gangguan ini bisa jadi alat diagnostik penting buat pertahanan planet yang akan membantu memahami objek mana yang mungkin komet dan bukan asteroid, bagaimana orbit mereka berevolusi, dan bagaimana itu memengaruhi risiko tabrakan dengan Bumi,” Farnocchia menyimpulkan.

Penelitian ini diterbitkan di Nature Astronomy.

Artikel ini sudah diperiksa faktanya oleh Clare Watson dan disunting oleh Rebecca Dyer. Meskipun kami bangga dengan proses kami, kami cuma manusia. Kalau kamu menemukan kesalahan, tolong beri tahu kami.

(KoranPost)

Sumber: www.sciencealert.com
https://www.sciencealert.com/a-near-earth-asteroid-turned-out-to-be-an-eerie-dark-comet-with-major-implications-for-planetary-defense

Share this post

August 7, 2026

Copy Title and Content
Content has been copied.

Teruskan membaca

Berikutnya

KoranPost

Administrator WhatsApp

Salam 👋 Apakah ada yang bisa kami bantu?