Bau Apek yang Merugikan Bumi
Pernah nggak sih kamu jalan kaki melewati danau yang mengering pas musim kemarau puncak? Kalau pernah, pasti kamu familiar sama aroma nggak sedap yang menusuk hidung dari arah lumpurnya.
Nah, bau menyengat itu sebenarnya campuran dari berbagai gas yang terlepas dari tanah. Soalnya, ada segudang bahan organik—kayak campuran kotoran, alga, tanaman busuk, bangkai hewan, dan sisa-sisa penghuni kolam lainnya—yang tiba-tiba mengering.
Tapi, dalam skala yang lebih besar, fenomena ini jauh lebih mengkhawatirkan dari sekadar bau busuk biasa.
Di banyak belahan dunia, danau-danau mengering dalam skala yang begitu masif sampai-sampai para ilmuwan memperingatkan bahwa proses ini mungkin melepaskan gas rumah kaca yang jumlahnya bisa menyaingi kebiasaan kita membakar bahan bakar fosil.
Dalam studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Science, para peneliti menyebutkan bahwa Laut Aral—danau kering terbesar di dunia—telah melepaskan karbon dioksida sebesar 204 megaton (sekitar 225 juta ton AS) sejak airnya mulai menyusut drastis pada tahun 1960-an.
Tapi, kabar baiknya, mungkin belum terlambat untuk memperbaiki keadaan.
Saat ini, Laut Aral hanyalah hamparan gurun asin, lebih mirip padang tandus ketimbang lautan. Dulunya sih nggak begitu.
Ketinggian air di danau ini mulai turun drastis pas dua sungai yang jadi sumber air utamanya—Amu Darya dan Syr Darya—sengaja dialihkan airnya untuk mengairi industri kapas Uzbekistan yang lagi ngebut banget perkembangannya.
URL Video YouTube: https://www.youtube.com/watch?v=FzvEW1FHc60
Masuk ke era 1990-an, danau yang tadinya merupakan danau terbesar keempat di dunia ini sudah nggak bisa dikenali lagi bentuknya.
Sekarang, yang tersisa hanyalah gurun asin berdebu yang jadi ‘lahan tidur’ raksasa, bekas dasar danau yang membusuk di bawah terik matahari.
Studi ini memperkirakan bahwa dari tahun 1960 sampai 2022, proses penguapan laut ini telah melepaskan 204 megaton karbon dioksida ke atmosfer. Perhitungan ini didasarkan pada survei langsung di lapangan dan pengambilan sampel inti tanah di seluruh area dasar danau yang kering.
Namun, sudah ada tanda-tanda pemulihan di bagian utara. Di sana, pemerintah Kazakhstan telah memberlakukan aturan soal penggunaan air untuk memastikan Sungai Syr Darya tetap mengalir ke Laut Aral Utara.
Studi baru ini menunjukkan bahwa menghidrasi ulang seluruh cekungan Aral bisa membawa manfaat lingkungan yang luar biasa, nggak cuma buat ekosistem laut itu sendiri, tapi juga dalam skala global.
“Ada harta karbon tersembunyi di bawah Laut Aral,” ujar Rafael Marcé, seorang biokimiawan dari Spanish National Research Council.
“Kalau sedimen ini tetap terekspos, karbon akan terus terlepas ke atmosfer. Tapi kalau laut ini dialiri air lagi, karbon yang sama itu bisa berubah status dari biang keladi emisi menjadi bagian dari solusi iklim.”
Menurut perhitungan para peneliti, mengaliri kembali dasar danau yang kering bisa mencegah lepasnya sekitar 165 megaton karbon yang masih tersimpan di dalamnya.
Studi ini juga mengungkap fakta baru: hampir seperlima emisi karbon dari Laut Aral ternyata terlepas akibat angin yang menerbangkan sedimen dari dasar danau. Ini adalah faktor yang selama ini luput dari perhitungan para ahli.
“Ketika sebuah danau mengering, kita nggak cuma menghadapi masalah hidrologi, ekologi, atau sosial-ekonomi,” kata Núria Catalán, seorang ekolog dari Spanish National Research Council.
“Siklus karbon juga ikut berubah dengan cara yang sejauh ini masih jarang diperhitungkan dalam neraca iklim global.”
Sementara itu, perubahan iklim membayangi masa depan pasokan air Laut Aral.
Sungai Amu Darya dan Syr Darya kan bersumber dari lelehan gletser di Pegunungan Tienshan dan Pamir. Nah, dengan perubahan iklim yang dipicu oleh pembakaran bahan bakar fosil, gletser-gletser itu makin menipis. Alhasil, pasokan air pun menyusut, dan airnya bakal menguap jauh sebelum sempat mencapai Laut Aral.
Ironisnya, mengalokasikan kembali air ke danau-danau di seluruh dunia yang mengering akibat ulah manusia justru bisa jadi cara utama untuk mencegah lenyapnya gletser tadi.
Ngomong-ngomong soal danau yang dikeringin demi cuan, Laut Aral tuh bukan satu-satunya, lho. Ada Great Salt Lake dan Salton Sea di Amerika Serikat; Laut Kaspia yang benua Eropa dan Asia; Danau Urmia di Iran; Danau Poopó di Bolivia; dan masih banyak lagi.
Semua ‘danau hilang’ ini kemungkinan besar juga ikut menyumbang pada emisi karbon global.
Artikel Terkait: Kekeringan Adalah Tempat Ideal bagi Bakteri Kebal Antibiotik untuk Berkembang Biak, Studi Peringatkan
“Studi kami menunjukkan bahwa melindungi gudang karbon raksasa yang terpendam dalam sedimen ini juga punya nilai iklim yang bisa dimasukkan ke dalam mekanisme pendanaan berbasis karbon,” jelas para penulis studi itu dalam catatan mereka.
“Ini membuka wawasan baru, yang diutarakan dalam bahasa yang familiar di dunia pendanaan iklim dan pasar karbon, dan tentunya membuka obrolan baru soal gimana proyek restorasi air ini bisa didanai.”
Penelitian ini telah dipublikasikan di jurnal Science.
Artikel ini telah diperiksa faktanya oleh Michael Irving dan disunting oleh Rebecca Dyer. Meski kami selalu berupaya menjaga proses kerja kami, kami hanyalah manusia biasa. Kalau kamu menemukan kesalahan, tolong beri tahu kami.
(KoranPost)
Sumber: www.sciencealert.com
https://www.sciencealert.com/the-worlds-largest-dried-lakebed-is-leaking-vast-amounts-of-carbon-but-scientists-say-theres-a-solution















