Alam ternyata punya segudang cara aneh dan mengejutkan buat para ibu dalam berkembang biak dan merawat anak-anaknya.
Beberapa ibu, seperti buaya dan hiu, bahkan bisa melewatkan urusan kawin sepenuhnya. Mereka memanfaatkan adaptasi yang bisa ditelusuri hingga ke zaman dinosaurus untuk mengkloning diri sendiri dan melahirkan secara ‘perawan’.
Lain lagi dengan induk kalajengking yang menggendong bayi-bayi bercangkang lunak di punggungnya, mengingatkan kita bahwa bahkan arakhnida pun bisa terlihat menggemaskan—abaikan saja kalau seekor mama yang lapar kadang memutuskan untuk melahap satu atau dua anaknya.
Tapi menyelidiki akar evolusi dari beragam metode keibuan ini sangatlah sulit, karena jaringan reproduksi cepat membusuk setelah hewannya mati.
Nah, sebuah penemuan luar biasa yang diterbitkan di Scientific Reports menawarkan wawasan langka: tim peneliti internasional berhasil mendeskripsikan kerang ‘hamil’ berusia 125 juta tahun dengan jaringan lunak yang masih terjaga, termasuk bayi-bayi mungil di dalamnya.
Para ilmuwan sudah mencari spesimen seperti ini selama puluhan tahun.
“Ini adalah bukti fosil paling awal yang menunjukkan bahwa kerang-kerang ini merawat dan melindungi anak-anak mereka yang sedang berkembang. Sebelumnya, strategi reproduksi semacam ini hanya diketahui dari spesies yang masih hidup,” ungkap Martin Munt, kurator di Dinosaur Isle Museum di Inggris sekaligus peneliti tamu di University of Portsmouth.
Kerang purba ini—makhluk yang biasanya nggak terbayang sebagai sosok keibuan—adalah bivalvia. Ia termasuk kelompok besar moluska bercangkang ganda, yang mencakup lebih dari 40.000 spesies fosil dan 50.000 spesies yang masih hidup, termasuk deretan topping seafood favorit kita seperti kerang, tiram, simping, dan remis.
Spesimen kerang fosil ini ditemukan di Isle of Wight, pulau di lepas pantai selatan Inggris yang terkenal dengan banyaknya temuan fosil zaman Kapur, termasuk salah satu teror darat terbesar di Eropa pada masanya.
“Penemuan ini tidak cuma memberi gambaran langka tentang bagaimana kerang air tawar purba berkembang biak,” kata Munt, “tapi juga membantu menjelaskan bagaimana hewan-hewan ini berhasil beradaptasi dengan kehidupan di sungai dan danau jutaan tahun lalu.”

Makhluk yang diteliti di sini, Margaritifera valdensis, masih berkerabat jauh dengan kerang mutiara air tawar modern yang mencakup hingga 1.000 spesies hidup.
Mereka juga punya salah satu strategi reproduksi paling unik di antara semua invertebrata, layaknya xenomorph.
Pertama-tama, skenario dasar “burung-dan-lebah” terjadi: pejantan melepaskan sperma ke dalam air, lalu betina menyedotnya dan menggunakannya untuk membuahi sel telur di dalam ruang pengeraman yang terletak di bagian khusus insangnya.
Selain tempat berlindung, sang ibu moluska juga menyediakan kalsium untuk anak-anaknya yang sedang tumbuh—mineral yang mungkin turut membantu mengawetkan spesimen-spesimen ini.
Anak-anak itu kemudian berkembang menjadi larva yang, mirip parasit, harus menginfeksi ikan agar bisa matang. Larva menempel pada insang dan sirip ikan, lalu tumbuh di bawah kulit ikan, dan akhirnya terlepas untuk membentuk hamparan kerang baru.
(Kalau dibandingkan, teknik reproduksi mamalia yang cuma makan malam dan nonton film tentu terasa jauh lebih sederhana.)

“Fosil-fosil baru ini membuktikan bahwa strategi reproduksi yang rumit ini sudah berevolusi sejak Zaman Kapur Awal,” kata Aleksandra Skawina, pakar fosil bivalvia dari University of Warsaw sekaligus rekan penulis studi.
Penelitian ini juga menjelaskan asal-usul material gelap dan misterius bernama ‘molluskite’ yang pertama kali dideskripsikan hampir 200 tahun silam.
“Kami menemukan bahwa material ini sebenarnya terdiri dari jaringan lunak dan struktur reproduksi yang terfosilisasi, yang terawetkan secara luar biasa oleh mineral,” jelas rekan penulis studi Rafael P. Lozano, geokimiawan di Geological and Mining Institute of Spain.

Sayangnya, hewan-hewan menakjubkan ini sekarang termasuk makhluk paling terancam. Polusi, proyek konstruksi, eksplorasi, perubahan iklim, dan faktor-faktor lain terus merusak ekosistem air tawar.
Walaupun kita mungkin mengagumi kemampuan adaptasi seksual mereka, moluska sering diabaikan sebagai cangkang kecil yang membosankan—padahal mereka adalah filum invertebrata terbesar kedua setelah arthropoda.
Terkait: Burung Condor California Melahirkan Secara ‘Perawan’ Meski Punya Pasangan Subur, Pertama bagi Burung
Dan mereka adalah komponen kunci ekosistem air tawar modern, jadi kita sebaiknya mengawasi mereka dengan cermat: bisa jadi mereka sudah membunyikan lonceng peringatan akan kepunahan massal keenam di Bumi.
Penelitian ini diterbitkan di Scientific Reports.
Artikel ini telah diperiksa faktanya oleh Rachel Garner dan disunting oleh Clare Watson. Meski kami bangga dengan proses kami, kami tetap manusia biasa. Jika kamu menemukan kesalahan, tolong beri tahu kami.
(KoranPost)
Sumber: www.sciencealert.com
https://www.sciencealert.com/alien-like-reproductive-strategy-found-in-125-million-year-old-fossil















