Monyet Juga Bisa Membedakan ‘Bouba’ Dan ‘Kiki’, Kemampuan Bahasa Yang Dikira Hanya Manusia

August 4, 2026

3 menit teks

Coba tebak: kalau gue bilang dua bentuk di bawah ini punya nama — yang satu namanya ‘Bouba’, satunya lagi ‘Kiki’ — kira-kira yang mana yang mana?

Dua bentuk yang dipakai di eksperimen ‘bouba/kiki’. (Andrew Dunn/Wikimedia Commons/CC BY-SA 3.0)

Kalau kamu menjawab bentuk runcing itu ‘Kiki’ dan bentuk bulat itu ‘Bouba’, selamat, kamu sepemikiran dengan mayoritas manusia di dunia.

Eksperimen psikologi yang super menarik ini pertama kali dicetuskan di tahun 1920-an. Dan menariknya, mayoritas orang yang ditanya — entah pakai bahasa atau alfabet apa pun dalam keseharian mereka — selalu sepakat: Kiki itu runcing, Bouba itu bulat.

Nah, sekarang ada eksperimen baru yang menunjukkan bahwa monyet makaka juga ternyata mengasosiasikan hal yang sama antara bentuk dan suara ini.

Sembilan monyet yang tinggal di Mandai Wildlife Reserve, Singapura, dilibatkan dalam riset ini: delapan ekor makaka ekor panjang (Macaca fascicularis) dan satu ekor makaka ekor babi selatan (Macaca nemestrina).

Pertama-tama, para peneliti harus melatih para monyet dulu supaya bisa ikut serta dalam eksperimen.

Supaya nggak ada bias, tiap monyet diminta berdiri di depan dua cangkir yang di bawah tutupnya ada makanan tersembunyi. Satu tutup polos tanpa gambar, sementara tutup satunya lagi menampilkan bentuk gabungan antara unsur runcing dan bulat — semacam hibrida Bouba-Kiki.

Di tahap ini, belum ada suara apa pun yang diperdengarkan.

Monyet Memikirkan 'Bouba' dan 'Kiki' dengan Cara yang Sama Seperti Manusia
Makanan disembunyikan di cangkir yang tutupnya ada gambar bentuk. (Loconsole et al., bioRxiv, 2026)

Begitu para monyet paham bahwa cangkir bergambar itulah yang berisi makanan, mereka lanjut ke tes sesungguhnya.

Di tahap ini, mereka dihadapkan pada dua cangkir dengan tutup bergambar bentuk runcing atau bentuk bulat — persis seperti yang dipakai di eksperimen Bouba/Kiki klasik.

Nah, di tes ini, rekaman suara ‘Bouba’ atau ‘Kiki’ diputar berulang-ulang di latar belakang.

Monyet Memikirkan 'Bouba' dan 'Kiki' dengan Cara yang Sama Seperti Manusia
Ilustrasi susunan eksperimennya. (Loconsole et al., bioRxiv, 2026)

“Tiap monyet menjalani 24 percobaan yang dibagi dalam blok-blok pendek berisi tiga percobaan. Posisi bentuk runcing dan bulat, juga pemutaran suara Bouba dan Kiki, diseimbangkan secara bergantian antar percobaan,” begitu penjelasan para penulis.

Desain eksperimen kayak gini memungkinkan mereka melihat pilihan monyet saat diperdengarkan suara-suara tertentu, meskipun para monyet ini nggak dilatih bahwa ada jawaban yang ‘benar’.

Hasilnya? Mirip banget sama hasil eksperimen ke manusia. Di sebagian besar percobaan, para monyet secara spontan memilih tutup bergambar bentuk bulat waktu mendengar ‘Bouba’, dan tutup bergambar bentuk runcing waktu mendengar ‘Kiki’.

Analisis statistik menunjukkan bahwa pemilihan ini terjadi di tingkat yang lebih tinggi daripada sekadar kebetulan acak.

Monyet Memikirkan 'Bouba' dan 'Kiki' dengan Cara yang Sama Seperti Manusia
(Loconsole et al., bioRxiv, 2026)

“Konsisten dengan efek spesifik kondisi ini, peluang memilih bentuk bulat hampir enam kali lebih tinggi di percobaan Bouba dibandingkan percobaan Kiki,” catat para penulis.

Studi lanjutan dengan subjek uji yang lebih banyak tentu masih diperlukan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas soal fenomena ini. Perlu dicatat juga, riset ini belum melalui proses peer review ilmiah.


Langganan newsletter ScienceAlert yang sudah terverifikasi faktanya

Walaupun begitu, ini jadi petunjuk awal bahwa mungkin ada sesuatu yang sifatnya mendasar dan bawaan dalam asosiasi yang kita pakai untuk membentuk bahasa — dan ternyata bisa jadi dimiliki bersama antara manusia dan primata lainnya.

Baca juga: Satu-satunya Hal yang Membedakan Kemampuan Geometri Monyet dan Manusia Mungkin Cuma Pendidikan Formal

“Temuan-temuan ini selaras dengan gagasan bahwa setidaknya sebagian korespondensi lintas-modal mungkin bertumpu pada bias perseptual kuno yang diwarisi dari nenek moyang bersama yang jauh, alih-alih berevolusi hanya di dalam spesies manusia,” tulis para penulis.

Bukti ini, tambah mereka, “menggeser pertanyaan evolusioner dari ‘apakah efek ini unik pada manusia’ menjadi ‘seberapa luas pemetaan perseptual ini tersebar di antara vertebrata’.”

Riset ini memang belum melewati peer review atau dipublikasikan di jurnal ilmiah. Tapi, versi preprint-nya sudah bisa diakses di bioRxiv.

Artikel ini sudah melalui pengecekan fakta oleh Rachel Garner dan disunting oleh Michael Irving. Meskipun kami bangga dengan proses kerja kami, kami tetap manusia biasa. Kalau kamu menemukan kesalahan, tolong beri tahu kami.

(KoranPost)

Sumber: www.sciencealert.com
https://www.sciencealert.com/monkeys-show-a-strange-language-quirk-we-thought-was-unique-to-humans

Share this post

August 4, 2026

Copy Title and Content
Content has been copied.

Teruskan membaca

Berikutnya

KoranPost

Administrator WhatsApp

Salam 👋 Apakah ada yang bisa kami bantu?