NASA Matikan Instrumen Voyager 1 Lagi Demi Hemat Daya Dan Perpanjang Misi Antarbintang

April 29, 2026

3 menit teks

Wahana antariksa paling jauh dari Bumi, probe Voyager 1, baru saja mematikan salah satu instrumennya lagi.

Alasan pematikan ini adalah karena tim misi Voyager ingin menghemat daya, yang kini semakin menipis di wahana antariksa yang sudah tua ini.

Instrumen yang dimaksud adalah eksperimen Low-energy Charged Particles (LECP), yang sebelumnya digunakan probe Voyager untuk mempelajari angin matahari dan medium antarbintang (ISM).

Intinya, keputusan ini diambil supaya misi antarbintang pertama umat manusia ini bisa terus menjelajahi alam semesta.

Sama seperti misi kembarnya, Voyager 1 menggunakan tiga Radioisotope Thermoelectric Generators (RTG)—alat yang mengubah panas dari peluruhan Plutonium-238 menjadi listrik. Setelah hampir 50 tahun beroperasi tanpa henti, generator ini mulai kehabisan daya.

Insinyur di Jet Propulsion Laboratory (JPL) milik NASA mengirim perintah untuk mematikan instrumen tersebut pada 17 April, menyusul pematikan Cosmic Ray Subsystem (CRS) pada Februari 2025, serta sistem pencitraan, spektrometer ultraviolet, dan instrumen lainnya sejak tahun 1990.

LECP sudah beroperasi hampir tanpa jeda sejak probe Voyager 1 dan 2 diluncurkan pada tahun 1977. Sementara itu, daya output RTG Voyager 1 terus menurun sekitar 4 watt per tahun, dan per April 2026, daya yang dihasilkan kurang dari setengah daya awalnya.

Dengan sisa daya yang makin tipis, tim terpaksa mematikan pemanas dan instrumen sambil memastikan pipa bahan bakar wahana tidak membeku. Ini adalah keseimbangan yang cukup tricky, di mana tim misi harus memutuskan instrumen mana yang bisa “dikorbankan” di tahap misi ini.

Wahana antariksa NASA, Voyager 2, memasuki ruang antarbintang pada November 2018, lebih dari enam tahun setelah saudari kembarnya, Voyager 1, melakukan hal yang sama. (NASA /JPL-Caltech)

Keputusan ini diambil setelah Voyager 1 mengalami penurunan daya secara tiba-tiba pada 27 Februari lalu saat melakukan manuver rotasi yang sudah direncanakan. Penurunan daya mendadak bisa memicu sistem perlindungan tegangan rendah milik wahana, yang otomatis mematikan instrumen agar wahana tetap beroperasi.

Kalau sampai terjadi, tim misi harus melewati proses pemulihan yang panjang. Mengingat jarak Voyager 1 dari Bumi yang mencapai 25 miliar km, butuh sekitar 23 jam agar urutan perintah mencapai wahana dan lebih dari 3 jam lagi untuk menyelesaikannya.

Keputusan ini nggak gampang diambil. Sejak Voyager 1 meninggalkan Tata Surya, LECP sudah memberikan data penting tentang struktur ISM, mendeteksi front tekanan dan variasi kepadatan partikel di luar heliosfer.

Medan magnet yang diciptakan oleh angin matahari ini membentuk gelembung pelindung yang melindungi Tata Surya dari radiasi kosmis berbahaya. Di batas terluar tempat ia bertemu ISM, ia membentuk “bow shock”. Dua probe Voyager adalah satu-satunya wahana antariksa yang cukup jauh dari Bumi untuk memberikan informasi tentang wilayah ini.

Berlangganan buletin gratis ScienceAlert yang sudah dicek fakta

Untungnya, tim sains dan teknik Voyager sudah punya rencana soal instrumen mana yang akan dimatikan dan urutannya. Untuk Voyager 1, LECP adalah giliran berikutnya—instrumen ini juga sudah dimatikan di Voyager 2 sejak Maret 2025. Seperti yang dijelaskan oleh Kareem Badaruddin, manajer misi Voyager di JPL, dalam siaran pers NASA:

“Walaupun mematikan instrumen sains bukan pilihan favorit siapa pun, ini adalah opsi terbaik yang kita punya saat ini. Voyager 1 masih punya dua instrumen sains yang beroperasi—satu yang ‘mendengarkan’ gelombang plasma dan satu lagi yang mengukur medan magnet.

Keduanya masih bekerja dengan baik, mengirimkan data dari wilayah luar angkasa yang belum pernah dijelajahi oleh wahana buatan manusia lainnya. Tim tetap fokus agar kedua Voyager bisa terus bertahan selama mungkin.”

NASA Mematikan Instrumen Voyager 1 Lagi Agar Misi Tetap Berjalan
Ed Stone, ilmuwan proyek misi Voyager NASA, menjadi tuan rumah bersama dalam konferensi pers pada 6 Juni 1990, di mana misi tersebut memperkenalkan “Foto Keluarga Tata Surya”. (NASA/JPL-Caltech)

Motor kecil yang memutar sensor LECP untuk memindai ke segala arah akan dibiarkan menyala, supaya tim bisa menyalakan kembali instrumen ini jika nanti ada daya tambahan. Sementara itu, para insinyur memanfaatkan waktu ini untuk menyelesaikan strategi besar demi memperpanjang misi, yang mereka sebut “Big Bang“.

Rencananya, mereka akan mematikan sekelompok perangkat secara bersamaan dan mengaktifkan alternatif berdaya rendah agar wahana tetap hangat dan bisa terus mengumpulkan data sains. Tim akan menerapkan “Big Bang” di Voyager 2 terlebih dahulu karena wahana itu punya daya sedikit lebih banyak dan posisinya lebih dekat ke Bumi.

Terkait: Voyager 2 Mungkin Menangkap Uranus di Saat yang Salah, Memecahkan Misteri 40 Tahun

Uji coba direncanakan pada Mei dan Juni tahun ini. Kalau berjalan lancar, tim akan mencoba menerapkan rencana ini di Voyager 1 paling cepat Juli. Kalau rencana ini berhasil menghemat daya, LECP bisa diaktifkan kembali untuk terus mengumpulkan data tentang ISM.

Artikel ini awalnya diterbitkan oleh Universe Today. Baca artikel aslinya.

(KoranPost)

Sumber: www.sciencealert.com
https://www.sciencealert.com/nasa-shuts-down-another-piece-of-voyager-1-to-extend-its-interstellar-mission

Share this post

April 29, 2026

Copy Title and Content
Content has been copied.

Teruskan membaca

Berikutnya

KoranPost

Administrator WhatsApp

Salam 👋 Apakah ada yang bisa kami bantu?