Penguin-penguin di kebun binatang hidup enak, terlindung dari cuaca ekstrem dan bisa makan iken sepuasnya. Tapi hidup tanpa beban ini ternyata ada harganya, lho.
Riset terbaru yang baru diterbitkan menunjukkan bahwa secara biologis, penguin di kebun binatang menua lebih cepat dibanding penguin liar. Temuan ini jadi analogi yang sangat berharga untuk gaya hidup Barat pada manusia.
“Seekor penguin berusia 15 tahun di kebun binatang punya kondisi tubuh setara penguin liar berusia 20 tahun,” jelas Céline Le Bohec, penulis studi dan ilmuwan di Pusat Ilmiah Monaco yang sudah meneliti penguin raja liar selama lebih dari dua dekade.
“Tapi yang menarik, penguin kebun binatang juga hidup lebih lama secara keseluruhan.”
Penguin di kebun binatang terlindungi dari predator, badai Antartika, dan laut selatan yang ganas. Mereka juga dapat asupan ikan gratis dan perawatan dokter hewan.
Namun, pola makan bebas dan aktivitas fisik yang terbatas mengganggu ritme kehidupan mereka, seperti siklus sirkadian dan pola tidur. Para peneliti menyebut gangguan ini bisa memengaruhi keseimbangan seluler dan akhirnya mempercepat penuaan – suatu karakteristik yang juga umum pada gaya hidup Barat.
“Konsekuensi gaya hidup pasif sulit dipelajari dalam percobaan pada manusia,” kata para peneliti, yang mungkin terdengar ironis karena contohnya begitu banyak.
Tapi mungkin itu justru intinya: penuaan manusia itu kompleks, melibatkan banyak sekali faktor seperti keamanan pangan, konsumsi alkohol, faktor ekonomi, kebiasaan minum obat, dan variabel lainnya.
Jadi, kenapa tidak mempelajari penguin raja (Aptenodytes patagonicus) saja? Penguin jadi contoh yang sangat baik karena kondisi kehidupan “sosial ekonomi” mereka tidak berubah selama berabad-abad.
Ditambah lagi, dengan masa hidup hingga 40 tahun, mereka adalah hewan yang berumur panjang secara luar biasa untuk ukuran tubuhnya. Terakhir, peningkatan asupan makanan dan berkurangnya aktivitas pada penguin kebun binatang cocok dengan pergeseran serupa pada manusia modern.
Dalam studi yang baru diterbitkan, tim riset internasional yang dipimpin Universitas Helsinki di Finlandia menganalisis penuaan biologis penguin raja melalui sampel darah dari 64 individu dengan usia kronologis yang diketahui.
Sampel ini termasuk 34 penguin liar dari Pulau Possession di Samudra Selatan dan 30 penguin yang lahir dan dipelihara di kebun binatang, yaitu dari Zoo Zürich di Swiss dan Loro Parque di Tenerife, Spanyol.
Para peneliti menentukan akselerasi usia epigenetik (EAA) pada penguin menggunakan jam epigenetik, sebuah analisis biokimia yang mengukur metilasi DNA – proses di mana gugus metil (atom karbon yang terhubung ke tiga atom hidrogen) menempel pada DNA.
Ini adalah tes umum di bidang epigenetik, studi tentang bagaimana lingkungan dan perilaku memengaruhi ekspresi gen tanpa benar-benar mengubah sekuens dalam gen itu sendiri. Hasilnya, usia biologis seseorang mungkin berbeda dari usia kronologisnya.
Studi baru ini menunjukkan adanya perbedaan antara usia kronologis dan biologis pada penguin kebun binatang yang dimanja.
Di alam liar, penguin raja bisa berpuasa hingga delapan minggu dan melakukan aksi kebugaran luar biasa, mengarungi gelombang Samudra Selatan dalam perjalanan mencari makan sejauh 1.200 kilometer.
Namun di kebun binatang, kurangnya kompleksitas lingkungan, stres psikososial, dan perubahan lingkungan mikroba juga bisa memengaruhi epigenetik penguin, mengubah ekspresi gen yang terkait dengan asupan nutrisi, pertumbuhan, kematian sel, kesehatan jantung, dan aktivitas fisik. Perubahan epigenetik ini memengaruhi jalur yang juga dikaitkan dengan penuaan dan gaya hidup pada manusia.
Oleh karena itu, untuk menguji model mereka lebih lanjut, para peneliti membandingkannya dengan dataset uji manusia dengan karakteristik serupa dan EAA yang diketahui. Sebagai kontras penuaan, peneliti menggunakan salah satu faktor akselerasi usia terkuat yang diketahui: merokok.
Perbandingan dengan manusia ini menunjukkan bahwa model penuaan penguin mereka cukup kuat.
Terkait: Gula Tambahan dalam Diet Bisa Mempercepat Penuaan Biologis Tubuh
Selain itu, para peneliti melakukan analisis kelangsungan hidup yang mencakup hampir 1.900 penguin liar dan lebih dari 300 penguin penangkaran. Analisis ini mengungkap usia kelangsungan hidup median 13,5 tahun untuk penguin liar, dibandingkan sekitar 21 tahun untuk individu di kebun binatang.
Nah, kabar buruknya, hari-hari bebas makan bagi beberapa penguin ini telah berakhir. Para peneliti kini sedang melakukan studi di mana mereka mendorong makhluk-makhluk penangkaran ini untuk lebih banyak berolahraga dan makan lebih sedikit.
Saran anti-penuaan antar spesies secara keseluruhan mungkin sudah jelas, meski kurang nyaman: makan lebih sadar dan kebiasaan berolahraga mungkin sangat penting untuk memperpanjang umur, baik bagi manusia maupun teman-teman berbulu kita yang tidak bisa terbang ini.
Riset ini dipublikasikan di Nature Communications.
(KoranPost)
Sumber: www.sciencealert.com
https://www.sciencealert.com/western-lifestyles-cause-faster-aging-penguing-research-suggests
















