Sekitar 66 juta tahun lalu, asteroid Chicxulub menghantam Bumi dan menyebabkan kepunahan massal yang melenyapkan tiga perempat spesies tanaman dan hewan, termasuk para dinosaurus yang kita kenal.
Tapi, di tengah kekacauan itu, ada satu kelompok makhluk hidup yang justru “panen”. Saat dunia menjadi gelap dan dingin, kerajaan jamur justru berkembang biak dengan pesat karena tugas mereka adalah mengurai sisa-sisa makhluk hidup yang mati.
Temuan baru dari lapisan batuan di Colorado dan North Dakota, Amerika Serikat, menunjukkan lonjakan aktivitas jamur yang luar biasa sesaat setelah hantaman asteroid tersebut. Fenomena serupa juga ditemukan di Selandia Baru, yang membuat para ahli menduga bahwa “ledakan” jamur ini terjadi di seluruh dunia.
Mikrobiolog Rosanna Baker dan Arturo Casadevall dari Johns Hopkins University meneliti catatan fosil jamur ini dan menemukan tiga momen penting terkait aktivitas jamur di masa itu.
Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis batuan sedimen. Batuan ini terbentuk dari lapisan lumpur dan material lain yang menumpuk selama ribuan tahun. Di dalamnya, terdapat lapisan iridium yang sangat khas yang dikenal sebagai batas Cretaceous–Paleogene (K–Pg), yang menjadi bukti fisik dari hantaman asteroid tersebut.
Menurut Baker, ketika terjadi lonjakan jamur, jumlah spora jamur bisa mencapai 50 persen atau lebih dari total spora yang ada. Namun, seiring pulihnya tanaman, keseimbangan alam pun kembali normal.
Menariknya, asteroid bukan satu-satunya penyebab “ledakan” jamur ini. Bukti lain menunjukkan bahwa letusan gunung berapi Deccan Traps yang terjadi jauh sebelum asteroid menghantam juga memicu lonjakan serupa. Letusan ini membuat iklim menjadi dingin dan asam, kondisi yang sangat disukai oleh jamur.
Baker berpendapat bahwa kepunahan di periode Cretaceous mungkin bukan disebabkan oleh satu kejadian tunggal, melainkan “pukulan ganda” dari aktivitas vulkanik dan hantaman asteroid.
Jamur yang berkembang pesat ini kemungkinan besar adalah jenis saprotrof, yaitu jamur yang memakan materi organik yang membusuk. Mereka bertugas membersihkan sisa-sisa tanaman dan hewan yang mati akibat bencana.
Hebatnya lagi, spora jamur ini mengandung melanin yang berfungsi seperti “baju zirah” untuk melindungi mereka dari radiasi berbahaya. Ini membuat mereka sangat tangguh dalam kondisi ekstrem.
Pada akhirnya, meski bencana tersebut sangat mengerikan, peran jamur sebagai “tim kebersihan” alami justru membantu mendaur ulang sisa-sisa kehidupan. Hal ini secara harfiah menyiapkan fondasi bagi kehidupan baru untuk tumbuh dan berkembang kembali di Bumi.
Penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal PNAS.
(KoranPost)
Sumber: www.sciencealert.com
https://www.sciencealert.com/when-the-dinosaur-killing-asteroid-hit-this-life-form-feasted-on-the-death















