28 Kota Terpadat di AS Tenggelam, Studi Baru Ungkap Fakta Mengejutkan

May 9, 2025

3 menit teks

Coba deh pikirin kota besar di Amerika Serikat. Kemungkinan besar, tanah di sana lagi pelan-pelan amblas.

Studi radar satelit terbaru nemuin bukti kalo 28 kota paling padat penduduk di sana lagi ‘mleyot’ gara-gara urbanisasi, kekeringan, atau naiknya permukaan air laut, dengan tingkat yang beda-beda.

Di setiap kota yang diteliti, minimal 20 persen area perkotaannya tenggelam sedikit antara tahun 2015 sampe 2021. Parahnya lagi, di 25 dari 28 kota besar itu, minimal 65 persen tanahnya keliatan lagi amblas.

Dari pesisir sampe ke pedalaman, para peneliti memperkirakan pusat-pusat kota yang amblas ini dihuni hampir 34 juta orang – sekitar 12 persen dari total populasi AS.

Meskipun kota-kota ini nggak langsung ambruk, tren penurunan ini cukup mengkhawatirkan dan perlu diatasi.

“Penurunan tanah (subsidence) itu masalah yang licik, sangat lokal, dan sering diabaikan dibanding naiknya permukaan air laut secara global, tapi ini faktor utama yang ngejelasin kenapa permukaan air naik di banyak wilayah timur AS,” kata geofisikawan Leonard Ohenhen di tahun 2024.

Ohenhen udah setahun terakhir menganalisis laju penurunan tanah di AS, dan dalam studi terbaru dia dan timnya nunjukkin kalo area perkotaan dengan 98 persen atau lebih tanah yang amblas itu termasuk Chicago, Dallas, Columbus, Detroit, Fort Worth, Denver, New York, Indianapolis, Houston, dan Charlotte.

Pergerakan tanah vertikal di seluruh Amerika Serikat dalam milimeter penurunan (warna hangat) atau elevasi (warna dingin). (Ohenhen et al., Nature Cities, 2025)

Sementara itu, kota-kota dengan laju penurunan yang lumayan cepet, lebih dari 2 milimeter per tahun, termasuk New York, Chicago, Houston, Dallas, Fort Worth, Columbia, Seattle, dan Denver.

Di Texas, kota-kota kayak Fort Worth, Dallas, dan Houston ngalamin laju penurunan tercepat di negara itu, rata-ratanya lebih dari 4 mm setahun, kata studi terbaru ini.

All of The 28 Most Populous US Cities Are Sinking, New Survey Finds
Pergerakan tanah vertikal spasial di kota-kota besar AS, menunjukkan penurunan parah (merah) hingga sedang (oranye/kuning/hijau) hingga rendah (biru). (Ohenhen et al., Nature Cities, 2025)

Sebagian besar kota lain cuma punya zona-zona lokal di mana tanahnya amblas lebih cepat dari 5 mm per tahun, kayak Treasure Island di San Francisco dan area di sekitar Islais Creek.

Para ilmuwan umumnya setuju kalo laju penurunan tanah lebih dari 5 mm setahun itu bikin khawatir banget buat kota-kota, tapi bahkan di tempat dengan laju lebih rendah, kerusakan infrastruktur juga berisiko, apalagi kalo tanah dari satu area ke area lain nggak amblas secara merata.

Kalo gitu kasusnya, kayak di New York, Las Vegas, dan Washington, DC, itu bisa nyebabin retakan dan ketidakstabilan buat jalanan, gedung, dan jembatan. Kalo tanahnya amblas cukup jauh, itu juga bisa bikin risiko banjir.

Penulis studi ini, yang berasal dari berbagai institusi di seluruh AS, memperkirakan lebih dari 29.000 bangunan di kota-kota besar Amerika saat ini berada di area dengan risiko kerusakan tinggi dan sangat tinggi.

“Sifat laten dari risiko ini berarti infrastruktur bisa diam-diam rusak seiring waktu dan kerusakan baru terlihat ketika parah atau berpotensi bencana,” jelas geofisikawan Manoochehr Shirzaei dari Virginia Tech.

“Risiko ini sering diperparah di pusat-pusat kota yang berkembang pesat.”

Houston adalah kota paling cepat amblas dari semua 28 kota AS yang diteliti satelit. Lebih dari 40 persen tanahnya amblas lebih cepat dari 5 mm per tahun, sebagian besar karena penambangan air tanah jangka panjang serta ekstraksi minyak dan gas, dan 12 persen amblas lebih cepat dari 10 mm per tahun.

Houston Subsidence
Penurunan tanah perkotaan di kota-kota AS. (Ohenhen et al., Nature Cities, 2025)

Dalam model mereka, para peneliti nemuin korelasi kuat antara deformasi vertikal kota-kota, kayak Houston, dan perubahan modern dalam tingkat air tanah.

Ini nunjukkin kalo dengan ngurangin ekstraksi air tanah, kota-kota berpotensi ngelambatin amblasnya tanah mereka. Tapi solusinya buat tiap kota itu rumit dan tergantung ukuran, geologi, dan ancaman spesifiknya.

Di kota-kota pesisir yang ngadepin naiknya permukaan air laut, misalnya, adaptasinya bisa berupa perlindungan dari masuknya air asin dan gelombang badai, atau malah mundur (relokasi), saran Shirzaei dan rekan-rekannya.

Sementara itu, kota-kota kayak New Orleans yang ngadepin risiko banjir mungkin butuh meninggikan tanah atau ningkatin sistem drainase. Pusat-pusat kota yang berisiko retak nggak merata bisa mereparasi atau nambahin infrastruktur biar lebih tahan sama pondasi yang bergerak.

“Tujuan jangka panjang kami adalah memetakan semua garis pantai di dunia pake teknik ini,” kata Shirzaei di tahun 2024.

“Kami tahu kalo perencana di beberapa kota AS udah pake data kami buat bikin garis pantai kami lebih tangguh, dan kami pengen kota-kota di seluruh dunia bisa ngelakuin hal yang sama.”

Studi ini diterbitkan di Nature Cities.

(KoranPost)

Sumber: www.sciencealert.com
https://www.sciencealert.com/28-most-populous-us-cities-are-all-sinking-new-survey-finds

Share this post

May 9, 2025

Copy Title and Content
Content has been copied.

Teruskan membaca

Berikutnya

KoranPost

Administrator WhatsApp

Salam 👋 Apakah ada yang bisa kami bantu?