Jakarta, NU Online
Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) merilis data hilal untuk penentuan awal bulan Dzulqadah 1447 H. Data tersebut disampaikan dalam Informasi Hilal Awal Syawal 1447 H yang diterbitkan pada Sabtu (18/4/2026).
Data Falakiyah mengenai hilal 29 Syawal 1447 H, yang bertepatan dengan Sabtu Kliwon, 18 April 2026 M, menunjukkan bahwa hilal sudah berada di atas ufuk. Hilal tersebut bahkan telah memenuhi kriteria imkanur rukyah, bahkan qath’iy rukyah.
Tinggi hilal tertinggi tercatat di Kota Sabang, Provinsi Aceh, dengan tinggi hilal mar’ie 10 derajat 31 menit, elongasi hilal haqiqy 14 derajat 40 menit, dan lama hilal di atas ufuk selama 43 menit 0 detik. Sementara itu, ketinggian hilal terendah terjadi di Merauke, Provinsi Papua Selatan, dengan tinggi hilal mar’ie 6 derajat 42 menit, elongasi hilal haqiqy 12 derajat 54 menit, dan lama hilal 28 menit 6 detik.
Di titik Jakarta, tepatnya di markas Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat (koordinat 6º 11’ 25” LS 106º 50’ 50” BT), tinggi hilal tercatat 8 derajat 06 menit 5 detik. Saat matahari terbenam, posisinya berada pada 10 derajat 42 menit 32 detik di utara titik barat, dengan elongasi 14 derajat 09 menit 40 detik dan lama hilal 34 menit 10 detik. Adapun ijtimak (konjungsi) terjadi pada Jumat malam Sabtu Kliwon, 17 April 2026 M, pukul 18:54 WIB.
Posisi matahari terbenam berada di 10 derajat 42 menit 32 detik di utara titik barat, sementara posisi hilal berada di 16 derajat 32 menit 59 detik di utara titik barat. Kedudukan hilal berada pada 6 derajat 09 menit 33 detik di utara Matahari, dengan kondisi hilal miring ke utara.
Penghitungan data ini dilakukan menggunakan metode falak (hisab) tahqiqi tadqiki ashri kontemporer khas Nahdlatul Ulama.
Pada saat yang sama, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga merilis data perhitungan hilal untuk 1 Dzulqadah 1447 H. Data ini termuat dalam Informasi Prakiraan Hilal Saat Matahari Terbenam Tanggal 17 dan 18 April 2026 M (Penentuan Awal Bulan Zulkaidah 1447 H).
Dalam informasi tersebut, dijelaskan bahwa konjungsi akan terjadi pada Jumat, 17 April 2026 M, pukul 11.51.41 UT, atau Jumat, 17 April 2026 M, pukul 18.51.41 WIB, atau Jumat, 17 April 2026 M, pukul 19.51.41 WITA, atau Jumat, 17 April 2026 M, pukul 20.51.41 WIT. Konjungsi terjadi saat nilai bujur ekliptika Matahari dan Bulan tepat sama, yaitu 27.48 derajat.
Di wilayah Indonesia, pada tanggal 17 April 2026, waktu matahari terbenam paling awal adalah pukul 17.35.02 WIT di Merauke, Papua. Waktu matahari terbenam paling akhir adalah pukul 18.46.05 WIB di Sabang, Aceh. Sementara pada tanggal 18 April 2026, waktu matahari terbenam paling awal di Indonesia adalah pukul 17.34.36 WIT di Merauke, Papua, dan paling akhir pukul 18.46.00 WIB di Sabang, Aceh.
Dengan memperhatikan waktu konjungsi dan waktu matahari terbenam, dapat disimpulkan bahwa konjungsi tersebut terjadi setelah matahari terbenam pada tanggal 17 April 2026 di seluruh wilayah Indonesia.
Adapun ketinggian hilal di Indonesia saat matahari terbenam pada 17 April 2026 berkisar antara -5,39 derajat di Merauke, Papua, hingga -2,54 derajat di Sabang, Aceh. Sementara itu, ketinggian hilal di Indonesia saat matahari terbenam pada 18 April 2026 berkisar antara 6,41 derajat di Merauke, Papua, hingga 10,36 derajat di Sabang, Aceh.
Besaran elongasi geosentris di Indonesia saat matahari terbenam pada 17 April 2026 berkisar antara 3,89 derajat di Kisaran, Sumatra Utara, hingga 4,22 derajat di Merauke, Papua. Sementara elongasi geosentris saat matahari terbenam pada 18 April 2026 berkisar antara 12,76 derajat di Merauke, Papua, hingga 14,52 derajat di Sabang, Aceh.
Data BMKG juga menunjukkan bahwa umur Bulan di Indonesia saat matahari terbenam pada 17 April 2026 berkisar antara -3,28 jam di Merauke, Papua, hingga -0,09 jam di Sabang, Aceh. Adapun umur Bulan saat matahari terbenam pada 18 April 2026 berkisar antara 20,72 jam di Merauke, Papua, hingga 23,91 jam di Sabang, Aceh.
Lama hilal di atas ufuk saat matahari terbenam pada 17 April 2026 berkisar antara -19,15 menit di Merauke, Papua, hingga -8,73 menit di Sabang, Aceh. Sementara lama hilal di Indonesia saat matahari terbenam pada 18 April 2026 berkisar antara 31,84 menit di Merauke, Papua, hingga 49,36 menit di Sabang, Aceh.
Data-data di atas menunjukkan potensi besar bahwa bulan Syawal 1447 H hanya berjumlah 29 hari. Hal ini mengingat kriteria imkanur rukyah, bahkan qath’iy rukyah, telah terpenuhi. Karenanya, besar kemungkinan 1 Dzulqadah 1447 H jatuh pada Ahad Pahing, 19 April 2026.
Adapun kepastian awal bulan Dzulqadah 1447 H menunggu hasil rukyah yang akan diumumkan oleh LF PBNU pada Sabtu (18/4/2026).
(KoranPost)
Sumber: www.nu.or.id
https://www.nu.or.id/nasional/lf-pbnu-rilis-data-hilal-awal-dzulqa-dah-1447-h-berpotensi-jatuh-pada-19-april-Q8Mbr















