Jakarta, NU Online
Umat Islam telah memasuki bulan Dzulhijjah 1447 H sejak Senin (18/5/2026). Bulan kedua belas dalam kalender Hijriah ini memiliki hari-hari yang istimewa, salah satunya adalah hari Tarwiyah, yakni hari kedelapan bulan Dzulhijjah.
“Tarwiyah merupakan hari kedelapan Dzulhijah yang mempunyai makna berpikir atau merenung. Karenanya, hari Tarwiyah identik dengan keadaan berpikir dan merenung tentang peristiwa yang masih dipenuhi keraguan,” tulis Ustadz Sunnatullah menukil keterangan Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam Tafsir Mafatihul Ghaib yang ditulis dalam artikelnya berjudul ‘Penamaan Hari Tarwiyah, Arafah dan Keutamaannya‘, dikutip NU Online pada Ahad (24/5/2026).
Setidaknya, Imam Al-Razi menjelaskan tiga alasan mengapa hari kedelapan Dzulhijjah disebut sebagai hari Tarwiyah. Pertama, penamaan ini berkaitan dengan peristiwa saat Nabi Adam as membangun Ka’bah.
Dikisahkan, saat Nabi Adam diperintahkan untuk membangun sebuah rumah, beliau sempat berpikir dan berkata, ‘Tuhanku, sesungguhnya setiap orang yang bekerja akan mendapatkan upah, maka apa upah yang akan saya dapatkan dari pekerjaan ini?’ Allah swt menjawab: ‘Ketika engkau melakukan thawaf di tempat ini, maka aku akan mengampuni dosa-dosamu pada putaran pertama thawafmu.’
Setelah mendengar jawaban tersebut, Nabi Adam as memohon, ‘Tambahlah (upah)ku’. Allah menjawab: ‘Saya akan memberikan ampunan untuk keturunanmu apabila melakukan thawaf di sini’.
Nabi Adam as lalu memohon kembali, ‘Tambahlah (upah)ku’. Allah menjawab: ‘Saya akan mengampuni (dosa) setiap orang yang memohon ampunan saat melaksanakan tawaf dari keturunanmu yang mengesakan (Allah).’
Kedua, penamaan ini berkaitan dengan peristiwa Nabi Ibrahim as yang merenungkan mimpinya secara mendalam.
“Sesungguhnya Nabi Ibrahim ‘alaihissalâm bermimpi ketika sedang tidur pada malam Tarwiyah, seakan hendak menyembelih anaknya, maka ketika waktu pagi datang, ia berpikir apakah mimpi itu dari Allah subhânahu wata’âlâ atau dari setan?” tulis Ustadz Sunnatullah mengutip Al-Razi.
Pada malam berikutnya, Nabi Ibrahim as kembali mendapatkan mimpi yang sama, yaitu perintah untuk menyembelih putranya. Saat itulah, Nabi Ibrahim as yakin bahwa mimpi tersebut benar-benar berasal dari Allah swt.
Ketiga, penamaan ini berkaitan dengan peristiwa para jamaah haji yang merenungkan doa-doa yang akan mereka panjatkan saat wukuf di Arafah keesokan harinya, yakni pada tanggal 9 Dzulhijjah.
“Sesungguhnya penduduk Makkah keluar pada hari Tarwiyah menuju Mina, kemudian mereka berpikir tentang doa-doa yang akan mereka panjatkan pada keeseokan harinya, di hari Arafah,” lanjut keterangan tersebut.
(KoranPost)
Sumber: www.nu.or.id
https://www.nu.or.id/nasional/3-peristiwa-yang-melatari-penamaan-tarwiyah-untuk-hari-kedelapan-dzulhijjah-nlLZ6















