Semua orang pasti punya cerita soal badai—entah itu momen ketika kamu nyaris kehujanan deras, atau kisah mobil yang penyok parah kena hantaman es batu dari langit.
Meskipun badai hujan es tergolong jarang terjadi, dampak kerusakannya bisa sangat parah. Dua studi baru mencoba mengungkap bagaimana fenomena ini bisa berubah seiring memanasnya bumi.
Dalam studi kami yang terbit hari ini di jurnal Nature Climate Change, kami menunjukkan bahwa kondisi pemicu hujan es berpotensi bergeser ke arah kutub seiring pemanasan global, dan sedikit berpindah dari musim panas ke musim dingin.
Artinya, badai hujan es bisa jadi lebih sering muncul di tempat-tempat seperti Eropa utara, Kanada, Australia tenggara, dan South Island di Selandia Baru.
Sementara itu, studi baru lainnya yang dipimpin oleh Shiyi Zhang dari Peking University menunjukkan bahwa hujan es juga berpotensi menjadi semakin merusak.
Badai hujan es itu urusannya mahal. Di Australia saja, pada tahun 2025, hujan es di New South Wales dan Queensland menyebabkan klaim asuransi senilai AU$1,9 miliar. Dalam beberapa tahun terakhir, badai dahsyat juga memicu kerugian besar di seluruh dunia.
Biaya yang muncul akibat badai parah terus meningkat. Peningkatan ini sebagian besar disebabkan karena makin banyak orang dan aset yang terpapar badai seiring bertambahnya populasi dan meluasnya kota.
Tapi, apakah perubahan iklim juga ikut bermain di sini?
Bagaimana Hujan Es Terbentuk?
Untuk menghasilkan hujan es, kamu butuh badai petir. Dan untuk menciptakan badai petir, kamu butuh updraught—alias aliran udara yang bergerak naik.
Updraught terbentuk ketika udara yang lebih ringan dan hangat naik di suatu area tertentu. Udara ini membawa uap air, yang kemudian mengembun menjadi awan berisi tetesan-tetesan air mungil.
Di dalam badai, tetesan-tetesan itu saling bertabrakan. Kalau suhunya cukup dingin, tetesan cair membeku di sekitar partikel es, menumbuhkannya menjadi butiran hujan es yang makin besar.
Video penjelasan proses terbentuknya hujan es: https://www.youtube.com/watch?v=6M-ycZLSF1w
Agar hujan es bisa sampai ke permukaan tanah dan berdampak pada kita, updraught yang kuat harus menahan butiran es tetap melayang cukup lama supaya tumbuh besar. Lalu, butiran-butiran itu harus selamat dari proses mencair saat jatuh menuju permukaan bumi.
Wind shear, atau perubahan arah dan kecepatan angin seiring bertambahnya ketinggian, meningkatkan keganasan badai dengan cara mendorong hujan dan es yang jatuh menjauh dari jalur updraught. Alhasil, updraught tidak terhambat dan bisa tumbuh makin kuat.
Daya apung udara dan wind shear ini adalah “bahan dasar” atmosfer yang diperlukan untuk menciptakan hujan es.
Bagaimana Perubahan Iklim Memengaruhi Badai Hujan Es?
Perubahan iklim menghangatkan atmosfer dan menambahkan lebih banyak uap air ke dalamnya. Uap air adalah bahan bakar badai, dan atmosfer yang lebih hangat punya peluang lebih besar menciptakan updraught kuat yang mampu menopang hujan es berukuran besar.
Namun, atmosfer yang lebih hangat juga melelehkan hujan es yang jatuh lebih cepat, yang bisa membuat butiran es mengecil atau bahkan meleleh seluruhnya sebelum menyentuh tanah. Jadi, dua perubahan ini saling tarik-menarik.
Video penjelasan pengaruh perubahan iklim terhadap badai hujan es: https://www.youtube.com/watch?v=kFOhAT2QsSc
Berdasarkan riset sebelumnya, ekspektasi umum tentang dampak perubahan iklim pada hujan es adalah bahwa frekuensinya akan berkurang, tapi butiran esnya sendiri akan berukuran lebih besar saat benar-benar terjadi.
Logikanya, proses pencairan yang lebih intens berarti hujan es berukuran kecil jarang berhasil mencapai tanah, tapi updraught yang lebih kuat sanggup menghasilkan butiran es berukuran raksasa.
Tapi, perubahan ini berbeda-beda di setiap wilayah, tergantung pada keseimbangan rumit antara perubahan “bahan-bahan” pemicu badai hujan es.
Model iklim global umumnya belum bisa memberi tahu kita tentang badai individual, apalagi detail soal butiran es—bayangkan sebuah gambar resolusi rendah yang hanya menampilkan gambaran besarnya saja, tanpa detail.
Karenanya, alih-alih meneliti hujan es secara langsung, studi kami mengamati bagaimana “bahan-bahan” pemicu badai hujan es itu sendiri berubah.
Karena hubungan pasti antara bahan-bahan tersebut dan risiko hujan es masih belum sepenuhnya jelas, kami menggunakan beberapa hubungan “proksi” (perkiraan tidak langsung), termasuk satu yang sebelumnya kami kembangkan untuk Australia berikut beragam rezim cuacanya.
Kami menerapkan tiga proksi pada hasil delapan model iklim untuk melihat berbagai skenario pemanasan di masa depan.
Apa Temuan Utamanya?
Pertama, proksi dan model yang ada sepakat bahwa dalam skenario pemanasan global, kondisi yang mendukung hujan es bergeser ke arah kutub—berkurang di lintang menengah belahan bumi selatan, dan meningkat di lintang menengah-tinggi, terutama di belahan bumi utara.
Kami memproyeksikan kondisi hujan es lebih sering terjadi di Eropa utara, Kanada dan Amerika Serikat bagian barat laut, Australia tenggara, serta South Island Selandia Baru. Sementara itu, frekuensinya berkurang di Australia utara, sebagian besar Afrika, India selatan, dan Cina tenggara.
Kedua, hasil kami memprediksi kondisi hujan es jadi lebih jarang di musim panas dan lebih sering di musim dingin.
Ini berarti tanaman musim dingin seperti gandum bisa menghadapi risiko yang meningkat, sementara risiko bagi tanaman musim panas seperti jagung mungkin menurun. Tapi kalau perubahan iklim menggeser wilayah pertanian mendekati kutub, tanaman-tanaman ini bisa jadi tetap terpapar peningkatan frekuensi hujan es di sana.
Ketiga, proksi yang berbeda tidak selalu selaras. Terutama di wilayah tropis, beberapa proksi menunjukkan peningkatan sementara yang lain menunjukkan penurunan. Ketidaksepakatan ini menyoroti betapa sulitnya memperkirakan perubahan lingkungan hujan es dan kaitannya dengan apakah hujan es benar-benar terjadi.
Bagaimana dengan Tingkat Keparahan Hujan Es?
Zhang dan rekan-rekannya mengambil pendekatan berbeda. Mereka menerapkan model pertumbuhan dan pencairan butiran es ke dalam simulasi iklim, untuk memeriksa kemungkinan ukuran hujan es dan perubahan potensi kerusakan yang bisa ditimbulkannya.
Simulasi global terbaru mereka secara umum memprediksi lebih banyak hujan es berukuran besar dan lebih sedikit yang berukuran kecil.
Hasil ini sejalan dengan penalaran sebelumnya—atmosfer yang lebih hangat bisa melelehkan butiran es kecil, tapi pada saat yang sama menghasilkan hujan es yang lebih besar lewat updraught yang lebih kuat.
Seperti studi kami, studi mereka juga menunjukkan perbedaan regional dalam perubahan ini.
Kedua studi menunjukkan peningkatan risiko hujan es, baik dari sisi frekuensi maupun potensi kerusakannya, di lintang menengah-tinggi belahan bumi utara dan Amerika Selatan bagian tenggara.
Di wilayah sub-tropis Afrika dan Amerika Selatan bagian utara, kedua studi menunjukkan penurunan risiko.
Sementara di Amerika Serikat bagian tenggara, Afrika bagian tengah-utara, India selatan, dan Australia timur laut, kami memproyeksikan penurunan frekuensi, sedangkan Zhang dan rekan memproyeksikan peningkatan potensi kerusakan.
Kedua studi ini mengarah pada satu pesan kuat: risiko kerusakan akibat hujan es akan meningkat di dunia yang makin hangat, meskipun detail lokasi persisnya masih belum sepenuhnya jelas. Semakin tinggi tingkat pemanasan yang terjadi, semakin besar pula risiko ini.
Mengurangi emisi gas rumah kaca dengan cepat adalah cara paling pasti untuk menumpulkan efek paling merusak dari perubahan iklim.
![]()
Timothy H. Raupach, Scientia Senior Lecturer, Institute for Climate Risk and Response, UNSW Sydney dan Steven Sherwood, Professor of Atmospheric Sciences, Climate Change Research Centre, UNSW Sydney
Artikel ini diterbitkan ulang dari The Conversation di bawah lisensi Creative Commons. Baca artikel aslinya.
(KoranPost)
Sumber: www.sciencealert.com
https://www.sciencealert.com/hail-is-changing-and-scientists-warn-it-could-become-more-dangerous















