Misteri Air Terjun Darah Antartika, Dunia Tersembunyi yang Tak Pernah Tersentuh Sinar Matahari

July 1, 2026

4 menit teks

Di dunia yang kering penuh es dan salju, ada sebuah gletser yang terlihat seperti ‘berdarah’.

Cairan merah pekat mengalir dan mengotori bentangan putih di sekitarnya. Menariknya, cairan ini tetap berada dalam wujud cair meskipun suhu di sana jauh di bawah titik beku—dan fenomena ini sudah berlangsung lebih dari satu abad.

Inilah Blood Falls di Antartika. Dan, isi perutnya ternyata jauh lebih aneh dari yang terlihat di permukaan.

Sebuah makalah baru yang terbit tahun ini di Antarctic Science akhirnya menguak bagaimana air terjun ini bisa menyembur keluar dari awal. Ini adalah kepingan terbaru dari teka-teki yang sudah coba dipecahkan para ilmuwan selama lebih dari seabad.

Waktu pertama kali menemukan lokasi ini pada tahun 1911, geolog asal Australia Griffith Taylor menduga warna merah itu berasal dari alga merah, dan langsung menamainya Blood Falls. Ternyata dugaannya keliru—itu bukan darah, juga bukan alga.

Blood Falls sudah jadi lokasi studi utama. (Kredit: NASA)

Faktanya, Blood Falls adalah hasil rembesan lambat air asin kaya zat besi yang terperangkap di bawah ujung utara Taylor Glacier selama setidaknya 1,5 juta tahun. Air laut purba ini terisolasi ketika gletser bergerak maju dan menutup kantong tersebut.

Seiring waktu, air itu makin pekat kadar garamnya—sampai sekarang lebih tepat disebut brine (air super asin) yang nggak bisa membeku di suhu biasa.

Begitu air ini akhirnya mencapai permukaan, ia bertemu dengan oksigen dan langsung teroksidasi, mirip proses karat. Makanya warnanya merah.

Selama puluhan tahun, nggak ada yang tahu persis bagaimana brine itu bisa naik dari sumbernya yang berada ratusan meter di dalam es ke permukaan.

Pada tahun 2017, tim yang dipimpin oleh peneliti dari University of Alaska Fairbanks akhirnya berhasil melacak rutenya. Mereka pakai radar untuk memetakan jalur sepanjang 300 meter lewat jaringan saluran bertekanan yang tersembunyi di dalam gletser.

Temuan mereka memecahkan teka-teki yang lebih aneh lagi: Kok bisa air cair bergerak melewati es sedingin ini?

Jawabannya: rasa asin brine menurunkan titik bekunya cukup rendah sehingga tetap cair. Malah, ketika sebagian brine membeku, proses itu melepaskan panas yang menghangatkan es di sekitarnya, sehingga saluran tetap terbuka.

“Meski kedengarannya nggak masuk akal, air justru melepas panas saat membeku, dan panas itu menghangatkan es dingin di sekelilingnya,” kata salah satu anggota tim, glasiolog Erin Pettit, waktu itu.

“Taylor Glacier sekarang jadi gletser terdingin yang diketahui punya aliran air terus-menerus.”

Tapi mungkin bagian paling mencengangkan dari Blood Falls bukanlah soal kimianya. Melainkan apa yang selama ini hidup di dalam kegelapannya.

Ratusan meter di bawah es, tertutup dari sinar matahari, oksigen, dan dunia luar selama lebih dari satu juta tahun, ada satu komunitas bakteri yang diam-diam bertahan hidup. Mereka pakai sulfat sebagai sumber energi utama, karena cuma itu yang tersedia di sana.

Mereka nggak pernah melihat sinar matahari. Nggak pernah ‘bernapas’ oksigen. Dan sudah ada di bawah sana sejak jauh sebelum manusia muncul.

Skema Blood Falls dan komunitas mikroba di bawah gletser
Skema Blood Falls dan komunitas mikroba subglasialnya. (Kredit: Zina Deretsky/US National Science Foundation/Public Domain/Wikimedia Commons)

Mikrobiolog Jill Mikucki, yang sekarang di University of Tennessee, butuh waktu bertahun-tahun cuma buat mendapatkan sampel air yang bisa dipakai. Tapi begitu akhirnya berhasil, analisisnya mengungkap ekosistem mikroba yang berkembang pesat.

Para ilmuwan juga nggak mengira ini cuma ada di Antartika. Blood Falls kini jadi lokasi studi kunci untuk astrobiologi—semacam tiruan dunia nyata dari lingkungan ekstrem, dingin, dan minim oksigen yang mungkin ada di tempat lain di Tata Surya.

Sampai sekarang, Blood Falls masih terus membocorkan rahasia baru.

Makalah terbaru di Antarctic Science yang dipimpin ilmuwan bumi Peter Doran dari Louisiana State University mengungkap proses di balik semburan Blood Falls.

Pada September 2018, timnya—hampir tanpa sengaja—menjalankan tiga instrumen sekaligus di dekat Taylor Glacier: stasiun GPS yang melacak permukaan gletser, kamera yang memotret Blood Falls setiap hari, dan rangkaian sensor suhu di danau di bawahnya.

Nggak ada satu pun alat yang khusus disiapkan buat menangkap peristiwa luapan. Tapi dalam apa yang disebut tim sebagai “kebetulan pengamatan yang selaras,” mereka justru berhasil merekamnya.

Gambar time-lapse Blood Falls
Gambar time-lapse dari kamera yang merekam Blood Falls. (Doran dkk., Antarct. Sci., 2026)

Selama beberapa minggu berikutnya, permukaan gletser turun sekitar 15 milimeter dan gerak majunya melambat hampir 10 persen.

Bersamaan dengan itu, danau mencatat anomali air dingin mendadak, dan kamera menangkap noda merah segar yang menyebar di Blood Falls hampir tiap hari.

Dengan kata lain, para ilmuwan menyaksikan sendiri bagaimana gletser berubah bentuk begitu brine keluar.

Kesimpulan mereka: begitu tekanan di kantong brine di bawah gletser menumpuk, air asin itu akhirnya memaksa keluar dalam bentuk denyutan-denyutan. Setiap denyutan ikut membentuk ulang es di atasnya, menurunkan permukaan dan memperlambat gerakan gletser, sebelum siklus diam-diam mengulang dan tekanan mulai membangun lagi.

Para peneliti bilang, pemantauan terus-menerus bisa membantu mengungkap apakah kejadian semacam ini makin sering atau makin intens seiring waktu. Blood Falls bisa jadi sistem peringatan dini yang nggak terduga tentang apa yang terjadi di dalam Taylor Glacier.

Terkait: Jalur Misterius Blood Falls Antartika Akhirnya Terungkap

Inilah alasan lain kenapa Blood Falls jadi salah satu tempat paling keren (secara harfiah!) dan paling memikat di Bumi.

Penelitian ini dipublikasikan di Antarctic Science.

Artikel ini telah diperiksa faktanya oleh Rebecca Dyer dan disunting oleh Clare Watson. Meskipun kami bangga dengan proses kami, kami tetap manusia. Kalau kamu menemukan kesalahan, tolong beri tahu kami.

(KoranPost)

Sumber: www.sciencealert.com
https://www.sciencealert.com/there-s-a-waterfall-in-antarctica-that-bleeds-red-here-s-what-s-hiding-inside-it

Share this post

July 1, 2026

Copy Title and Content
Content has been copied.

Teruskan membaca

Berikutnya

KoranPost

Administrator WhatsApp

Salam 👋 Apakah ada yang bisa kami bantu?