Studi Terbaru: Tungau Di Wajah Anda Kini Mulai Menyatu Dengan Tubuh Manusia

July 4, 2026

4 menit teks

Makhluk Mungil yang Tinggal di Wajahmu Mungkin Sedang ‘Menyatu’ dengan Tubuhmu

Kalau kamu baca ini, kemungkinan besar kamu nggak sendirian—secara harfiah. Sebagian besar manusia di Bumi jadi rumah buat tungau mikroskopis yang menghabiskan sebagian besar hidup singkatnya dengan bersembunyi di dalam folikel rambut kita, terutama di wajah. Parahnya lagi, posisinya kepala dulu yang masuk.

Faktanya, manusia adalah satu-satunya habitat buat Demodex folliculorum. Mereka lahir di tubuh kita, makan di tubuh kita, kawin di tubuh kita, dan mati di tubuh kita. Seluruh siklus hidup mereka cuma berkisar pada mengunyah sel kulit matimu sebelum akhirnya mokad dalam skala mikro.

Riset menunjukkan bahwa D. folliculorum begitu bergantung pada manusia sampai-sampai tungau ini sedang dalam proses berevolusi dari ektoparasit menuju simbion obligat—makhluk yang kemungkinan besar punya hubungan saling menguntungkan dengan inangnya (ya, kita).

Dengan kata lain, tungau ini pelan-pelan ‘melebur’ dengan tubuh kita, jadi begitu terspesialisasi sampai nggak bisa lagi hidup mandiri. Begitu menurut sebuah makalah tahun 2022 yang terbit di Molecular Biology and Evolution.

Dalam studi itu, para ilmuwan mengurutkan genom makhluk kecil yang ada di mana-mana ini, dan hasilnya menunjukkan bahwa kehidupan mereka yang sepenuhnya bergantung pada manusia mungkin memicu perubahan yang nggak ditemukan di spesies tungau lain.

“Kami menemukan bahwa tungau ini punya susunan gen bagian tubuh yang berbeda dari spesies sejenis lainnya karena mereka beradaptasi dengan kehidupan terlindung di dalam pori-pori,” jelas biolog invertebrata Alejandra Perotti dari University of Reading, Inggris.

“Perubahan pada DNA ini menghasilkan beberapa ciri tubuh dan perilaku yang nggak lazim.”

D. folliculorum sebenarnya makhluk kecil yang memesona. Limbah kulit manusia adalah satu-satunya sumber makanan mereka, dan sebagian besar hidup tiga minggu mereka dihabiskan buat mencarinya.

Mereka cuma muncul di malam hari, dalam gelap, buat merayap pelan banget melintasi kulit demi mencari pasangan, dan semoga bisa kawin sebelum balik lagi ke kegelapan folikel yang aman.

D. folliculorum terlihat dalam sediaan kalium hidroksida dari kulit manusia. (K.V Santosh/Flickr/CC BY 2.0)

Tubuh mungil mereka panjangnya cuma sepertiga milimeter, dengan sekumpulan kaki kecil dan mulut di salah satu ujung tubuh berbentuk sosis—bentuk yang pas banget buat merosot ke folikel rambut manusia demi mencapai makanan lezat di dalamnya.

Riset genom tungau ini, yang dipimpin bareng oleh ahli genetika Gilbert Smith dari Bangor University di Inggris dan biolog Alejandro Manzano-Marin dari University of Vienna, mengungkap beberapa karakteristik genetik memukau yang mendorong gaya hidup ini.

Karena hidup mereka begitu santai—sedikit ancaman alami, minim persaingan, dan jarang ketemu tungau lain—genom mereka menyusut jadi cuma esensial banget. Setiap kaki digerakkan oleh otot yang cuma terdiri dari tiga sel tunggal, dan tubuh mereka punya jumlah gen pengode protein paling sedikit, cuma yang diperlukan buat bertahan hidup. Ini jumlah terkecil yang pernah ditemukan di kelompok spesies terkait yang lebih luas.

Genom yang ringkas ini juga jadi alasan di balik beberapa keanehan lain D. folliculorum. Contohnya, alasan mereka cuma muncul malam hari. Di antara gen yang hilang adalah yang terlibat dalam perlindungan UV dan yang membangunkan hewan di siang hari.

Mereka juga nggak bisa memproduksi melatonin, hormon yang ditemukan di sebagian besar organisme hidup dengan beragam fungsi. Pada manusia, melatonin penting buat mengatur siklus tidur, sedangkan pada invertebrata kecil, hormon ini mendorong mobilitas dan reproduksi.

Tapi ini tampaknya bukan hambatan buat D. folliculorum; sebaliknya, peneliti menduga mereka mungkin memanfaatkan melatonin yang dikeluarkan kulit manusia saat senja.

Tungau Kulit yang Kawin di Wajah Kita Saat Malam Hari Mulai Menyatu dengan Manusia
Posisi penis D. folliculorum. Ini sama sekali nggak praktis. (University of Reading)

Beda dari tungau lain, organ reproduksi D. folliculorum bergeser ke arah depan tubuhnya; penis tungau jantan mengarah ke depan dan atas dari punggungnya. Artinya, si jantan harus mengatur posisi di bawah si betina sambil keduanya bertengger nggak stabil di atas sehelai rambut buat kawin, yang mereka lakukan semalaman—mungkin dengan gaya AC/DC.

Meski kawin itu penting banget, keragaman genetik mereka sangat terbatas; nyaris nggak ada peluang buat memperluas kolam gen. Peneliti menduga ini bisa membawa tungau ke jalan buntu evolusi.

Terkait: Wajahmu Dipenuhi Ribuan Makhluk Ini, dan Mereka Nggak Selalu Ramah

Menariknya, tim peneliti juga menemukan bahwa fase nimfa—antara larva dan dewasa—adalah saat tungau punya jumlah sel tubuh paling banyak. Begitu mereka lanjut ke tahap dewasa, mereka kehilangan sel. Ini ditafsirkan peneliti sebagai langkah evolusioner pertama arthropoda menuju gaya hidup simbiosis.

Mungkin kamu bertanya-tanya: apa sih manfaat yang bisa manusia dapat dari hewan aneh ini? Nah, sesuatu yang ditemukan peneliti mungkin sedikit memberi petunjuk.

Tungau Kulit yang Kawin di Wajah Kita Saat Malam Hari Mulai Menyatu dengan Manusia
Tanda panah menunjuk ke anus si tungau, dan sekarang kamu mungkin masuk daftar pantauan internet. (University of Reading)

Bertahun-tahun, ilmuwan mengira D. folliculorum nggak punya anus, dan malah menumpuk kotoran di tubuhnya sampai meledak saat tungau mati, yang akibatnya menyebabkan masalah kulit. Tapi tim peneliti menemukan bahwa anggapan ini keliru. Tungau ini ternyata memang punya lubang anus kecil-kecil; wajahmu kemungkinan besar nggak penuh kotoran tungau yang keluar setelah mereka mati.

“Tungau sering disalahkan atas banyak hal,” kata zoolog Henk Braig dari University of Bangor dan National University of San Juan, Argentina.

“Hubungan panjang dengan manusia mungkin menunjukkan bahwa mereka juga bisa punya peran sederhana tapi penting yang menguntungkan, misalnya menjaga pori-pori wajah kita agar nggak tersumbat.”

Riset ini diterbitkan di Molecular Biology and Evolution.

Artikel ini sudah dicek faktanya oleh Clare Watson dan disunting oleh Rebecca Dyer. Meski kami bangga dengan proses kami, kami tetap manusia. Kalau kamu menemukan kesalahan, tolong beri tahu kami.

(KoranPost)

Sumber: www.sciencealert.com
https://www.sciencealert.com/mites-live-on-your-face-and-theyre-starting-to-merge-with-humans

Share this post

July 4, 2026

Copy Title and Content
Content has been copied.

Teruskan membaca

Berikutnya

KoranPost

Administrator WhatsApp

Salam 👋 Apakah ada yang bisa kami bantu?