Terungkap: Kompas Kuantum Misterius di Hati Merpati yang Memandu Navigasi Mereka Pulang

June 4, 2026

3 menit teks

Jauh sebelum adanya aplikasi pesan di internet, merpati sudah jadi burung berharga dan dikembangbiakkan karena kemampuannya mencari jalan pulang melintasi jarak yang sangat jauh, dengan sebuah pesan terikat di kaki mereka.

Pentingnya ‘pos merpati’ dalam budaya manusia udah terbukti sejak 1350 SM, di mana mereka digambarkan dalam seni Mesir kuno.

Selama berabad-abad, burung-burung ini adalah bentuk komunikasi jarak jauh kita yang paling bisa diandalkan.

Sampai telegraf ditemukan, merpati pos (Columba livia domestica) ditugaskan membawa tak terhitung banyaknya kesepakatan bisnis penting, surat cinta, dan laporan perang yang mengubah jalannya sejarah manusia.

Tentara Angkatan Darat Swiss mengirim pesan melalui merpati pos selama Perang Dunia I. (Arsip Federal Swiss/Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0 ch)

Tapi meski kita udah bergantung lama banget sama burung-burung brilian ini, kita sebenarnya nggak tahu apa yang bikin kemampuan pulang mereka begitu akurat, atau di bagian tubuh mana kompas internal yang luar biasa ini berada.

Selama puluhan tahun, para ilmuwan udah mencurigai merpati, kayak burung dan hewan lainnya, mungkin mengandalkan medan magnet Bumi untuk memandu mereka.

Sekarang, sebuah tim dari Universitas Bonn dan Institut Perilaku Hewan Max Planck (MPIAB) di Jerman punya buktinya.

“Apa yang terlihat seperti ‘firasat perut’ dalam navigasi burung ternyata mungkin punya dasar fisik,” kata ahli biologi Martin Wikelski, direktur di MPI-AB dan salah satu penulis senior di makalah ini.

Kompas internal merpati pos, tampaknya, mungkin terletak di organ hati mereka, dengan konsentrasi zat besinya yang tinggi.

“Kami sudah punya petunjuk bahwa hati dan limpa memiliki sifat magnetik, karena mereka memecah sel darah merah dan karenanya menyimpan banyak zat besi di dalam tubuh,” kata ahli imunologi Clivia Lisowski dari Universitas Bonn.

Secara spesifik, tim mencurigai bahwa makrofag yang sarat zat besi – sel darah putih khusus – di hatilah yang berperan dalam navigasi.

Tarikan Misterius Kuantum dari Dalam Tubuh Mungkin Bantu Memandu Merpati Pulang
Gambar mikroskop elektron dari jaringan hati merpati menunjukkan makrofag hati (biru) yang terhubung dengan serat saraf (kuning), yang memungkinkan mereka mengirimkan informasi “magnetik” ke otak merpati. (Lisowski et al., Science, 2026)

Yang lebih aneh lagi adalah makrofag ini punya sifat kuantum yang disebut superparamagnetisme, yang mungkin bertindak sebagai ‘jarum’ kompas dalam arti yang cukup harfiah.

Merpati punya semua peralatan yang mereka butuhkan untuk ‘membaca’ kompas ini: Dengan melihat jaringan hati merpati dari dekat di bawah mikroskop, para peneliti menemukan serabut saraf yang mampu membawa sinyal dari makrofag langsung ke otak merpati.

Matahari sebenarnya udah jadi penanda navigasi yang cukup jelas bagi merpati hampir sepanjang waktu, tapi kompas kuantum internal di hati ini mungkin sangat penting saat hari mendung, begitu pikir para peneliti.

Untuk menguji teori itu, para peneliti membawa 34 merpati pos dalam sebuah uji coba, sejauh 19 kilometer dari rumah mereka di MPIAB, untuk melihat seberapa baik mereka bisa menemukan jalan pulang dalam kondisi mendung.

Sehari sebelum terbang, 18 merpati diberi suntikan clodronate, obat yang memusnahkan makrofag, sehingga menghancurkan koneksi antara sel-sel imun di hati merpati ini, dan neuron yang meneruskan sinyal ke otak.

Merpati yang nggak dikasih clodronate tiba di rumah dalam waktu 70 menit setelah dilepaskan.

Tapi mereka yang udah diputus dari kompas kuantum hatinya?

Mereka benar-benar nyasar.

“Nggak ada satu pun merpati yang diobati clodronate kembali di hari yang sama dalam kondisi mendung terus-menerus, alih-alih menunjukkan orientasi spasial yang acak,” lapor para penulis.

Namun, begitu cuaca cerah dan Matahari bersinar lagi, merpati yang diobati clodronate pulang dengan normal, dengan kemampuan terbang, motivasi, dan kesehatan umum mereka tetap utuh.

Berlangganan buletin ScienceAlert gratis yang sudah diperiksa faktanya

Mengulangi eksperimen ini di hari yang cerah, merpati yang diobati clodronate nggak kesulitan mencari jalan pulang, yang menunjukkan ‘kompas internal’ di hati mereka mungkin memang paling penting saat nggak ada Matahari untuk memandu jalan.

Banyak hewan berhasil bernavigasi melintasi jarak yang sangat jauh tanpa peta untuk memandu mereka: hiu di lautan yang gelap dan dalam; burung migran yang melintasi benua; kelelawar nokturnal; dan tikus mondok buta.

Penelitian lebih lanjut bisa mengungkap apakah mereka juga dipandu oleh sel imun kuantum yang punya kabel langsung ke otak.

Terkait: Ngengat Mungil Terlihat Bernavigasi dengan Bintang dalam Temuan Ilmiah Pertama

“Navigasi hewan adalah salah satu fenomena paling mempesona di alam,” kata Wikelski.

“Jika sel imun adalah bagian dari cara burung merasakan arah, itu secara fundamental akan mengubah cara kita memahami navigasi.”

Penelitian ini dipublikasikan di Science.

(KoranPost)

Sumber: www.sciencealert.com
https://www.sciencealert.com/a-mysterious-quantum-compass-may-be-hiding-inside-pigeons-livers

Share this post

June 4, 2026

Copy Title and Content
Content has been copied.

Teruskan membaca

Berikutnya

KoranPost

Administrator WhatsApp

Salam 👋 Apakah ada yang bisa kami bantu?