Di lautan dalam yang remang-remang, dunia yang penuh aturan “makan atau dimakan”, memancarkan cahaya mungkin terdengar seperti strategi bertahan hidup yang aneh. Tapi nyatanya, trik ini justru membantu banyak hewan bersembunyi dari predator yang mengintai dari bawah—cahaya tubuh mereka menyamarkan bayangan yang terbentuk saat berenang di bawah sinar tipis dari permukaan.
Nah, para ilmuwan sekarang menemukan bukti bahwa salah satu hewan bercahaya paling memukau di lautan ternyata selama ini mungkin menggunakan cahayanya dengan cara yang berbeda.
Hiu kitefin (Dalatias licha) adalah vertebrata bercahaya terbesar di dunia dan tidak punya predator alami yang diketahui.
Alih-alih sekadar menyembunyikan diri, hiu ini diduga menggunakan cahayanya seperti lampu sorot untuk mencari mangsa. Begitu laporan tim yang dipimpin oleh ahli biologi kelautan Julien Claes dari Université catholique de Louvain di Belgia.
“Yang berbeda adalah konteks selektifnya: identitas pengamat visual yang penginderaannya coba dihindari oleh organisme saat berevolusi,” tulis tim tersebut dalam makalah yang diterbitkan di iScience.
Kontrailuminasi adalah bentuk kamuflase yang ternyata cukup umum di lautan lepas.
Semakin dalam kamu menyelam, semakin sedikit cahaya yang bisa masuk. Cahaya terhambur dan diserap oleh molekul air hingga akhirnya lautan benar-benar gelap. Di dekat permukaan, kondisinya terang benderang; tapi di kedalaman beberapa ratus meter, semuanya menjadi buram dan remang-remang.
Hewan-hewan yang tinggal di zona ini biasanya punya penglihatan yang sangat peka terhadap sedikit cahaya yang masih tersaring ke bawah.
Hewan yang berenang di atas mereka bisa terlihat jelas sebagai siluet gelap di hadapan pendaran sinar dari atas. Bioluminesensi kontrailuminasi menerangi siluet itu sedikit saja sehingga menyatu dengan cahaya redup di sekitarnya.
Karena hiu kitefin—yang bioluminesensinya baru dikonfirmasi beberapa tahun lalu—tidak memiliki predator alami, maka cahayanya diduga bukan untuk menghindari kejaran, melainkan lebih untuk penyamaran.
Tapi penyamaran dari apa?

Biasanya, kontrailuminasi harus sangat presisi. Tidak cukup hanya sekadar menyala; cahayanya harus menyerupai cahaya sekitar yang ingin disembunyikannya.
Ada satu keanehan lain dari hiu kitefin yang membuat misteri ini semakin tajam.
Tidak seperti hewan lain yang menggunakan kontrailuminasi, bioluminesensi hiu kitefin menutupi hampir seluruh tubuhnya, termasuk sirip punggungnya. Kalau kamuflase satu-satunya tujuan, buat apa sirip punggungnya juga ikut menyala?
Untuk menyelidikinya, para peneliti memeriksa delapan hiu hidup yang tak sengaja tertangkap sebagai tangkapan sampingan saat survei di Chatham Rise, sebelah timur Selandia Baru.
Mereka mengajukan tiga pertanyaan: Seberapa terang cahayanya? Apa warnanya? Dan—yang paling penting—ke arah mana sinarnya mengarah?
Hasil pengukuran menunjukkan bahwa cahaya di bagian bawah hiu memiliki warna dan kecerahan yang sesuai untuk kontrailuminasi—cahaya biru-kehijauan dengan puncak panjang gelombang 491 nanometer.
Warna itu sangat mirip dengan sisa cahaya siang yang ada di kedalaman tersebut, sementara kecerahan pendarnya cocok dengan cahaya siang yang diperkirakan ada di kedalaman sekitar 480 hingga 540 meter (1.575 hingga 1.770 kaki)—pas banget di rentang habitat hiu ini.

Tapi kemudian muncul keanehan.
Saat peneliti melihat arah sinarnya, mereka menemukan bahwa alih-alih sama persis dengan pola cahaya siang yang datang dari atas, pendaran hiu kitefin menyebar ke samping, jauh lebih luas dibanding hewan kontrailuminasi lain yang mereka gunakan sebagai pembanding.
Efek ini paling kuat di bagian depan hiu—hidung, rahang, dan sirip dadanya.
“Satu penjelasan sederhana,” tulis para peneliti, “adalah bahwa pancaran samping berlebih ini berfungsi sebagai lampu sorot biologis, menerangi dasar laut di sisi hiu dan mungkin meningkatkan deteksi mangsa di lingkungan bentik yang gelap.”
Ini bukan ide yang terlalu aneh, kok. Makhluk laut lain, seperti ikan senter splitfin (Anomalops katoptron) dan ikan stoplight loosejaw (Malacosteus), juga menggunakan bioluminesensi untuk mencari mangsa.
Kedua strategi ini sebenarnya nggak saling bertentangan: Cahaya ke bawah bisa menyamarkan hiu dari mangsa yang ada di bawahnya, sementara kelebihan cahaya ke samping bisa menyoroti mangsa di kiri-kanannya.
Ini juga bisa membantu menjelaskan strategi bertahan hidup hiu kitefin. Hiu ini adalah hiu perenang paling lambat yang pernah tercatat, bergerak dengan kecepatan hanya 13 sentimeter per detik—tapi mangsanya sering kali adalah spesies cepat dan punya penglihatan tajam, seperti hiu lentera dan cephalopoda. Pendekatan berbasis penyamaran tentu masuk akal.
Tapi itu belum akhir dari keanehan hiu kitefin. Masih ingat sirip punggungnya yang menyala? Itu kamuflase yang benar-benar payah.
Pendaran di sirip punggung sekitar sepuluh kali lebih redup dibanding pendaran perut—tapi tetap seratus kali lebih terang dari cahaya sekitar yang datang dari bawah. Kalau kamu berenang di dasar laut dan mendekati hiu ini dari samping, siripnya akan bersinar seperti suar.

“Pola ini,” tulis para peneliti, “tidak cocok dengan fungsi kamuflase apa pun dan justru lebih konsisten dengan sinyal antarspesies atau penarik perhatian mangsa.”
Artikel terkait: Bioluminesensi di Bumi Ternyata Sudah Berevolusi Lebih dari 500 Juta Tahun Lalu, Temuan Studi
Namun, mereka juga mengingatkan bahwa, meskipun teori-teori ini masuk akal, untuk saat ini semuanya masih belum terkonfirmasi.
Penelitian ini dilakukan lewat pemeriksaan fisik hiu yang diangkat dari laut dalam dan diamati di atas kapal survei. Untuk memastikannya, kita perlu mengamati langsung bagaimana tingkah mereka di alam liar.
Tapi temuan ini memberi petunjuk bahwa pemahaman kita tentang kontrailuminasi masih belum lengkap.
Biasanya ini dipahami sebagai cara bersembunyi dari hal-hal yang mungkin memakanmu. Hiu kitefin bisa membalikkan ide itu—menggunakan trik yang sama untuk bersembunyi sekaligus mencari mangsa.
Temuan ini telah dipublikasikan di iScience.
Artikel ini sudah diperiksa faktanya oleh Peter Dockrill dan disunting oleh Peter Dockrill. Meski kami bangga pada proses kerja kami, kami hanya manusia. Kalau kamu menemukan kesalahan, tolong beri tahu kami.
(KoranPost)
Sumber: www.sciencealert.com
https://www.sciencealert.com/biological-searchlight-worlds-largest-glowing-vertebrate-may-use-its-light-to-hunt-prey















