Daur Ulang Plastik Jadi Obat Parkinson Lewat Bakteri, Terobosan Ilmiah Terbaru

April 7, 2026

3 menit teks

Para ilmuwan menemukan cara baru untuk membuat obat Parkinson – dari sampah plastik bekas.

Plastik yang dimaksud adalah polietilena tereftalat (atau PET), yang banyak dipakai untuk botol plastik dan kemasan lainnya, dan kini sudah sangat mengotori lingkungan kita.

Obatnya adalah levodopa, yang sering disebut sebagai “standar emas” untuk menangani masalah motorik yang menyertai penyakit Parkinson.

Sebuah tim yang dipimpin peneliti dari University of Edinburgh di Skotlandia menggunakan bakteri Escherichia coli yang sudah direkayasa secara khusus untuk mengubah plastik jadi produk farmasi, dengan cara yang berkelanjutan.

Metode baru ini nggak cuma bisa membantu (meski sedikit) mengurangi krisis polusi plastik kita, tapi juga menawarkan jalan untuk pengembangan obat yang ramah lingkungan. Cara pembuatan levodopa saat ini sangat bergantung pada bahan bakar fosil.

“Penelitian ini menunjukkan bagaimana biologi rekayasa bisa mengubah monomer aromatik turunan plastik menjadi obat-obatan bernilai tinggi untuk mengobati penyakit neurologis pada manusia,” tulis para peneliti dalam makalah mereka.

Proses barunya nggak sesimpel memasukkan botol plastik di satu ujung lalu dapat strip pil di ujung lain. Pertama, PET perlu dipecah dulu menjadi komponen-komponennya, termasuk asam tereftalat (TPA) yang nantinya akan diubah.

Dengan membangun jalur metabolisme baru di E. coli – semacam reaksi berantai kimia yang digerakkan oleh enzim – para peneliti berhasil membuat bakteri menyerap TPA dan mengubahnya jadi levodopa, menggunakan dua strain bakteri yang bekerja berurutan.

Biotechnologist Stephen Wallace memanen bakteri rekayasa. (Edinburgh Innovations)

Ini baru sekadar konsep awal di lab untuk sekarang, dan masih perlu banyak pengembangan untuk bisa ditingkatkan skala penggunaannya di industri. Tapi, ini menunjukkan potensi daur ulang berbasis bakteri yang bisa menghasilkan sesuatu yang benar-benar berguna.

“Rasanya ini baru permulaan. Kalau kita bisa membuat obat penyakit neurologis dari botol plastik bekas, membayangkan apa lagi yang bisa dicapai teknologi ini rasanya sangat mengasyikkan,” kata Stephen Wallace, bioteknolog dari University of Edinburgh.

“Sampah plastik sering dilihat sebagai masalah lingkungan, tapi ia juga merupakan sumber karbon yang sangat besar dan belum dimanfaatkan. Dengan merekayasa biologi untuk mengubah plastik jadi obat penting, kami menunjukkan bagaimana material buangan bisa diubah menjadi sumber daya berharga yang mendukung kesehatan manusia.”

Subscribe to ScienceAlert's free fact-checked newsletter

Para peneliti mengakui, meski seluruh pasokan levodopa di dunia dibuat lewat proses ini, dampaknya nggak akan terlalu signifikan bagi sekitar 100 juta ton plastik yang dibuang sebagai sampah setiap tahunnya.

Tapi ini bagian dari gambaran yang jauh lebih besar. Peneliti sekarang rutin menemukan cara berkelanjutan untuk mengubah plastik jadi benda lain, daripada membiarkannya tersebar di lingkungan atau memenuhi tempat pembuangan akhir.

Peneliti dari lab yang sama di University of Edinburgh sebelumnya telah menunjukkan bagaimana E. coli bisa direkayasa untuk mengubah plastik PET jadi parasetamol. Jadi, teknik seperti ini punya banyak potensi untuk bahan awal dan produk akhir yang beragam.

Upaya juga dilakukan untuk mengubah jenis plastik yang diproduksi dari awal. Kalau produk plastik memang dibuat lebih mudah terurai secara hayati sejak awal, itu bisa sangat membantu memudahkan pembuangannya setelah dipakai.

Dan tentu saja, ini jadi kabar bagus karena obat-obatan penting bisa segera diproduksi dari material limbah yang melimpah, bukan lagi mengandalkan pasokan bahan bakar fosil yang makin menipis.

Terkait: Terobosan Baru Bikin Obat Pereda Nyeri dari Limbah Kertas, Bukan dari Minyak

Pendanaan untuk studi terbaru ini sebagian diperoleh dari Engineering and Physical Sciences Research Council (EPSRC) di Inggris, yang merupakan bagian dari lembaga pemerintah UK Research and Innovation (UKRI).

“Penelitian ini menunjukkan potensi besar biologi rekayasa untuk mengatasi beberapa tantangan paling mendesak di masyarakat,” kata Charlotte Deane, ketua eksekutif di EPSRC, yang tidak terlibat langsung dalam penelitian ini.

Penelitian ini telah dipublikasikan di jurnal Nature Sustainability.

(KoranPost)

Sumber: www.sciencealert.com
https://www.sciencealert.com/scientists-figured-out-how-to-turn-plastic-waste-into-a-parkinsons-drug

Share this post

April 7, 2026

Copy Title and Content
Content has been copied.

Teruskan membaca

Berikutnya

KoranPost

Administrator WhatsApp

Salam 👋 Apakah ada yang bisa kami bantu?