Ilmuwan Peringatkan 21 Persen Sejarah Evolusi Tanaman Berbunga Terancam Punah Akibat Ulah Manusia

July 19, 2026

3 menit teks

Dari anggrek vanilla yang kita cintai, polongnya memberi rasa pada banyak hidangan penutup favorit kita, sampai bunga bangkai yang baunya menusuk hidung, tanaman berbunga paling berharga di dunia pun sedang dalam bahaya besar.

Dan para ilmuwan baru benar-benar sadar betapa banyak yang bakal kita kehilangan.

Di makalah terbaru yang terbit di Science, tim ahli biologi internasional memperingatkan bahwa kita berisiko kehilangan lebih dari seperlima sejarah evolusi tanaman berbunga, gara-gara tekanan manusia yang terus meningkat.

Menilai kepunahan spesies dari segi sejarah evolusi dan tingkat keterancamannya merupakan pendekatan yang relatif baru di dunia konservasi.

Anggrek vanilla adalah salah satu spesies EDGE yang terancam oleh perubahan iklim. (Sarah Lage/iStock/Getty Images)

Metode yang dikembangkan tahun 2007 oleh Zoological Society di London ini menggabungkan keunikan evolusi (ED) suatu spesies dengan risiko kepunahannya (global endangerment/GE).

Hasilnya adalah skor ‘EDGE’, yang membantu para ahli biologi mengidentifikasi spesies mana saja yang harus diprioritaskan dalam konservasi.

Skor EDGE secara khusus menyoroti nilai spesies yang mewakili cabang panjang dan terisolasi di pohon evolusi, kayak Ginkgo biloba, satu-satunya keturunan yang masih hidup dari garis keturunan yang sudah ada setidaknya 300 juta tahun lalu.

Laporan terbaru ini adalah kali pertama para ilmuwan memakai skor EDGE buat menilai risiko kepunahan tumbuhan berbunga (angiosperma).

Ilmuwan yang Meneliti Tanaman Berbunga Bumi Mengeluarkan Peringatan Keras untuk Umat Manusia
25 spesies EDGE teratas dari tumbuhan berbunga. (Forest et al., Science, 2026)

“Skor EDGE ini memberi info penting yang dibutuhkan untuk menyoroti spesies tak tergantikan dan terancam yang sering terabaikan, yang konservasinya akan membantu menjaga manfaat saat ini dan masa depan buat manusia serta seluruh kehidupan di Bumi,” ujar penulis utama studi, Félix Forest, ahli biologi evolusi tumbuhan di Kew Gardens.

Rikki Gumbs, ahli biologi dari Zoological Society di London dan salah satu pemimpin makalah ini, bilang pendekatan EDGE sudah memungkinkan para pegiat konservasi mengidentifikasi hewan-hewan terabaikan yang paling butuh tindakan konservasi darurat selama hampir dua dekade, sementara tanaman masih kurang terwakili.

“Bunga dan hutan bukan cuma latar kece buat foto lebah atau harimau,” katanya.

“Setiap tanaman adalah blok bangunan hidup yang esensial buat kehidupan di Bumi, menyediakan udara buat kita hirup dan makanan buat kita makan. Dengan menerapkan pendekatan EDGE ke tanaman berbunga, kita jadi lebih mampu melindungi ekosistem planet kita yang kaya dan ramai yang butuh miliaran tahun buat berkembang.”


Berlangganan newsletter ScienceAlert gratis yang sudah terverifikasi fakta

Dengan pendekatan ini, para peneliti menemukan bahwa 21,2 persen sejarah evolusi tumbuhan berbunga terancam punah.

Dari 335.497 spesies tanaman berbunga yang dianalisis, 9.945 masuk kualifikasi sebagai spesies EDGE — artinya sekitar 3 persen dari semua spesies tanaman yang dikenal itu unik secara evolusi sekaligus terancam punah secara global.

Ada beberapa nama akrab di daftar itu: Vanilla planifolia, tanaman yang bertanggung jawab atas rasa es krim paling klasik; Nymphaea thermarum, teratai terkecil di dunia; dan Amorphophallus titanum, si bunga raksasa bau busuk yang kita semua suka untuk benci, bareng banyak kerabatnya.

Ilmuwan yang Meneliti Tanaman Berbunga Bumi Mengeluarkan Peringatan Keras untuk Umat Manusia
Pohon ubur-ubur cuma tumbuh di Seychelles. (Christopher Kaiser-Bunbury/Wikimedia Commons/CC-BY-4.0)

Tapi pasti, masih banyak tanaman lain di daftar itu yang mungkin belum pernah kamu dengar: pohon ubur-ubur, Medusagyne oppositifolia, misalnya; atau Hondurodendron urceolatum, pohon yang jadi satu-satunya anggota hidup dari genusnya.

“Manfaat yang diberikan spesies EDGE ke masyarakat itu sama unik dan tak tergantikannya seperti spesies itu sendiri,” jelas ahli botani Kew, Matilda Brown.

“Kehilangan satu cabang di pohon kehidupan berarti potensi kehilangan obat kanker atau antibiotik yang jadi terobosan berikutnya, tanpa kesempatan kedua.”

Meski risiko kehilangan spesies-spesies khas ini mengkhawatirkan, ini juga bisa jadi peluang buat program konservasi tanaman di seluruh dunia untuk mengalokasikan sumber daya ke tempat yang paling berdampak buat keanekaragaman hayati.

Terkait: Ilmuwan Singkirkan Skenario Iklim Terburuk, Tapi Kita Belum Aman

“Dengan lebih dari dua dari lima tanaman diperkirakan terancam punah, dan 75 persen dari yang belum ditemukan diprediksi juga terancam, sekarang saatnya buat memulai generasi baru pemantauan dan aksi konservasi untuk spesies tumbuhan yang unik, terabaikan, dan terancam di Bumi,” pungkas para penulis.

Penelitian ini diterbitkan di Science.

Artikel ini sudah diperiksa faktanya oleh Rachel Garner dan disunting oleh Rebecca Dyer. Meski kami bangga sama proses kami, kami cuma manusia. Kalau kamu nemu kesalahan, tolong beri tahu kami.

(KoranPost)

Sumber: www.sciencealert.com
https://www.sciencealert.com/scientists-studying-earths-flowering-plants-issue-a-stark-warning-to-humanity

Share this post

July 19, 2026

Copy Title and Content
Content has been copied.

Teruskan membaca

Berikutnya

KoranPost

Administrator WhatsApp

Salam 👋 Apakah ada yang bisa kami bantu?