Mikroplastik Telah Mencapai Ventilasi Hidrotermal! 92% Hewan di Dasar Laut Terkontaminasi

August 9, 2026

3 menit teks

Planet kita jelas punya masalah besar soal mikroplastik. Serpihan sintetis mungil ini sudah berhasil menyusup ke batuan purba, tulang manusia, dan hampir semua spesies hewan di Bumi.

Nah, sekarang mereka ketemu lagi di salah satu sudut paling terpencil, paling kejam, dan paling jarang dijelajahi di planet ini.

Tim peneliti yang dipimpin oleh Korea Research Institute of Bioscience and Biotechnology (KRIBB) menemukan mikroplastik di tubuh siput dan kerang yang tinggal di sekitar ventilasi hidrotermal laut dalam.

Ventilasi ini ada di kedalaman sekitar 2.000 meter di bawah permukaan laut. Fakta ini menunjukkan betapa liciknya mikroplastik (ukurannya di bawah 5 mm) bisa menyusup ke setiap sudut ekosistem.

Studi ini tunjukin seberapa dalam mikroplastik bisa tenggelam di lautan. (Korea Research Institute of Bioscience and Biotechnology)

Dalam riset yang terbit di jurnal Water Research, serpihan plastik mungil itu ditemukan di 92 persen hewan yang diperiksa (11 dari 12 ekor). Sampelnya diambil dari Cekungan Fiji Utara di barat daya Samudra Pasifik dan Central Indian Ridge di Samudra Hindia.

“Polusi plastik kini sudah menyebar sampai ke ekosistem ventilasi hidrotermal laut dalam, yang dulunya dianggap sebagai salah satu lingkungan paling terisolasi di Bumi,” ujar Se-Joo Kim, biolog kelautan dari KRIBB.

Tempat gelap di kedalaman ini punya beberapa karakteristik memukau. Kehidupannya disokong oleh kepulan air laut super panas yang kaya zat kimia dan menyembur dari perut Bumi.

Sekarang kita jadi tahu, spesies yang tinggal di sana ternyata sudah mengemil mikroplastik yang tenggelam ke dasar. Rata-rata, tiap hewan mengandung 3,42 keping plastik. Jenis yang paling dominan adalah polistirena, plastik yang sudah dipakai luas sehari-hari.

Diagram mikroplastik
Beberapa faktor memengaruhi tingkat mikroplastik di tiap lokasi. (Lee et al., Water Res., 2026)

Para peneliti juga berhasil menguak fakta bahwa perilaku makan memengaruhi tempat menumpuknya mikroplastik di tubuh siput dan kerang. Pada siput (yang merumput di dasar laut), plastiknya menggerombol di organ pencernaan. Sementara di kerang (yang menyaring makanan dari air), sebaran plastiknya lebih merata.

“Di antara empat spesies ventilasi yang kami periksa, mikroplastik terdeteksi di hampir semua individu, tapi jumlahnya sangat bervariasi,” tulis para peneliti dalam makalahnya.

“Walau ada variasi antar individu, pola distribusi di jaringan tubuh tetap konsisten di tiap kelompok taksa. Artinya, begitu tertelan atau terserap, mikroplastik menyebar dengan cara yang berbeda antara siput dan kerang.”

Dengan mempelajari hewan laut dari dua lokasi berbeda, tim riset bisa mengamati perbandingan antar tempat. Siput dan kerang di Samudra Hindia ternyata punya konsentrasi mikroplastik yang jauh lebih tinggi di tubuhnya ketimbang yang di Pasifik barat daya.

Riset lebih lanjut masih dibutuhkan untuk tahu persis penyebabnya. Tapi, bisa jadi faktor-faktor seperti perbedaan aktivitas manusia dan polusi, pola sirkulasi laut, serta jaring-jaring sungai di tiap wilayah ikut bermain.

Langganan buletin ScienceAlert yang sudah terverifikasi faktanya

“Perbedaan antar wilayah yang lebih besar pada siput ketimbang kerang menunjukkan bahwa konsentrasi mikroplastik yang mengendap di permukaan ventilasi lebih bervariasi antar wilayah, dibanding konsentrasi yang melayang di kolom air,” tulis para peneliti.

“Temuan ini mendukung pengamatan di 16 provinsi biogeografis bahwa lokasi geografis punya pengaruh lebih kuat pada jumlah mikroplastik di tubuh invertebrata laut bentik, dibanding kelas taksonomi atau cara makannya.”

Sekhawatir apa pun saat melihat mikroplastik bisa jalan-jalan sejauh ini di bawah laut, data ini setidaknya memberi kita gambaran soal masalahnya. Tentu ini menambah urgensi buat mempercepat upaya mengurangi polusi plastik lewat perbaikan daur ulang dan material alternatif.

Membersihkan plastik dari lingkungan laut dalam itu sama sekali tidak praktis. Artinya, masalah ini mesti ditangani dari sumbernya langsung.

Kita memang belum sepenuhnya paham seberapa parah mikroplastik merusak kesehatan. Tapi, petunjuk awal sudah cukup bilang—seperti yang kita duga—serpihan plastik mungil di dalam tubuh dan makanan kita itu bukan kabar baik.

Artikel terkait: Ada Cara yang Mengejutkan Simpel untuk Menyaring Mikroplastik dari Air Minum

Studi sebelumnya mengaitkan konsumsi mikroplastik dengan penyakit seperti Parkinson serta kanker usus besar. Dan di era modern ini, mustahil rasanya buat lepas dari mereka.

“Temuan kami menyediakan bukti ilmiah penting untuk menyusun sistem pemantauan lingkungan laut dalam serta kebijakan konservasinya di masa depan,” kata Kim.

Penelitian ini telah dipublikasikan di Water Research.

Artikel ini sudah dicek faktanya oleh Rachel Garner dan disunting oleh Fiona MacDonald. Meski kami selalu teliti, kami tetap manusia biasa. Kalau kamu menemukan kesalahan, tolong beri tahu kami.

(KoranPost)

Sumber: www.sciencealert.com
https://www.sciencealert.com/most-isolated-environments-microplastics-are-finding-their-way-down-to-deep-sea-hydrothermal-vents

Share this post

August 9, 2026

Copy Title and Content
Content has been copied.

Teruskan membaca

Berikutnya

KoranPost

Administrator WhatsApp

Salam 👋 Apakah ada yang bisa kami bantu?