Piramida Kuno P’urhépecha di Meksiko Runtuh akibat Cuaca Ekstrem, Dianggap Pertanda Buruk

June 16, 2026

3 menit teks

Cuaca ekstrem dan naiknya permukaan laut membahayakan situs warisan berharga di seluruh dunia.

Contoh nyata dari fenomena ini terjadi pada 2024, ketika sebuah piramida batu di Meksiko tumbang akibat iklim global yang makin kacau.

Pada malam 29 Juli, monumen persegi setinggi 15 meter yang terletak di negara bagian Michoacán tiba-tiba ambruk karena hujan deras yang tak henti-hentinya. Dinding selatannya runtuh menjadi tumpukan puing.

Piramida ini dulunya adalah salah satu monumen terawat dari peradaban Kerajaan Michoacán. Letaknya di Ihuatzio, sebuah situs arkeologi yang terawat luar biasa, lengkap dengan satu piramida lain, menara atau benteng, serta beberapa makam.

Situs ini pertama kali ditempati 1.100 tahun lalu oleh kelompok adat penutur bahasa Nahuatl. Belakangan, tempat ini jadi markas besar suku P’urhépecha, satu-satunya kekaisaran yang gagal ditaklukkan Aztec. Budaya mereka pun masih lestari sampai sekarang.

Hanya satu piramida di situs itu yang rusak, tapi petugas dari Institut Nasional Antropologi dan Sejarah Meksiko (INAH) menyebutkan setidaknya enam bagian struktur berundaknya mengalami kerusakan, termasuk dinding luar, inti, dan dinding penahannya.

Mereka menyalahkan cuaca ekstrem yang terjadi sebelum peristiwa itu.

Runtuhnya dinding selatan piramida di Ihuatzio. (Ramiro Aguayo/INAH)

Sepanjang Juli 2024, puncak musim panas di Belahan Bumi Utara, hujan deras dan badai petir menghajar sebagian besar Meksiko. Ini terjadi setelah kekeringan terparah di negeri itu dalam 30 tahun, saat hujan begitu langka sampai beberapa danau mengering total.

“Suhu tinggi yang sebelumnya tercatat di area tersebut, serta kemarau panjang yang menyusul, menimbulkan retakan yang memudahkan air meresap ke bagian dalam bangunan pra-Hispanik,” begitu isi pernyataan INAH.

Dari situlah keruntuhan nyaris tak terhindarkan. Kini para pejabat fokus memperbaiki struktur bangunan itu “demi menjaga warisan budaya masyarakat Meksiko.”

Tugas para arkeolog memang mempelajari perilaku manusia di masa lalu, tapi mau tak mau, pekerjaan mereka juga terdampak aktivitas manusia zaman sekarang.

Cuaca ekstrem dan naiknya permukaan air laut, yang didorong oleh perubahan iklim akibat ulah manusia, terbukti jadi gangguan serius bagi situs-situs penting dari peradaban lampau.

Baru-baru ini, para arkeolog menemukan bahwa lukisan gua kuno di Oseania memburuk seiring perubahan iklim yang makin cepat.

Dan tahun lalu, sebuah studi tentang material bangunan warisan budaya di Eropa dan Meksiko menemukan bahwa saat curah hujan meningkat drastis, bangunan-bangunan itu langsung terancam rusak.

Piramida INAH
Sudut lain piramida di Ihuatzio, menunjukkan dinding selatannya yang runtuh. (Ramiro Aguayo/INAH)

Menurut Tariakuiri Alvarez, yang menyebut dirinya sebagai keturunan langsung suku P’urhépecha, leluhurnya bakal mengartikan runtuhnya piramida di Ihuatzio sebagai “pertanda buruk”.

Dalam sebuah unggahan di Facebook, Alvarez bilang sebelum penjajah asing tiba di Meksiko, kejadian serupa pernah terjadi, dan itu karena para dewa “nggak berkenan”.

Baca Juga: Misteri ‘Persembahan untuk Para Dewa’ Berusia 2.500 Tahun Akhirnya Teridentifikasi

Beberapa hari sebelum piramida di Meksiko ambrol, ‘Double Arch’ ikonik di Utah juga runtuh, kemungkinan besar gara-gara perubahan tinggi air dan erosi.

Situs warisan seperti ini adalah tempat tak ternilai yang ingin kita jaga demi generasi mendatang. Menyaksikan mereka runtuh akibat iklim yang sudah drastis berubah karena ulah kita sendiri adalah pemandangan yang bikin frustasi—dan bukan cuma buat para dewa.

Versi sebelumnya dari artikel ini diterbitkan pada Agustus 2024.

(KoranPost)

Sumber: www.sciencealert.com
https://www.sciencealert.com/bad-omen-an-ancient-pyramid-in-mexico-collapsed-into-a-heap-of-rubble

Share this post

June 16, 2026

Copy Title and Content
Content has been copied.

Teruskan membaca

Berikutnya

KoranPost

Administrator WhatsApp

Salam 👋 Apakah ada yang bisa kami bantu?