Bukan Hanya PBNU! Savic Ali Beberkan Sumber Kekuatan NU yang Sesungguhnya di Pra-Muktamar Ciganjur

July 5, 2026

2 menit teks

Jakarta, NU Online

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Mohamad Syafi’ Alielha (Savic Ali) menilai kekuatan Nahdlatul Ulama (NU) tidak semata-mata bergantung pada kepengurusan PBNU. Menurutnya, organisasi tetap bisa berjalan karena warga NU (Nahdliyin) telah memiliki pemahaman yang kuat tentang nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah serta AD/ART yang sudah mengakar.

Hal itu disampaikan Savic dalam acara Halaqah Pra Muktamar Qo Vadis NU? Apakah NU Masih Milik Ummat? di Pesantren Luhur Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada Sabtu (4/7/2026).

“Yang membuat NU bertahan bukan karena PBNU-nya oke atau enggak oke. PBNU semuanya libur, pulang kampung semua, saya kira NU masih jalan. Jadi Rais Aam maupun Gus Yahya pulang kampung, ibaratnya mengurus pondoknya masing-masing, NU masih jalan karena semua orang NU memahami bahwa NU berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah,” jabarnya.

“Bahkan AD/ART saja, karena dokumen itu menyebar, banyak yang bukan pengurus pun membacanya,” sambungnya.

Savic juga meyakini bahwa berbagai dinamika internal yang terjadi saat ini tidak akan berdampak berarti bagi keberlangsungan NU dalam jangka panjang.

“Artinya, sudah ada garisnya. Secara keagamaan sudah punya garis, belum lagi kitab-kitab kuning, mekanisme pengambilan keputusan, qawa’idul fiqhiyah, dan segala macam,” katanya.

Lebih lanjut, Savic melihat perkembangan NU yang didukung oleh percepatan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) sejak era Reformasi. “Oleh akses pendidikan yang terbuka serta beasiswa yang semakin banyak,” katanya.

Ia pun memperkirakan situasi organisasi akan kembali normal setelah Muktamar NU ke-35 selesai dilaksanakan pada 1-5 Agustus 2026. Dalam kondisi itu, kader-kader NU dinilai akan lebih leluasa menuangkan gagasan dan berkontribusi di berbagai sektor.

Penguatan Tata Kelola PBNU

Sementara itu, Manajer Riset dan Data Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Seknas FITRA), Badiul Hadi, menilai NU memiliki ekosistem yang sangat kokoh, terutama secara kultural. Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan modernisasi organisasi ke depan semakin besar sehingga tata kelola organisasi perlu terus diperkuat.

Menurutnya, tantangan itu juga tampak dari dorongan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) agar NU mampu bersaing di tingkat global.

“Kegelisahan yang luar biasa di tubuh PBNU itu menunjukkan adanya tantangan tata kelola organisasi yang lebih modern ke depannya, dan itu mau tidak mau harus diikuti karena semangat berdirinya NU adalah semangat yang luar biasa dalam politik global,” katanya.

Badiul memandang, sejak awal berdiri lewat perjuangan Komite Hijaz yang dipelopori KH Abdul Wahab Hasbullah atas mandat KH Hasyim Asy’ari, hingga masa kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, NU selalu memiliki orientasi global.

Dengan alasan tersebut, ia menilai penguatan tata kelola organisasi menjadi fondasi penting agar NU mampu memperkuat perannya di tingkat internasional.

“Fondasi global ini memerlukan tata kelola yang luar biasa. Tidak hanya digdaya secara aplikasi, tetapi juga digdaya secara struktural dan digdaya secara organisasi. Itu penting,” terangnya.

(KoranPost)

Sumber: www.nu.or.id
https://www.nu.or.id/nasional/pra-muktamar-di-ciganjur-savic-ali-nilai-kekuatan-nu-tak-hanya-bergantung-pada-pbnu-ld2LI

Share this post

July 5, 2026

Copy Title and Content
Content has been copied.

Teruskan membaca

Berikutnya

KoranPost

Administrator WhatsApp

Salam 👋 Apakah ada yang bisa kami bantu?