Manusia, Super Predator yang Lebih Ditakuti Satwa Afrika Dibanding Singa

July 7, 2026

3 menit teks

Singa memang didesain untuk meneror. Dengan cakar setajam pisau, tubuh berotot kekar, penglihatan tajam, refleks kilat, dan rahang bertaring yang menghancurkan, singa jelas bukan predator yang ingin dicari masalah oleh hewan lain.

Tapi coba tebak? Dari ribuan rekaman satwa liar di sabana Afrika, 95 persen spesies justru menunjukkan ketakutan yang jauh lebih besar pada sesuatu yang lain.

Makhluk ini bahkan secara teknis bukan predator puncak.

Makhluk itu adalah kita: manusia.

“Singa adalah predator darat pemburu kelompok terbesar di planet ini, jadi seharusnya mereka yang paling menakutkan,” ujar Michael Clinchy, ahli biologi konservasi dari Western University di Kanada, pada tahun 2023.

“Ketakutan terhadap manusia ini sudah mendarah daging dan meluas,” lanjut Clinchy. “Ada anggapan bahwa hewan akan terbiasa dengan manusia kalau mereka tidak diburu. Tapi kami sudah membuktikan bahwa anggapan itu salah.”

Dalam penelitian yang diterbitkan tahun 2023, ahli ekologi dari Western University, Liana Zanette, dan timnya memutar serangkaian suara pada hewan-hewan di sumber air di Taman Nasional Greater Kruger, Afrika Selatan, lalu merekam respons mereka.

Kawasan lindung ini adalah rumah bagi populasi singa (Panthera leo) terbesar yang tersisa di dunia, jadi mamalia lain di sana sudah sangat paham bahaya yang ditimbulkan oleh karnivora ini.

Para peneliti menyiarkan suara percakapan manusia dalam bahasa lokal, termasuk Tsonga, Sotho Utara, Inggris, dan Afrikaans, serta suara perburuan manusia seperti gonggongan anjing dan tembakan. Mereka juga memutar suara singa yang sedang berkomunikasi satu sama lain.

“Kuncinya adalah bahwa vokalisasi singa yang kami putar itu berupa geraman dan dengusan, semacam ‘percakapan’ di antara mereka, bukan auman ke arah satu sama lain,” jelas Clinchy.

“Dengan begitu, vokalisasi singa bisa langsung dibandingkan dengan suara manusia yang sedang bercakap-cakap.”

Tapi tidak semua subjek eksperimen menghargai usaha para peneliti.

“Suatu malam, rekaman singa membuat seekor gajah marah besar sampai dia menyerbu dan menghancurkan seluruh peralatan kamera kami,” kata Zanette.

Respons yang cukup masuk akal sih!

Hampir semua dari 19 spesies mamalia yang diamati dalam eksperimen ini dua kali lipat lebih mungkin meninggalkan sumber air ketika mendengar suara manusia dibandingkan suara singa atau bahkan suara perburuan. Mamalia-mamalia itu termasuk badak, gajah, jerapah, macan tutul, hyena, zebra, dan babi hutan—beberapa di antaranya juga bisa berbahaya.

Sejak saat itu, beberapa peneliti yang sama membawa eksperimen mereka ke belahan dunia lain—dengan hasil yang sama persis.

Studi tahun 2024 yang diterbitkan di Proceedings of the Royal Society B menemukan bahwa kanguru, walabi, dan marsupial Australia lainnya jauh lebih takut pada manusia dibandingkan predator mana pun—meskipun manusia baru ada di Australia sekitar 60.000 tahun, hanya sepotong waktu kecil dibandingkan mamalia Afrika yang hidup berdampingan dengan singa selama jutaan tahun.

Rasa takut ini, tampaknya, nggak butuh jutaan tahun pengkondisian evolusi. Ketakutan ini berjalan lebih dalam dan lebih cepat dari itu.

Secara keseluruhan, penelitian tentang ketakutan hewan terhadap manusia kini mencakup Afrika, Asia, Eropa, Amerika Utara, dan Australia. Di setiap benua yang diuji, polanya sama: satwa liar di seluruh dunia takut pada “super predator” manusia lebih dari hewan lain mana pun di Bumi.

Sebagai hewan paling mematikan di planet ini dan pendorong utama evolusi, manusia—sayangnya—memang pantas mendapatkan setiap detak jantung ketakutan yang kita timbulkan pada makhluk lain.

“Yang secara spesifik memicu ketakutan terbesar adalah mendengar vokalisasi manusia,” jelas tim peneliti dalam makalah mereka, “menunjukkan bahwa satwa liar mengenali manusia sebagai bahaya sesungguhnya, sementara gangguan terkait seperti gonggongan anjing hanyalah proksi yang lebih lemah.”

Mengingat betapa tersebarnya manusia sekarang, melarikan diri dari kita hanya akan menjadi situasi sementara, yang berarti mamalia-mamalia ini sayangnya akan terus terpicu rasa takutnya.

Ini bukan kabar baik untuk populasi banyak spesies sabana yang sudah menurun, termasuk jerapah. Seperti yang ditunjukkan penelitian sebelumnya oleh tim ini, rasa takut yang terus-menerus saja sudah bisa mengurangi populasi hewan mangsa dari generasi ke generasi.

Tapi para ahli biologi konservasi mungkin bisa memanfaatkan pengetahuan ini untuk membantu spesies-spesies tersebut. Dengan memutar suara percakapan manusia di area yang diketahui rawan perburuan di Afrika Selatan, mereka berharap bisa menjauhkan badak putih selatan yang terancam punah dari bahaya.

“Menurut saya, meluasnya rasa takut ini di seluruh komunitas mamalia sabana adalah bukti nyata dampak lingkungan yang ditimbulkan manusia,” kata Zanette.

“Bukan cuma lewat hilangnya habitat, perubahan iklim, dan kepunahan spesies—yang semuanya penting. Tapi kehadiran kita saja di lanskap itu sudah cukup menjadi sinyal bahaya yang membuat mereka merespons dengan sangat kuat. Mereka takut setengah mati pada manusia, jauh melebihi predator lain mana pun.”

Penelitian ini diterbitkan di Current Biology dan Proceedings of the Royal Society B.

(KoranPost)

Sumber: www.sciencealert.com
https://www.sciencealert.com/one-super-predator-in-africa-instills-more-fear-than-lions

Share this post

July 7, 2026

Copy Title and Content
Content has been copied.

Teruskan membaca

Berikutnya

KoranPost

Administrator WhatsApp

Salam 👋 Apakah ada yang bisa kami bantu?