Asteroid Pembunuh Dinosaurus Adalah Meteorit Terlangka di Tata Surya, Membuat Dampaknya Jauh Lebih Mematikan

July 22, 2026

3 menit teks

Dinosaurus memang sempat berkuasa cukup lama di Bumi, tapi ketika waktunya habis, habis total—nggak ada ampun.

Sekitar 66 juta tahun silam, sebuah asteroid raksasa menghantam wilayah yang sekarang kita kenal sebagai Semenanjung Yucatán, Meksiko. Tabrakan itu memicu kebakaran hutan global, tsunami setinggi gedung, pengasaman lautan, letusan gunung berapi, dan gempa bumi dahsyat.

Puing-puing membungkus langit, menghalangi sinar matahari dan mendinginkan planet. Tanaman mati, dan rantai makanan pun runtuh total.

Hari itu jelas bukan hari yang baik buat siapa pun. Tapi ternyata, dinosaurus lagi apes-apesnya: sederet kebetulan sial berderet rapi untuk melenyapkan mereka.

Banyak peneliti menduga, kalau saja asteroid itu jatuh hampir di titik lain mana pun di Bumi, atau menghantam dengan sudut yang berbeda, tingkat kehancurannya mungkin nggak bakal separah itu.

Bahkan waktu kejadiannya—tepat di tengah musim semi di Belahan Bumi Utara—ikut memperkecil peluang makhluk-makhluk di belahan dunia tersebut buat pulih.

Studi terbaru yang terbit di jurnal Science Advances menambahkan satu lagi elemen kesialan ke dalam daftar: batuan pembunuh itu sendiri ternyata jenis meteorit yang super langka, bahkan mungkin berasal dari bagian luar Tata Surya.

Irisan meteorit chondrite berkarbon. (Shiny Things/Wikimedia Commons/CC BY 2.0)

Sebelumnya, kita sudah tahu kalau si pembunuh ini termasuk golongan chondrite berkarbon, kelas meteorit yang jumlahnya kurang dari lima persen dari seluruh meteorit yang jatuh ke Bumi.

Tapi riset terbaru ini menemukan bahwa batuan pemusnah dinosaurus itu masuk ke subkelompok yang lebih spesifik: meteorit Carbonaceous Ornans (CO). Jumlahnya cuma secuil dari yang udah sedikit itu.

Biasanya, Jupiter bertindak sebagai kiper gravitasi yang lumayan jago, menahan batuan luar angkasa dari pinggiran Tata Surya biar nggak nyelonong masuk ke wilayah kita.

Memang sih, kadang-kadang ada batu kecil yang lolos dari pengawasannya. Tapi meloloskan monster selebar 10 kilometer yang bisa mengakhiri dunia? Itu blunder yang cukup memalukan.

“Chondrite berkarbon dari kelas Ornans sama sekali nggak mirip sama meteorit biasa yang bisa lo lihat di museum,” kata Philippe Claeys, geolog dari Vrije Universiteit Brussel, Belgia.

“Dihantam proyektil langka dan jauh kayak gini bener-bener menegaskan betapa sialnya dinosaurus.”

Buat melacak asal-usul sang penabrak, para peneliti melakukan semacam analisis forensik—hanya saja kali ini TKP-nya meliputi seluruh planet.

Lapisan tanah liat bukti hantaman asteroid
Residu dari tumbukan Cretaceous-Paleogene. Lapisan batas KT yang gelap dan kaya tanah liat di Stevn’s Klint, Denmark, digunakan dalam studi ini. (Dr Philippe Claeys)

Batas Cretaceous-Paleogene (K-Pg) adalah lapisan geologis yang menandai akhir era dinosaurus dengan garis hitam tegas di bebatuan.

Tim peneliti menganalisis sampel dari lapisan ini di lima lokasi berbeda: satu di Denmark, satu di Spanyol, dan tiga di Italia. Hasilnya lalu dibandingkan dengan sampel dari 11 meteorit chondrite berkarbon dari berbagai subkelompok.

Mereka secara spesifik membedah kandungan nikel di dalam sampel. Elemen ini konsentrasinya jauh lebih tinggi di meteorit primitif dibanding di kerak Bumi, dan setiap tipe meteorit punya semacam “tanda tangan” isotop nikel yang khas.

Nikel diisolasi dan dimurnikan dari sampel, lalu isotopnya dianalisis dan dibandingkan satu per satu.

Dan hasilnya cukup meyakinkan: bukti terkuat menunjuk ke kelompok CO.

“Analisis ini dengan mudah menyingkirkan sebagian besar komposisi penabrak lain yang potensial, termasuk chondrite karbon Mighei yang selama ini paling difavoritkan di literatur,” tulis para peneliti dalam makalahnya.

Terkait: Saat Asteroid Pemusnah Dinosaurus Menghantam, Makhluk Hidup Ini Justru Berpesta di Atas Kematian

Mengungkap identitas batu pembunuh ini memunculkan beberapa implikasi menarik tentang bagaimana hari nahas itu berlangsung.

Selama ini, belerang sering disalahkan sebagai aktor kunci dalam kondisi kiamat yang muncul kemudian—uap belerang di atmosfer bukan cuma menghalangi Matahari, tapi juga jatuh sebagai hujan asam yang mencemari tanah dan lautan selama ribuan tahun.

Tapi menelusuri penabrak ke tipe meteorit ini berarti belerang mungkin bukan penjahat utama cerita ini.

“Meteorit CO punya kandungan elemen volatil yang jauh lebih sedikit—seperti karbon, seng, air, dan terutama belerang—dibanding kelas meteorit lain yang sejauh ini kita temukan di Bumi. Ini nggak mengubah teori tentang apa yang menyebabkan kepunahan massal, tapi bikin kemungkinan bahwa belerang dari si penabrak sebagai tersangka utama jadi lebih kecil,” jelas Claeys.

“Debu halus yang dilontarkan ke atmosfer adalah faktor utamanya.”

Cerita ini cukup bikin kita ingin terus memantau batu antariksa nyasar yang mungkin sedang meluncur ke arah kita.

Riset ini dipublikasikan di jurnal Science Advances.

Artikel ini telah melalui pengecekan fakta oleh Rachel Garner dan disunting oleh Rebecca Dyer.

(KoranPost)

Sumber: www.sciencealert.com
https://www.sciencealert.com/a-rare-distant-space-rock-killed-the-dinosaurs-and-it-reveals-just-how-unlucky-they-were

Share this post

July 22, 2026

Copy Title and Content
Content has been copied.

Teruskan membaca

Berikutnya

KoranPost

Administrator WhatsApp

Salam 👋 Apakah ada yang bisa kami bantu?