Bayangkan ada parasit yang bisa bikin kamu hidup 10 kali lebih lama dari umur normal—plus bikin semua orang di sekitarmu memperlakukanmu bak bangsawan.
Kedengarannya kayak deal yang mantap banget, ya? Tapi tentu aja, ada sisi gelapnya.
Sang parasit cuma pengin kamu jadi makhluk pemalas, gampang disantap predator gede—karena usus predator itulah tempat favorit si parasit buat berkembang biak.
Mungkin ini terdengar kayak premis film horor indie yang seru, tapi nyatanya ini kenyataan hidup para semut Temnothorax nylanderi. Kini, berkat studi baru di jurnal BMC Genomics, kita jadi lebih paham soal biologi di balik cerita aneh ini.
Waktu larva semut spesies ini memakan kotoran burung pelatuk, mereka bisa terinfeksi cacing pita Anomotaenia brevis—dan dari sinilah siklus licik ini bermula.
Semut yang terinfeksi mulai berubah warna, jadi kuning pucat, bukan cokelat gelap seperti biasanya. Mereka juga cenderung nggak tumbuh sebesar teman-teman sesarangnya, bahkan aroma tubuh mereka pun berubah—faktanya, mereka kayaknya mengeluarkan feromon yang ditafsirkan semut lain sebagai feromon ratu.
Alhasil, para semut pekerja langsung gulung karpet merah buat semut terinfeksi ini. Mereka bawakan makanan, angkut ke sana-kemari, dan rawat mereka dengan telaten—sampai merugikan anggota koloni lainnya.
Sementara itu, semut terinfeksi benar-benar menikmati gaya hidup barunya ini. Mereka cuek aja sama tugas-tugas mereka, jarang banget keluar sarang sepanjang umur panjang mereka, sementara generasi demi generasi pekerja normal melayani setiap keinginan mereka.
Dan selama ini, larva cacing pita cuma nunggu waktu yang tepat. Akhirnya, seekor burung pelatuk bisa aja mampir, dan selagi semut-semut sehat kabur menyelamatkan diri, yang terinfeksi cuma diam tak berdaya, jadi camilan gampang.

Akhirnya, larva cacing pita bisa mencapai tujuan utamanya: usus burung. Di sana, mereka berkembang jadi cacing pita dewasa, berkembang biak, dan bertelur—yang kemudian dikeluarkan lagi lewat kotoran burung pelatuk, memulai seluruh siklus dari awal.
Tapi secara biologis, gimana caranya cacing pita bisa melakukan manipulasi seekstrem ini dari dalam tubuh semut?
Buat mencari tahu, tim ahli biologi dari Johannes Gutenberg University of Mainz (JGU) di Jerman dan Zhejiang University di China menyelidiki ekspresi gen pada semut yang terinfeksi dan yang nggak terinfeksi, juga pada semut ratu.
Para peneliti memeriksa otak semut dan badan lemak—semacam jaringan pada serangga yang berfungsi buat metabolisme dan sistem imun.

Nggak terlalu mengejutkan, tim menemukan bahwa ekspresi gen di badan lemak ratu punya lebih banyak kesamaan dengan semut pekerja terinfeksi ketimbang yang nggak terinfeksi.
“Analisis genetik kami menunjukkan bahwa infeksi ini bukan sekadar bikin semut sakit, tapi mengubah fisiologi mereka dengan cara yang sangat terarah,” ujar Susanne Foitzik, penulis utama studi ini dan ahli ekologi perilaku di JGU.
“Di tingkat molekuler, semut pekerja yang terinfeksi menunjukkan profil yang sebagian mirip ratu.”
Perubahan ini terkait dengan metabolisme, sistem imun, stres, dan penuaan—yang membantu menjelaskan kenapa mereka hidup lebih lama dan kenapa semut lain memberi mereka “perlakuan kerajaan”.

Menariknya, kemiripan antara ratu dan semut pekerja terinfeksi ini hilang saat peneliti mengamati otak mereka. Semut terinfeksi kayaknya punya molekul sinyal dan reseptor yang ditekan, yang mungkin bisa menjelaskan kenapa mereka kehilangan total etos kerja yang jadi ciri khas serangga rajin ini.
Tapi anehnya, para peneliti menemukan bahwa molekul sinyal di otak semut terinfeksi nggak benar-benar mirip dengan yang diproduksi si parasit.
Ini bisa mematahkan satu hipotesis: bahwa cacing pita menggunakan peptida mereka sendiri buat membajak otak inangnya.
“Data justru menunjukkan bahwa parasit memengaruhi semut secara nggak langsung dengan mencampuri jaringan regulasi milik inangnya sendiri, yang mengontrol metabolisme, sistem imun, penuaan, dan perilaku, di antara proses-proses lainnya,” kata Giulia Blasi, penulis pertama studi dan ahli biologi di JGU.
Terkait: Ratu Semut Hasilkan Keturunan dari Dua Spesies Berbeda, Ilmuwan Tercengang
Cacing pita ini bukanlah satu-satunya parasit yang memangsa semut dengan cara yang layak diangkat ke film horor.
Jamur cordyceps membajak sistem saraf korbannya dan mengubah mereka jadi ‘zombie’, sebelum memaksa mereka memanjat tanaman dan mengunci rahang di bagian bawah daun.
Lalu tangkai tumbuh dari kepala mereka, meledak terbuka, menyebarkan spora ke semut-semut tak curiga di lantai hutan di bawahnya.
Kalau disuruh pilih sih, kita rasa kebanyakan semut bakal milih cacing pita.
Penelitian baru ini diterbitkan di jurnal BMC Genomics.
Artikel ini sudah dicek faktanya oleh Rachel Garner dan disunting oleh Rebecca Dyer. Meski kami bangga dengan proses kami, kami tetap manusia biasa. Kalau kamu menemukan kesalahan, tolong beri tahu kami.
(KoranPost)
Sumber: www.sciencealert.com
https://www.sciencealert.com/a-wild-parasite-makes-ants-live-longer-and-tricks-others-into-worshipping-them-scientists-finally-know-how















