Kamu mungkin nggak pernah mikirin darah yang mengalir di pembuluh darahmu setiap hari.
Sama kayak sinyal saraf di otak atau napas yang kamu hirup, darah itu selalu ada di “latar belakang” tubuhmu, bekerja diam-diam buat menjaga kamu tetap hidup.
Tapi bagi para ilmuwan, cairan merah yang berdenyut bersama detak jantungmu ini—yang bertugas mengirimkan oksigen ke seluruh sel tubuh—adalah misteri yang luar biasa.
Hampir semua hewan di planet ini punya darah… tapi sebenarnya dari mana asalnya?
Sekarang, tim internasional dari Kyoto University, Jepang, berhasil menelusuri sejarah evolusi sel darah hingga 700 juta tahun ke belakang. Hasilnya? Ternyata sel darah nggak tercipta dari nol setelah kehidupan multiseluler muncul.
Sebaliknya, darah ternyata “dirakit” dari mesin genetik daur ulang yang diwariskan dari nenek moyang bersel tunggal, yang sudah hidup ratusan juta tahun sebelum hewan pertama muncul.
“Saya sangat tersentuh dengan temuan ini. Ini adalah puncak dari penelitian kami yang menunjukkan bahwa jalur diferensiasi sel darah vertebrata mencerminkan sejarah evolusi selama 700 juta tahun,” kata imunolog Hiroshi Kawamoto dari Kyoto University, pemimpin penelitian ini.
Dibandingkan dengan aspek evolusi lain, melacak asal-usul darah itu susah banget. Tulang, sisik, bulu, dan cangkang bisa jadi fosil. Tapi sel? Biasanya tidak.
Jadi, untuk tahu dari mana asalnya, ilmuwan harus pakai pendekatan tidak langsung.
Unit dasar yang dipakai peneliti adalah transkriptom—semacam “snapshot” atau rekaman gen mana saja yang aktif di suatu sel.
Mereka mengumpulkan data transkriptom dari berbagai makhluk, mulai dari manusia, tikus, ikan zebra, tunikata, bulu babi, lalat, cacing, spons, sampai organisme bersel tunggal.
Lalu, mereka mencari pola yang sama. Logikanya, kalau dua tipe sel yang sangat jauh kekerabatannya punya mekanisme genetik yang mirip banget, kemungkinan besar mereka berasal dari “program” sel nenek moyang yang sama.

Meskipun dua organisme bisa saja berevolusi dengan sifat serupa secara terpisah, kemungkinannya jadi kecil banget kalau kesamaan tersebut sifatnya sangat dalam, luas, dan kompleks.
Hasil analisis menunjukkan bahwa sel darah pertama mungkin nggak secanggih sel darah kita sekarang yang jago banget bawa oksigen.
Dulu, sel darah lebih mirip amoeba—seperti makrofag, yaitu sel darah putih yang jadi “pasukan tempur” sistem kekebalanmu. Mereka adalah pembersih keliling yang bisa menelan dan mencerna mikroba asing.
Tapi mereka juga nggak muncul begitu saja.
Saat peneliti membandingkan aktivitas genetik sel darah dengan organisme bersel tunggal modern, mereka menemukan kemiripan yang mencolok.
Beberapa organisme bersel tunggal punya program genetik yang mirip banget dengan makrofag, termasuk kemampuan fagositosis—proses menelan dan mengonsumsi partikel.
Untuk membuktikannya, peneliti fokus ke gen bernama Fos yang ditemukan di sel darah hewan dan organisme bersel tunggal.
Gen ini membantu mengatur pertumbuhan sel. Keterlibatannya di organisme yang jauh berbeda menjadikannya tersangka utama.

Saat mereka mencoba mengaktifkan gen Fos pada organisme bersel tunggal, sel-sel tersebut nggak lagi berkelompok, melainkan tetap dalam kondisi terisolasi mirip amoeba.
Artinya, mesin genetik untuk perilaku mirip makrofag sudah muncul di organisme bersel tunggal ratusan juta tahun sebelum hewan dan eukariota bersel tunggal berpisah dari nenek moyang yang sama.
Dari sini, peneliti berpikir sel darah terbagi jadi dua cabang evolusi utama.
Dari sel darah nenek moyang yang mirip makrofag, muncul garis keturunan kedua: nenek moyang sel mast, yaitu sel imun yang bertindak sebagai “alarm” kalau ada penyusup.
Baca juga: Ilmuwan Identifikasi Golongan Darah Baru Setelah Misteri 50 Tahun
Sel mast inilah yang nantinya melahirkan sel T, sel darah merah, dan trombosit. Sementara itu, makrofag terus berevolusi menghasilkan sel B yang membuat antibodi.
Temuan ini bisa membantu kita memahami evolusi penyakit seperti kanker, sekaligus menunjukkan warisan kuno dari awal mula kehidupan kita yang sangat sederhana.
“Pas saya sadar bahwa warisan dari masa lalu ini mengalir di tubuh saya sebagai sel darah, saya merasa lebih dekat dengan nenek moyang kita yang sangat jauh,” kata imunolog dan penulis utama Yosuke Nagahata dari Institute of Evolutionary Biology di Spanyol.
Penelitian ini telah diterbitkan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.
(KoranPost)
Sumber: www.sciencealert.com
https://www.sciencealert.com/your-blood-may-contain-an-evolutionary-relic-older-than-animals-themselves















