Jamur Ini Bisa Bertahan di Kondisi Luar Angkasa dan Berpotensi Ikut ke Mars

April 23, 2026

3 menit teks
p>Misi berikutnya ke Mars mungkin membawa penumpang gelap.

Menurut studi baru tentang organisme yang ditemukan hidup di ruang bersih NASA bahkan setelah dekontaminasi, sebuah jamur bernama Aspergillus calidoustus kemungkinan cukup tangguh untuk bertahan dari radiasi, kondisi mendekati vakum, dan suhu ekstrem di luar angkasa.

“Ini bukan berarti kontaminasi Mars pasti terjadi, tapi ini membantu kita lebih memahami potensi risiko kelangsungan hidup mikroba,” ujar mikrobiolog Kasthuri Venkateswaran dari Jet Propulsion Laboratory NASA. “Mikroorganisme bisa punya daya tahan luar biasa terhadap tekanan lingkungan.”

Saat kita mengirim wahana antariksa untuk menjelajahi Tata Surya, mereka bisa membawa makhluk hidup yang tidak diinginkan.

Meski prosedur dekontaminasi meminimalkan jumlah spora mikroba yang ikut serta, praktik terbaik sekalipun belum bisa menghilangkan masalah sepenuhnya. Menurut pedoman saat ini, seharusnya tidak lebih dari 300 spora per meter persegi pada wahana antariksa yang ditujukan ke Mars.

Kita mengira makhluk yang berevolusi selama miliaran tahun di lingkungan Bumi tidak mungkin bertahan dalam perjalanan luar angkasa di luar rokok. Tapi spesies yang cukup tangguh untuk bertahan dari dekontaminasi di dalam wahana antariksa mungkin juga termasuk yang paling mampu bertahan dalam perjalanan melalui luar angkasa.

Sebagian besar penelitian di bidang ini berfokus pada bakteri, yang menghasilkan spora berfungsi seperti sekoci atau kapsul survival saat kondisi menjadi sulit. Sebaliknya, kurang perhatian diberikan pada jamur dalam penelitian perlindungan planet, meski beberapa di antaranya telah menunjukkan daya tahan di kondisi ekstrem.

Menurut Pasal IX Perjanjian Luar Angkasa PBB tahun 1967, setiap eksplorasi luar angkasa harus mengambil langkah untuk menghindari kontaminasi berbahaya terhadap dunia lain. Artinya, kita perlu tahu kontaminan potensial apa yang mungkin ikut serta melintasi Tata Surya dan menetap di planet atau bulan lain.

Venkateswaran dan rekan-rekannya mengambil sampel dari ruang bersih NASA yang digunakan dalam program Mars 2020 untuk lebih memahami potensi ancaman jamur. Secara spesifik, mereka ingin mengidentifikasi spora jamur, yang disebut konidia, untuk melihat apakah ada yang bisa bertahan dalam simulasi kondisi perjalanan luar angkasa.

Bahkan ruang bersih yang telah didekontaminasi masih menghasilkan 27 strain jamur.

Selanjutnya, para peneliti menumbuhkan jamur-jamur ini, memanen konidianya, dan mengujinya dengan serangkaian tes.

Tes tersebut termasuk iradiasi ultraviolet intensitas tinggi, jauh lebih kuat dari yang pernah dialami secara alami di Bumi; tekanan sangat rendah sesuai kondisi Mars; dingin ekstrem hingga -60 derajat Celsius (-76 Fahrenheit), mirip suhu rendah di Mars; debu mirip Mars; dan paparan radiasi mirip dosis radiasi kosmik selama perjalanan ke Mars.

Dari 27 strain awal, 23 berhasil bertahan dari iradiasi UV. Namun, satu spesies, A. calidoustus, menjadi survivor paling menonjol. Konidianya berhasil bertahan dari radiasi UV, paparan radiasi pengion selama berbulan-bulan mirip luar angkasa, dan kondisi atmosfer mirip Mars.

Satu-satunya yang bisa membunuh jamur ini secara konsisten adalah paparan kombinasi radiasi tinggi mirip Mars dan dingin ekstrem dalam waktu lama.

“Kemampuan konidia jamur untuk bertahan dalam berbagai kondisi relevan luar angkasa menunjukkan potensinya sebagai kontaminan forward, yang mampu diangkut ke dan bertahan di Mars,” tulis para peneliti dalam makalah mereka.

Hasil ini bukan berarti kita harus langsung panik soal spora jamur yang mungkin mengkontaminasi Mars. Tapi ini menunjukkan bahwa jamur mewakili celah kritis yang terabaikan dalam strategi kontaminasi antarplanet saat ini, terutama saat umat manusia berdiri di ambang era baru eksplorasi luar angkasa dengan program Artemis.

Terkait: Jamur Chernobyl Tampaknya Telah Berevolusi dengan Kemampuan Luar Biasa

Spesies Aspergillus juga dikaitkan dengan masalah kesehatan, terutama kondisi pernapasan seperti aspergillosis. Artinya, menemukan cara untuk meminimalkan keberadaannya di wahana antariksa bisa membantu memastikan kesehatan dan keselamatan astronot dalam misi jangka panjang.

“Bersama-sama, penelitian ini membantu menyempurnakan strategi perlindungan planet NASA dan pendekatan penilaian risiko mikroba untuk misi eksplorasi luar angkasa saat ini dan masa depan,” kata Venkateswaran.

Penelitian ini telah dipublikasikan di jurnal Applied and Environmental Microbiology.

(KoranPost)

Sumber: www.sciencealert.com
https://www.sciencealert.com/this-fungus-can-survive-deep-space-conditions-and-could-hitch-a-ride-to-mars

Share this post

April 23, 2026

Copy Title and Content
Content has been copied.

Teruskan membaca

Berikutnya

Kunci Rumah Tangga Harmonis: Akhlak Mulia & Ketaatan Agama

<div id=”detail-content”> <p>Situbondo,<em><strong> NU Online</strong></em><br/> Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Afifuddin Muhajir menjelaskan pentingnya mempertimbangkan aspek ketaatan terhadap agama dan akhlak

KoranPost

Administrator WhatsApp

Salam 👋 Apakah ada yang bisa kami bantu?