Klaim Kebangkitan Hutan Yellowstone Berkat Serigala Terlalu Dibesar-Besarkan, Begini Kritik Para Ilmuwan

June 21, 2026

4 menit teks

Di banyak sekolah, guru biologi sering memperkenalkan konsep ‘kaskade trofik‘ lewat satu contoh legendaris: Taman Nasional Yellowstone di Amerika Serikat.

Ceritanya dimulai dari hilangnya serigala, dan berakhir dengan runtuhnya hutan.

Mengembalikan serigala ke ekosistem ini selama ini dipuji sebagai kisah sukses restorasi alam yang luar biasa.

Tapi, sederet ahli biologi dan geografi kini angkat bicara: klaim itu mungkin terlalu berlebihan.

Yuk, kita mundur sebentar ke awal cerita.

Pada tahun 1920-an, serigala abu-abu (Canis lupus) dibasmi habis dari Yellowstone lewat program perburuan pemerintah. Salah satu mangsa utama mereka adalah rusa elk (Cervus canadensis), hewan pemakan tumbuhan yang suka menggigit tunas pohon aspen dan menginjak-injak tanah dengan kukunya.

Saat predator alami seperti serigala masih ada, populasi elk terkendali. Begitu predator lenyap, jumlah elk melonjak drastis. Akibatnya, mereka merumput berlebihan, terutama menyerbu pohon-pohon aspen muda.

Bentang alam khas Yellowstone yang tadinya dihiasi pohon aspen (Populus tremuloides) perlahan memudar. Pohon-pohon dewasa menua dan mati, tapi tak ada pohon muda yang tumbuh menggantikan. Lanskap pun berubah total.

Spesies yang bergantung pada pohon aspen dewasa—seperti berang-berang dan burung bersarang di lubang pohon—tiba-tiba kehilangan rumah. Tanpa serigala, ekosistem benar-benar berantakan.

Foto dari tahun 1933 menunjukkan pepohonan aspen Yellowstone yang gundul digerogoti elk. (National Park Service, 1935)

Setelah puluhan tahun kampanye, akhirnya sekelompok serigala abu-abu dari Taman Nasional Jasper di Kanada dilepasliarkan ke Yellowstone pada 1995. Harapannya, mereka bisa mengembalikan kejayaan hutan yang dulu.

Pada Juli 2025, tim ilmuwan yang dipimpin ekolog Oregon State University, Luke Painter, mengumumkan bahwa kehadiran kembali serigala memicu kaskade trofik yang sangat kuat—jauh lebih kuat dibanding skenario serupa di ekosistem lain.

Riset ini berdasar pada pengukuran sejumlah area pohon aspen dan tinggi mereka, dengan asumsi bahwa pohon yang sudah melampaui tinggi tertentu relatif aman dari injakan dan gigitan elk, setidaknya untuk bertahan hidup.

Nah, sekarang sekelompok ilmuwan lain yang dipimpin ekolog satwa liar Daniel MacNulty dari Utah State University mempertanyakan hasil tersebut. Bantahan mereka diterbitkan di jurnal yang sama dengan studi Painter dan tim, yaitu Forest Ecology and Management.

Foto lanskap dengan pohon-pohon muda yang pendek dan beberapa pohon dewasa yang menjulang, seorang wanita bertopi berdiri lebih pendek dari semak-semak, langit biru berawan
Pohon aspen dewasa dengan tajuk tinggi dulu pemandangan lumrah di Yellowstone, sebelum serigala punah. (Oregon State University)

Mereka awalnya melontarkan kritik lewat surat ke editor jurnal lain pada November 2025, dan kini menyajikan satu makalah lengkap.

“Painter dkk. mengklaim bahwa pemulihan karnivora besar di Yellowstone menghasilkan kaskade trofik yang kuat—mencatat peningkatan 152 kali lipat pada kerapatan tunas aspen dan perekrutan pohon baru secara luas,” tulis MacNulty dan tim dalam makalahnya.

“Kami menunjukkan bahwa kesimpulan ini terlalu melebih-lebihkan kekuatan kaskade, akibat sejumlah kelemahan metodologis dan interpretasi.”

Kritik begini memang kadang sulit diterima, tapi sebenarnya ini pertanda bagus bahwa sains bekerja dengan sehat—diskusi saling mengoreksi justru membantu kita makin paham.

Dua serigala abu-abu di salju sedang memakan bangkai rusa elk yang tulang rusuknya terlihat, dikelilingi gagak dan burung lain
Dua serigala abu-abu berdiri di atas sisa bangkai elk jantan di Taman Nasional Yellowstone. (Jared Lloyd/Getty Images)

MacNulty dan tim menunjukkan bahwa baseline kerapatan pohon dalam data Painter dkk. ternyata salah hitung. Artinya, kenaikan kerapatan tunas aspen yang dilaporkan sebesar 152 kali lipat (diamati antara 1998 dan 2021) sebenarnya lebih mendekati 17,5 kali lipat.

Masalah lain muncul dalam analisis data. Misalnya, pengukuran dari area pohon yang sama diperlakukan seolah sebagai sampel independen, sehingga efeknya terlihat jauh lebih besar. Selain itu, pemakaian metrik berbasis rata-rata membuat sebagian kecil plot memengaruhi hasil secara tidak proporsional.

Kehadiran satu atau dua batang pohon tinggi dalam satu plot juga tidak serta-merta bisa diartikan sebagai bukti regenerasi hutan secara luas, sebagaimana yang dilaporkan sebelumnya.

“Terakhir, asumsi mereka bahwa batang pohon setinggi dua meter sudah aman dari perumputan dan bahwa berkurangnya perumputan mendorong pertumbuhan tinggi—itu juga bertentangan dengan data jangka panjang” yang menunjukkan perumputan besar masih terjadi di atas tinggi tersebut, tulis MacNulty dan tim dalam publikasi.

Berlangganan newsletter ScienceAlert

Mereka juga menekankan bahwa kritik ini bukan untuk meremehkan pentingnya predator besar di ekosistem. Justru, ini menyoroti pentingnya ketelitian ilmiah saat mempelajari sistem serumit alam liar.

“Efek predator di Yellowstone memang nyata, tapi sangat bergantung konteks—dan klaim yang kuat harus didukung bukti yang kuat pula,” ujar MacNulty dalam siaran pers sebelumnya.

Tidak diragukan lagi, kembalinya serigala berdampak pada pemulihan hutan Yellowstone. Hanya saja, efeknya tidak sekuat yang dilaporkan oleh tim Painter (dan yang sebelumnya kita laporkan juga).

“Bukti tetap mendukung terjadinya kaskade trofik di Yellowstone, tapi bukan pada kekuatan sebesar yang diklaim,” simpul MacNulty dan tim dalam korespondensi terbaru mereka.

“Asesmen yang akurat tentang kekuatan kaskade trofik di Yellowstone sangat penting, supaya contoh ikonik ini bisa terus jadi acuan tepercaya dalam pemahaman ekologi dan praktik restorasi.”

Artikel terkait: Ada Satu Super Predator di Afrika yang Lebih Ditakuti Daripada Singa

Tanggapan MacNulty dan tim di tahun 2026 terhadap studi tahun 2025 telah terbit di Forest Ecology and Management. Surat ke editor mereka pada 2025 juga sudah diterbitkan di Global Ecology and Conservation.

(KoranPost)

Sumber: www.sciencealert.com
https://www.sciencealert.com/yellowstone-wolves-forest-revival-was-overstated-scientists-say

Share this post

June 21, 2026

Copy Title and Content
Content has been copied.

Teruskan membaca

Berikutnya

KoranPost

Administrator WhatsApp

Salam 👋 Apakah ada yang bisa kami bantu?